Bab 5

35 28 4
                                    

"Apa maksud lo? Hah? Gue sedang kencan dengan orang yang gue suka dan lo ngerusak semuanya. Dan sekarang dia pergi ninggalin gue. Lo puas buat gue sengsara? Hah? Apa gak cukup soal pesan tadi, hah?" Bentak serta protes Kyla kepada Alvin. Sedangkan pemuda itu, yang di marahi bukannya fokus dengan perkataan gadis itu. Ia malah fokus dengan penampilan yang dikenakan oleh Kyla malam ini.

 Ia malah fokus dengan penampilan yang dikenakan oleh Kyla malam ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Beli baju baru?" Tanya Alvin kemudian.

"Bukan urusan lo." Dan berusaha pergi dari sana namun segera ditahan oleh Alvin. "Jangan coba-coba pegang gue. Dan jangan pernah muncul lagi dihadapan gue. Karena apa? Karena lo udah buat harga diri gue jatuh di depan Zen. Asal lo tau, beberapa menit lalu gue bilang gue gak punya pacar. Tapi beberapa menit kemudian lo muncul dan mengaku sebagai calon suami. Gila! Semua hancur berantakan. Puas lo? Hah?!"

"Tapi kan bener, lo gak punya pacar setelah lo mutusin tadi. Dan sekarang lo punyanya calon suami. Ya gue," narsis Alvin yang langsung ditinggal Kyla.

Dalam perjalanan pulang, Kyla memilih untuk berjalan kaki karena jaraknya yang cukup dekat. Disamping itu, dia juga ingin mereleksan pikiran yang menghantuinya. Dia merasa menyesal telah bertemu dengan Alvin dan merasa malu untuk bertemu dengan Zen kembali. Malam yang tenang pun tiba-tiba menurunkan hujan ketika gadis itu berjongkok merasa sedih. Bersamaan air hujan yang turun, beberapa air matapun juga ikut membasahi pipi gadis itu.

Cukup sebentar hingga ia merasa air hujan tak lagi menghujaninya. Iapun mendongak dan seorang pemuda berada di depannya tengah meneduhi Kyla dengan payung yang baru saja ia beli

"Zen," lirih Kyla.

"Tidak usah dijelaskan, aku sudah tau semua. Aku mendengar semuanya," kata Zen mencoba menenangkan Kyla. "Kalau begitu, maukah kamu menjadi pacarku?" Tanya Zen dimalam sunyi dengan gerimis yang menemani.

"Ya."

Setelah malam itu, Zen yang sudah resmi menjadi pacar Kyla selalu mengantar jemput gadis itu. Sedangkan Alvin? Dia masih saja mengganggu gadis itu untuk mau diajak kerja sama kembali. Namun Kyla selalu menolaknya mentah-mentah.

Sudah 2 minggu Alvin tidak muncul lagi dan mengganggu Kyla. Saat itulah Kyla merasa bahagia terbebas dari om-om pedofil.

"Cih, gak ada permainan lagi," gumam Zen yang berada di samping Kyla.

"Hah?"

"Eee enggak kok," jawab Zen gelagapan. "Oiya Ky, nanti aku gak bisa nganterin kamu pulang. Ada acara Osis soalnya."

"Iya santai aja."

***

"Kok gue ngerasa Zen berubah ya?"

Disisi lain, di sebuah perusahaan yang berada di lantai paling atas. Terdapat sepasang manusia yang tengah berduaan. Dia adalah Alvin dan Sherly. Sherly tiba ketika dia tahu Alvin dan Kyla sudah tidak bersama. Terlalu senangnya ia langsung datang menemui Alvin tiap hari yang biasanya hanya seminggu 3 kali. Bersama Sherly bukannya dapat melupakan Kyla. Justru membuat pemuda itu teringat tingkah konyol gadis kecil itu dan membandingkannya dengan Sherly. Teman seumurannya.

Flashback on

"Om... eee maksudnya pacarku, pacarmu ini haus lho," kata seorang gadis kecil yang tengah tiduran di sofa panjang yang berada di kantor Alvin.

"Terus?"

"Gak peka banget. Kalau om beneran pacar gue udah gue putusin," gerutu Kyla sambil mengerucurkan bibir yang dapat membuat Alvin tersenyum melihat tingkat lucu gadis itu.

"Ingat ya om, kalau pacarnya kode kek gitu om tuh harus peka. Ambilin minum kek atau pesenin, bukan malah gue ambil minum sendiri," jelasnya.

"Tapi di peraturan yang harus peka kan lo, bukan gue," balas Alvin memcoba serius dengan laptopnya yang walaupun sebenarnya ia melihat tingkat gadis itu.

"Perlu disunat lagi nih orang," gumam Kyla pelan menahan amarah. "Ya, anggap saja tadi pelajaran buat om di masa mendatang bila dapat pacar beneran."

"Lo mau gak?" Goda Alvin yang udah berdiri dan mendekat Kyla.

"Apa? Gue? Gak, ogah lebih tepatnya."

"Kenapa? Gue kan ganteng, kaya, muda, perfect."

"Dimataku itu playboy, om-om pedofil, dikit-dikit jaga image aduhhh nanti om ribet hidupku. Gak bisa makan inilah, makan itulah. Harus diatur ini diatur itu. Gak bebas. Ogah," jelas Kyla.

"Jadi gak mau nih sama gue?" Goda Alvin yang lama-lama langkahnya mulai menyudutkan Kyla.

"Apa-apaan sih om deket-deket. Bukan muhrim gak boleh pegang."

"Siapa juga yang pegang?" tanya Alvin sambil menjulurkan lidah dan mengambil minuman dari tangan Kyla.

"Disini itu gak ada yang gratis, jadi nona Kyla kalau mau minum disini harus membayar."

"Astaga sama pacarnya aja kek gitu. Gak butuh, bye," kata Kyla dan pergi dari kantor Alvin tak lupa menutup pintu dengan keras.

Flashback Of

"Sepertinya gue jatuh cinta sama tuh anak, 2 minggu dia mulu yang gue pikir," gumam Alvin sambil memijit kepalanya sendiri.

"Pusing Al? Gue pijitin ya," tawar Sherly yang mengagetkan Alvin yang baru saja melamun.

"Ah gak usah Sher, gue ada urusan. Gue pergi dulu ya."

***

CEKREK

Tercetaklah dengan jelas seorang gadis pendek yang sedang mencoba memasukan bola basket di ring

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tercetaklah dengan jelas seorang gadis pendek yang sedang mencoba memasukan bola basket di ring. Sebuah kemustahilan yang terjadi dan itu benar dia tidak dapat memasukkan bola basket di ring setelah mencoba berkali-kali dan itu dapat membuat pemuda yang baru saja memfotonya terkekeh.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 01, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Tentang Sebuah KisahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang