1. Cerita

235 35 14
                                    

Cek Ranju di Mulmed!

——

21 Maret 2221

17.08

" Sejak dini hari, korban yang terinfeksi di daerah Jakarta Selatan telah dievakuasi dan dikarantina di dalam beberapa gedung yang dialih fungsika--- "

BIIP

" Masyarakat yang mengalami halusinasi berlebihan setelah sembuh dari infeksi dengan gila turun ke jalan, hal ini menimbulkan keresahan publik hingga ke penjuru negeri. Pemerintah meminta--- "

BIIP

" Mereka disebut Zetra, manusia yang terjangkit penyakit yang masih belum diketahui ini semakin bertambah setiap harinya, dimohon kewaspadaannya dan tetaplah diru-- "

BIIIP

Aku terus memencet tombol next di swatch milikku

" Masyarakat dilarang bepergian dan sebisa mungkin menghindari Zetra. jauh di belakang saya terdapat segerombolan Nom yang-- ehh, "

" Kyaaaa! "

Hari ini, aku melihat dengan jelas.

Wajah ketakutan reporter yang sedang melakukan siaran langsung itu.

Yang tiba-tiba diterkam oleh Zetra.

Reporter itu menangis, berteriak, dan mengerang untuk melawan. Siaran itu kacau sekali, Zetra kian banyak menggerangi tubuh sang reporter. Aku berdiri gemetar sambil terbelalak tidak percaya, ini pertama kalinya aku melihat dengan langsung proses makhluk itu membunuh manusia. Rasanya aku ingin kesana untuk memutar leher makhluk brengsek itu.

Siaran terus berlangsung walau sang kameramen terlihat menjatuhkan kameranya, stasiun tv itu mempertontonkan adegan phsyco yang biasanya harus disensor lembaga penyiaran nasional. Sejujurnya aku ingin bersorak gembira karena organisasai penyiaran itu kelepasan, mereka terlalu berlebihan dalam menyensor! bahkan paha suatu tokoh kartun yang berbentuk ikan pernah disensor oleh mereka.

'TAK'

Aku masih tergugu sesaat. tidak sadar siaran hologram dari Superwatch milikku sudah tiada, ku rasa Ranju yang mematikannya.

"Wah, jantungku makin berdebar, aku makin ingin mematahkan leher seseorang hari ini. Si jalang Ramurae itu bisa-bisanya membuatku seolah menyekiknya! yang benar saja." 

Ck, aku mencak-mencak karena teringat tragedi yang terjadi pagi tadi. Si bedebah Ramurae yang suka playing victim dengan wajah polos sok lugu dan kepintarannya untuk terlihat menjadi korban. Aku mengakui kalau aku memang tak sepintar dia yang dapat mengambil jurusan kedokteran, tapi aku  tak sebodoh itu untuk tau kalau ia benci melihat Aku dan Ranju bersama Adit terus.

"Em..kau memang menyekiknya, Kala. Itu tak ia dibuat-buat," Timpal Ranju pelan, aku memutar badan menatap ke arahnya tak percaya, sekarang ia di kubu si busuk dari gua hantu itu?

"Hey, aku belum selesai bicara. Kalau aku ada disitu aku akan ikut memandikannya dengan air raksa dan memotong tubuhnya lalu ku paketkan ke Zetra di Jakarta sana," Ranju berujar cepat dan berhenti sejenak,

" Setidaknya kita harus lebih bersyukur karena makhluk jelek itu belum tiba ke kota kecil kita, dan akan lebih baik jika kita lebih cepat memilih bahan makanan ini, karena diluar sangat mengerikan kau tahu."

" Dan Adit, berhentilah menatap perempuan di ujung sana! ayo bantu aku," Ranju berujar gusar sambil terburu menarik makanan cepat saji yang terdapat tulisan seedap di kemasannya. Melihat itu aku menjadi ingin merebusnya. Tersadar, aku membantu Ranju memasukkan Sarden kaleng ke tas kain kami yang bertuliskan save our beloved earth.

Di zaman ini, kami berusaha untuk mengurangi limbah plastik dan menghemat pemanfaatan energi. Pemborosan yang telah dilakukan beberapa dekade sebelumnya sangat berdampak besar bagi kami. Kalian pasti ingin tahu perbedaan apa saja yang terjadi,bukan?.

Perubahannya tidak sefantastis komik Doraemon zaman dulu, walaupun terdapat beberapa gadget yang dapat dikatakan mirip, namun persentasenya hanyalah 3%

" Apakah ini sudah cukup? Perutku tak enak," Aku selesai mengisi tas kain milikku hingga penuh dan meletakannya di lantai asal, terlalu berat untukku pegang.

" Punyaku sudah penuh, kalau tak enak kau buang saja," Ranju sedikit mengangkat tas kain hijau lumut miliknya, seolah untuk memberi tahu kalau ia sudah selesai. 

" Adit kau memang yang paling lamban, wajar Ibumu mengomel terus, kalau aku jadi Ibumu, sudah ku putar tulang lehermu sejak lahir." Aku berseru gusar, mengambil beberapa bungkus mi instan dengan kasar lalu memasukannya ke tas kain Adit.

" Terimakasih pujianmu Kala, itu keahlianku. Tapi bisakah kau sedikit lemah lembut? Kau akan jadi perawan tua karena marah terus. "

Aku menoleh ke kanan, memutar bola mataku lalu menatap adit dengan tatapan super sebal millikku,namun ia tersenyum. Dari sudut pandang ini aku dapat melihat wajah Adit yang kental dengan perawakan laki-laki Indonesia dengan kulit kuning langsatnya yang membuat kesan manis di wajahnya.

"Well, kalau aku jadi perawan tua akan kupaksa kau menikahiku hanya untuk gelar di-KTP ku. Walaupun harus jadi istri kedua,"  Aku menandaskan kalimat itu sambil bersedekap.

"Ranju," Tegurku, sepersekian detik ia memalingkan wajanya padaku.

" Kau dengar itu Kala? " Wajah Ranju berubah pias, namun aku tidak mendengarkan apa-apa. Aku memusatkan pendengaran di tengah riuhnya supermarket di hari minggu ini.

Itu.. Suara Zetra! dan di susul teriakkan beberapa pengunjung swalayan ini

aku tidak bisa merespon apa-apa karena ini terlalu tiba-tiba dan tak terduga. Sialnya aku tidak menyiapkan alat apapun selain Jet Shoes kami.

Habislah kita.


-----------------------

Hey, let me know if you read this chapter by pressing the vote and comment icons!

Start from 7 april 2020, 22.26

hope we can escape the outbreaks of covid19 immediately .

SURVIVE FOR SEMESTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang