Keinginan Jeon Jungkook membangun keluarga bersama Song Seya selalu terhambat. Sulitnya mendapat jawaban dari sang kekasih dan beberapa rintangan mulai berdatangan menghujam kapal mereka. Mampukah mereka bersama sampai akhir atau apakah kapal mereka...
Aku pun meletakan ranselku di kursi meja belajar tanpa menoleh sekalipun ke belakangku.
"Aku sudah makan malam." Lanjutku.
Aku mendengar pintu ditutup. Kupikir ibu sudah keluar dari Kamar.
Tiba-tiba tubuhku menegang saat sebuah tangan melingkar di perutku.
"Aku sangat merindukanmu."
Kulirik ke kanan, kudapatkan Jungkook menempelkan dagunya di bahuku.
"Kenapa tidak menjawab teleponku?" Dia mengecup permukaan kulit leherku.
Kubalikan tubuhku menghadapnya, Jungkook semakin mengeratkan pelukannya, menempelkan tubuh kami secara intim.
"Baterai ponselku habis jadi aku tidak tahu kalau kau menghubungiku."
"Kau marah padaku?"
Aku memiringkan sedikit kepalaku ke kiri.
"Apa yang membuatku harus marah kepadamu?" Aku balik bertanya.
"Maafkan aku karena terlalu memaksa keiinginanku. Tidak seharusnya aku terus menekanmu." Jungkook melihat ke arah tepat sebelah telinga kananku.
Kata-kata yang diucapkannya terdengar tulus, aku jadi tidak tega melihat wajah melasnya itu.
"Hey, Jung." Panggilku agar ia menatapku.
Tubuhku yang hanya setinggi ketiaknya membuatnya harus menunduk untuk menatapku.
Kutatap ke dalam matanya. Ya Tuhan, betapa aku mencintai pria ini.
"Jangan salahkan dirimu."
Terlepas dari kata-kata itu, aku tak tahu apa yang harus kuucapkan lagi padanya.
Lalu aku berjinjit dan mengecup singkat bibirnya.
"Kau ingin menginap di sini?" Tanyaku.
"Tidak, aku akan pulang sekarang." Katanya mengendurkan pelukannya dan membuat jarak di antara tubuh kami.
"Kenapa? Katanya kau rindu padaku?"
Tiba-tiba Jungkook memajukan wajahnya ke arah wajahku membuatku harus menahan napas.
"Memangnya kau ingin 'kumakan' sekarang?"
Wajahku memanas mendengarnya dan membuatku tak bisa menahan senyum karena perkataan nakalnya.
Jungkook mengecup ujung hidungku.
"Jaga kesehatan, aku tidak ingin kau sakit lagi." Katanya mengusak puncak kepalaku.
Setelah itu Jungkook pamit pulang.
•••
Hari-hari berlalu, musim panas telah usai, kini sudah memasuki bulan September. Itu berarti hampir dua bulan aku tidak bertemu Jungkook.
Jadwalku berantakan. Beberapa mata kuliahku mengalami perubahan jadi aku harus menyusun ulang jadwalku dan menulis rencana kegiatanku sampai akhir musim gugur.
Ponselku bergetar namun aku kesulitan menemukannya. Terlalu banyak kertas di atas meja.
"Ah, sial! Dimana benda itu?"
Aku membuat sedikit kegaduhan, beberapa kertas berceceran di lantai, tak kuhiraukan tatapan beberapa pengunjung yang masih menetap di kafe.
Saat kutemukan ponselku, layarnya sudah redup dan tak ada getaran lagi.
My favorite.
Begitulah aku memberi nama kontak kekasihku. Dia menghubungiku sebanyak tiga kali selama lima belas menit terakhir dan mengirimkan dua puluh empat pesan padaku. Astaga aku pasti terlalu fokus pada tugasku.
Lalu aku mengirimkannya sebuah pesan.
[Aku akan meneleponmu kembali. Kalau kau mengantuk, kau boleh tidur.]
Ya, aku juga tidak bisa janji untuk meneleponnya dalam waktu dekat karena waktu menunjukan hampir tengah malam.
Tak lama pesanku dibalas olehnya.
[Aku akan menunggu.]
Aku tersenyum membaca tiga kata itu.
"Permisi, nona. Apa ini milikmu?"
Seseorang bicara padaku, kutengadahkan wajahku untuk melihat siapa lawan bicaraku.
"Ya, terima kasih banyak." Kataku berdiri dan sedikit membungkukkan tubuhku dengan gerakan cepat.
"Gambarmu bagus."
Aku hanya tersenyum dan berterima kasih padanya atas pujiannya.
Pria itu belum mengembalikan kertas-kertas milikku dan masih melihat hasil gambarku. Meskipun itu terlihat lancang tapi bagiku tidak masalah.
"Apa aku boleh minta tolong padamu?"
"Y-ya?" Aku melihat ke arahnya.
"Pekan depan kakakku menikah dan aku sama sekali belum terpikirkan tentang hadiah. Bisakah kau buatkan desain gaun pengantin untukku?" Dia membalas tatapanku.
Aku hanya diam menatapnya dengan mataku yang melebar dan mulut yang terbuka karena tak percaya dengan apa yang aku dengar barusan.
"Tentu saja aku akan membayarmu dengan harga yang senilai."
"Jadi bagaimana?"
Aku tak berpikir untuk menerima atau menolak tawarannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.