Kepercayaan itu seperti gelas kaca jika sudah pecah tidak bisa kembali utuh lagi.
-Aleisha Minda Gara-Ta terasa bell pulang pun telah berbunyi, Ei berencana pulang sekolah pergi ke suatu tempat untuk bertemu seseorang yang bisa membantunya. Tapi saat ia menuju parkiran untuk mengambil mobil nya, suara seseorang mengintrupsi dirinya untuk berbalik.
"Ei, hari ini kamu pulang yah. Bunda udah nunggu kamu." Kenapa hidup nya selalu di gangu oleh dia sihh.
"Lo, mau nya apa sihh hah!""Gak usah so akrab sama gue, mau gue pulang 'kek , atau engga pun itu bukan urusan lo!"kata Aleisha sambil berbalik menatap tajam manik mata lelaki di hadapnnya itu.
"Ei, kamu udah 1 minggu gak pulang, kamu juga gak jawab telopon bunda kamu. Bunda khawatir, seengganya jawab pesan dia jangan buat orang yang udah ngelahirin kamu nangis gara-gara kelakuan kamu"
"Bunda sakit. Beliau anemia sekarang di rawat di rumah sakit, kamu juga gak tau tentang itu kan Ei?" Entah mengapa ucapan lanjutan Geral membuat dia khawatir dengan keadaan sangbunda, Karena bagaimapun Ei benci sang bunda, ia masih punya rasa sayang terhadapnya.
"Gak papa masih ada anaknya yang satu lagi kan?, sama cowo br*ngs*k itu, biar mereka yang ngurusin." ucap Ei sambil menahan rasa penasaran bagaimana keadaan bundanya itu.
"Kamu lucu yah Ei, kamu sebenarnya peduli sama bunda cuman kamu pura-pura gak peduli iyah kan?"
"Mending sekarang kita ke rumah sakit aja, bunda juga pasti udah kangen banget sama kamu Ei, sekali ini aja kamu jangan turuti ego kamu itu"
"Heh mari regal, jangan so tau siapa juga yang peduli? gue gak peduli, lagian di sana pun gue gak di butuhkan"
"dan gue kasih tau sama lo, lain kali kalau bunda nyuruh lo buat ngebujuk gue ketemu sama dia, jangan mau buang-buang waktu aja tau gak."
"Ei kamu kenapa sih selalu aja egois?, Kali ini aja yah kamu ketemu bunda, dia bener-bener ingin ketemu kamu!" Entah mengapa saat melihat wajah Geral memohon, Ei sedikit ta enak untuk menolak, dan sebenarnya juga ia ingin mengetahui keadaan sang bunda.
"Oke kali ini aja gue turutin permintaan lo itu, dimana rumah sakit nya?"
"Alhamdulillah, dari tadi kali Ei. Kamu bawa mobil kan?"
"Karena kita gak mungkin 1 mobil berdua jadi aku naik motor aja yah, nanti kamu ikutin aja motor aku" ucap Geral dengan wajah senangnya, seperti menemukan jarum di dalam jerami. Saat itu Ei menatap senyum Geral yang entah mengapa membuat dadanya bergetar. Tapi segera ia tepis perasaan yang hinggap di dadanya itu.
🌼🌼🌼
Bau obat obatan tercium menyengat, orang- orang berlalu lalang mengantri antrian untuk periksa atau mengambil resep dokter. Emang benar kata orang bahwa sehat itu mahal, bukti nya yang sedang sakit harus membayar biaya agar sehat kembali, menjaga kesehatan tubuh itu sangalah penting. Dan jika pun sakit itu adalah suatu pengugur dosa kita.
"Dan tidaklah seorang muslim yang tertimpa musibah (sakit) melainkan Allah akan mengahapus kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan dedaunnannya" HR. Bukhari:5228Sekarang Ei dan Geral baru tiba di Rumah Sakit Mitra Kasih, mereka baru saja memakirkan kendaraan masing-masing. Geral memimpin jalan untuk menuju ke kamar inap, disusul Ei jalan di belakangnya, dengan mimik muka cemas karena takut bundanya kenapa-kenapa. Setelah beberapa kali melewati lorong akhirnya mereka pun sampai di kamar inap yang bertulis kamar lavender.
"Ei ayo masuk, ngapain ngelamun gitu?" Tanya Geral, saat menyadari Ei masih berdiri bebepa meter di belakanganya.
"Ahh, iyahh bentar. Gak sabaran banget sih lo" jawab Ei dengan muka judesnya. Geral hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Ei yang menurutnya sangat lucu itu. Ia segera tersadar dan mengucapkan istigfar karena sudah melakukan zinah mata dan hati.
Geral pun membuka kamar tersebut, mereka melihat sang bunda sedang terbaring dengan mata terbuka bersama satu wanita cantik disamping sang bunda yang umurnya sekitaran 20 an, dan satu laki-laki tua yang seumuran dengan bundanya, sedang tertawa, tapi saat Geral dan Ei datang mereka langsung berhenti dan keadaan menjadi hening.
"Assalmmu'alaikum bunda, ka, om. Liat Geral bawa siapa?" Geral orang yang pertama berbicara saat keadaan hening beberapa detik.
"Wa'alaikummusllam" jawab mereka serempak.
"Ei, bunda kangen banget sama kamu, kenapa kamu gak pulang hah?, kenapa kamu suka banget kabur dari rumah?"tanya bundanya kaget melihat anak bungsunya datang setelah 1 minggu ta bertemu.
"Ngapain lo kesini? Belum puas liat bunda kesiksa gara-gara sikap barbar lo itu?, lo bener-bener gak tau di untung tau gak?, apa bunda pernah ngajarin sikap jelek lo itu hah?, lo hidup cuman nyusahin orang ajaa!"ucap wanita cantik itu sambil menatap wajah Ei dengan deru napas yang cepat.
"Bunda udah sehat kan?, kalau gitu aku pergi dulu, lagian udah ada anak kesayangan bunda ini yang jagain, ouh yah sama laki-laki yang jadi bodygratnya bunda, setia banget kayanya om, sampe rela nyempetin gak kerja demi neminin bunda saya"
"Ouh yah ka, kalau ngomong harus di filter dulu. Lo gak nyadar emang, lo juga selalu nyusahin bunda sama barang-barang yang lo mau ituu, lo selalu bilang gue yang nyusahin bunda, gak nyadar diri selama ini siapa yang selalu nyusahin, gue atau lo!" ucap Ei sambi bergegas pergi dari tempat itu dia sudah ta sanggup mendengar ucapan wanita yang menyandang status kakanya itu, dan ia bener muak meliat laki-laki yang so polos itu ada di dekat bundanya.Tapi saat akan menarik pintu, tangan nya di tarik oleh seseorang.
PLAK
"Jaga ucapan lo itu, anak pembawa sial"••••••••••
Assalammu'alaikum..😊
Alhamdulilah bisa update lagii
Walau aku tau ceritaku ini kurang menarik tapi aku berusaha buat cerita ku semenarik mungkin. Aku buat cerita ini bukan untuk mendapatkan Readers aja, tapi mendapatkan suatu pengalaman di dunia menulis aku yang masih sangat amatiran ini, aku gatau kalian ada yang baca ini atau engga tapi, aku harap kalian suka sama ceritaku ini😊Bandung, 28 Maret 2020💨

KAMU SEDANG MEMBACA
Aleisha
Spiritual"Gue benci sama lo Ral! Gue benci Bunda! Gue benci takdir ini! Gue benci kalian semua!, Kenapa harus gue yang menerima semua beban ini? Kenapa Tuhan ngasih cobaan seberat ini? Kenapa hah! Kenapa?!" "Maaffin aku Ei, aku gak bermaksud buat kamu kaya...