Beberapa pelayan masuk ke ruang VIP sambil mendorong troli gueridon, secara bergantian mereka menghidangkan makanan di atas meja. Dari Appetizer, main course, hingga dessert semua tersajikan.
Song Seya bingung melihatnya, hingga enam pelayan meninggalkan mereka barulah ia bertanya.
"Taehyung-ah, kenapa kau memilih ruang VIP?" Seya sedang membiasakan diri untuk tidak bicara formal pada Taehyung karena pria itu tidak menyukainya.
Taehyung meletakan kembali sendok dan garpunya di atas meja lalu memberi perhatiannya.
"Aku ingin pertemuan kita kali ini lebih privasi dan tentunya agar kau merasa nyaman."
Seya mengangguk.
"Dan kenapa kau memesan banyak sekali makanan? Bukankah kita hanya berdua?" Tanya Seya mengecilkan suaranya.
Taehyung mendekatkan bibirnya ke telinga Seya, lalu berbisik, "Karena kau menolakku membayar desainmu jadi aku sengaja memesan banyak makanan untukmu."
"Tapi aku tidak akan bisa menghabiskannya." Seya berbisik lagi.
"Kalau begitu nanti bawa pulang saja."
Keduanya sama-sama tertawa karena tingkah satu sama lain.
Song Seya dan Kim Taehyung menikmati makan siang mereka dalam keheningan sampai Taehyung membuka suara kembali.
"Restoran ini milik nenekku. Awalnya hanya sebuah kedai kecil, beliau mendirikan tempat ini sebelum ibu dan ayahku bertemu. Pelanggan yang semula hanya berjumlah sepuluh orang setiap harinya, lama-kelamaan terus bertambah sampai akhirnya nenek mulai merenovasi bangunan ini dibantu oleh ayahku. Kalau aku berkunjung ke rumahnya pasti nenek selalu menceritakan sejarah berdirinya restoran ini."
"Wah, padahal tempat ini sudah lama berdiri tapi baru kali ini aku datang ke sini."
"Benarkah?"
Seya mengangguk.
"Ah! Sebagai rasa terima kasihku karena kau sudah mentraktirku, aku ingin menuangkan minuman untukmu."
Seya menuangkan seperempat whisky ke dalam Lowball Glass lalu menyodorkannya ke wajah Taehyung.
"Aku tidak mabuk disiang hari, Seya-ya." Tolak Taehyung secara halus tanpa menyakiti perasaan Seya.
"Ayolah...satu kali saja." Bujuk Seya.
Taehyung menggeleng.
"Ini hanya seperempat gelas kecil, tidak akan membuatmu mabuk."
Sekali lagi Taehyung mendorong gelas itu agar Seya berhenti.
"Kumohon. Demi aku."
Akhirnya hati pria itu luluh, Taehyung pun menerima gelas itu dari tangan Seya lalu menghabiskannya dalam sekali teguk.
•••
Jeon Jungkook mengambil jaket kulit hitamnya lalu meninggalkan Apartemen.
Tidak bertemu dengan gadis pujaannya selama dua bulan sudah cukup menyiksa hatinya. Selama ini mereka berkomunikasi melalui media sosial, saling membalas pesan, telepon, atau panggilan video. Tapi rasanya itu tidak cukup bagi Jungkook, rindunya belum mereda sampai ia bertemu dengan Seya.
"Jungkook-ah!"
Kedatangan Jungkook mendapat sambutan hangat dari Tuan dan Nyonya Song.
Jungkook membalas pelukan Nyonya Song lalu membuka jaketnya sebelum ikut duduk bersama mereka.

KAMU SEDANG MEMBACA
Another Coming
RomanceKeinginan Jeon Jungkook membangun keluarga bersama Song Seya selalu terhambat. Sulitnya mendapat jawaban dari sang kekasih dan beberapa rintangan mulai berdatangan menghujam kapal mereka. Mampukah mereka bersama sampai akhir atau apakah kapal mereka...