Sambil berdoa, Mei Hwa membuka pintu belakang rumahnya. Ia berhenti sejenak, mengamati situasi teras rumah Ayek yang berada persis di belakang rumahnya, hanya berjarak lima langkah kaki. Objek pengamatan dalam keadaan lengang.
Sementara hujan masih turun, tidak terlalu deras, tapi awet. Sejak subuh, matahari belum terlihat, masih tertutup awan tebal. Cuaca mendung justru membuat hati Mei Hwa cerah. Ia berharap langit terus mengguyurkan air hujan sampai siang nanti.
Mei Hwa akan ke rumah Ayek. Dua rencana telah ia siapkan. Plan A, ia akan berlagak bodoh, sengaja menggunakan payung yang akan ia kembalikan untuk menyeberang ke rumah itu. Dengan alasan masih hujan, ia akan meneduh beberapa saat di sana. Ia berharap Ayek ada di rumah. Jika lelaki itu tidak ada di rumah, ia akan menggunakan Plan B, yaitu segera pamit. Ia yakin Zaenab akan kembali meminjaminya payung. Jika itu terjadi, ia masih punya alasan untuk kembali ke rumah itu lagi nanti.
Sebenarnya Mei Hwa merasa malu, dua hari baru akan mengembalikan payung itu. Ia khawatir dianggap menyepelekan pinjaman. Memang, ia yakin Zaenab tidak akan mempermasalahkannya, tapi ia merasa tidak enak. Kesannya ndableg, begitu yang ada di pikirannya.
Mei Hwa bisa saja menjelaskan alasannya secara panjang lebar, menceritakan kronologinya, mulai dari kesibukannya membantu Babah di toko, sampai tentang ia lupa di mana meletakkan payung tersebut.
Kemarin, sebenarnya Mei Hwa punya kesempatan untuk mengembalikan payung. Sayang pada saat itu di rumah Ayek ada tamu. Itu akan membuatnya tak bisa berlama-lama di sana, sehingga ia menundanya. Padahal payung adalah alasan paling tepat baginya untuk dapat bertemu lagi dengan Ayek.
Plan A sepertinya akan berjalan sesuai harapan Mei Hwa. Ayek baru saja duduk di teras. Lelaki itu memandang ke arahnya, membuatnya sedikit salah tingkah.
Dada Mei Hwa berdebar, ketika Ayek melambaikan tangan. Ia merasa malu, sekaligus merasa senang. Tidak mau membuang banyak waktu, ia menutup pintu rumah, memekarkan payung, dan perlahan berjalan menuju rumah Ayek.
Tak butuh waktu lama, Mei Hwa sampai di teras rumah Ayek.
"Assalamu alaikum," ucap Mei Hwa. Ia meletakkan payung di tepi teras.
"Wa alaikum salam," jawab Ayek. "Mau ketemu Ummi?"
Mei Hwa menggeleng, "iya."
Ayek terkekeh. "Iya kok menggeleng."
Mei Hwa tersenyum kecut. Belum apa-apa ia sudah salah tingkah.
"Duduklah, Mei!"
Mei Hwa menggunakan jurus yang telah disiapkan. "Aku cuman sebentar kok, mau mengembalikan payung yang kemaren. Maaf, payungnya basah."
"Nggak apa-apa, Mei. Namanya juga payung." Ayek terkekeh. "Beneran nih nggak mau duduk? Kalau mau ketemu Ummi, beliau lagi ke pasar."
"Oh, ke pasar ya?" Mei Hwa pura-pura bingung. Ia masih mematung, menunggu Ayek kembali menawarinya duduk."
"Masih hujan, duduk aja dulu, sambil menunggu Ummi."
Yess! Mei Hwa bersorak dalam hati. Ia menduduki kursi, bersebelahan dengan Ayek.
"Anggap saja rumah sendiri, Mei," canda Ayek."Di dalam ada sapu sama lap pel."
Mei Hwa terkekeh. "Jadi karena sudah menganggap rumah sendiri, aku harus nyapu sama ngepel, begitu?"
"Cerdas!"
Mei Hwa tertawa. "Termasuk masak juga?"
"Iya dong!"
Ayek dan Mei Hwa tertawa bersama. Selepasnya suasana menjadi hening. Masing-masing sibuk dengan pikirannya.
Hujan masih deras, belum ada tanda-tanda akan reda. Bunyi berisik atap seng yang dihujami tetesan-tetesan dari langit semakin menenggelamkan suasana kaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nada-Nada Asmara
Romance#Daily Update #Cover design by Dee14007 Ayek terkesan atas perkenalannya dengan Mei Hwa. Ia bersemangat mengenal gadis itu lebih dalam. Karena sama-sama menggemari musik, ia mengajak gadis itu untuk kolaborasi agar terus berhubungan. Gadis keturunan...
