Soulmate Sepengupilan

100 24 59
                                        

Tok tok

Suara ketukan pintu terdengar samar-samar di telinga Ayek. Rasa kantuknya mendadak buyar. Telinga ia siagakan, berjaga kalau-kalau ada ketukan untuk kedua kali.

Tok tok

Ayek siaga dua. Ia buru-buru bangun sebelum ketukan yang ketiga berbunyi.

Tok tok

Terlambat. Ayek beringsut, segera menuju pintu kamar. Agak sempoyongan ia berusaha secepat mungkin meraih knop pintu. Adrenalinnya terpacu, membuat rasa kantuknya benar-benar hilang.

Tok tok

Gawat! batin Ayek. Sambil memutar knop pintu, ia  menyahut, "Iya, Um ...."

"AYEEKK!"

Spontan, Ayek menutup kedua telinga menggunakan tangannya. Suara itu cukup menggelegar. Ia mendengus karena sahutannya terpotong dan kalah keras dari teriakan ibunya.

Dengan malas ia membuka pintu. Wajah ibunya tersembul. "Ada apa, Ummi?"

"Ada Debt Collector!" jawab Zaenab sekenanya, sambil berlalu.

Badan Ayek limbung, menyandar pintu. Ia tahu, ibunya hanya bercanda soal Debt Collector karena tagihan bulan ini sudah ia bayar kemarin sore.

Zaenab balik lagi, berkacak pinggang. "Cuci muka dulu sana. Di teras ada Sandi sama Kosim."

"Ayek kan tadi ngga tidur, Mi." Alih-alih ke kamar mandi, Ayek malah ke dapur, membuka kulkas. Tak ada apa-apa di lemari pendingin itu, selain sayur-sayuran dan masakan telur sambal balado sisa kemarin sore. Ia pun bergegas menemui kedua teman band-nya.

"Masih merdu aja suara nyokap lo!" Kosim tertawa meledek.

Sandi menimpali, "Bagus juga sih buat backing vokal. Hahaha!"

Ayek duduk di lantai karena dua kursi di teras sudah diduduki teman-temannya. "Sekali lagi ngetawain nyokap, gue timpuk kalian pake upil."

Kosim ngakak. Sandi bergidik mendengar kata upil.

"Tumben main ke sini?"

"Ngga main, salah. Main, salah. Maunya apa sih, Jubaedah?" Kosim menimpuk Ayek menggunakan upilnya.

"Jangkrik, kena muka gue, Munawaroh!" Ayek mengusap hidungnya yang terkena upil Kosim.

"Kalian jorok, ih!" Sandi menutup hidung, jijik. Ia kesal, dua temannya selalu bercanda dengan sesuatu yang membuatnya mual.

Ayek dan Kosim tertawa mengejek. Sandi memang phobia terhadap upil. Itu cukup aneh, apalagi upil adalah benda yang selalu melekat di dalam hidung manusia.

Tak ingin kedua temannya membahas upil lebih lanjut, Sandi segera mengalihkan topik. "Kita sudah lama nggak manggung. Apa kalian nggak pengen merasakan kembali sensasi ditonton banyak audiens?"

Ayek paham, ini topik serius yang pernah dibahas beberapa minggu lalu tapi sampai sekarang belum ada kesepakatan. ASK band terpaksa menolak sejumlah job manggung karena sulit mencari Additional Player tetap. Selama ini, formasi mereka  kekurangan pemain bass dan keyboard.

Kosim yang masih ingin bercanda, menusukkan jari telunjuknya ke lubang hidung sebelah kiri. Menggoyangnya perlahan sambil menikmati sensasinya.

"Dibilang jorok, ih!" Sandi menjauhi Kosim yang duduk di sebelahnya.

Alih-alih berhenti, Kosim mencolek bahu Sandi menggunakan jari yang tadi buat ngupil.

Sandi mengusap-usap bahunya, jijik. "Anjay!"

Nada-Nada AsmaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang