Aeri merasakan bahunya di tepuk pelan. Perlahan ia membuka matanya. Ia dapati seorang pria mengenakan bathrobe biru tua duduk di sampingnya. Aeri mengangkat punggungnya dari sofa. Ia masih mendapati dirinya mengenakan gaun.
Ternyata pernikahan ini bukan mimpi.
Aeri langsung tersadar. Ia memijat pelan pelipisnya, kepalanya terasa sedikit berdenyut.
"Kau sakit?" Tanya pria di hadapannya.
Aeri reflek mengangkat kepalanya mendengar suara pria itu. Ia baru menyadari sosoknya masih belum pergi. Aeri menatap wajah pria itu lama, ia masih tak menyangka bahwa ia akan menikah dengan pria yang sama sekali tak pernah ia ketahui. Selama ini Aeri hanya sering mendengar namanya dari perbincangan makan malam bersama keluarganya. Ia ingat sekali, setelah berbicara tentang pria itu, kedua orangtuanya pasti menoleh ke arahnya.
"Ku antar ke kamar."
"Tidak usah." Sergah Aeri.
Entah apa yang Aeri pikirkan, tapi wajah Aeri merona seketika mendengar tawaran itu.
"Ganti baju lalu tidur."
"Tidak, aku ingin mandi."
Sehun tampak sebal melihat Aeri yang tidak ingin menurut. Karena geram ia lalu menggendong Aeri pergi ke kamar. Aeri sempat menjerit karena gadis itu takut ketinggian. Ia reflek memeluk Sehun sampai pria itu menurunkannya.
"Kau harus menurut perintahku mulai sekarang."
Aeri hanya memalingkan wajahnya karena malu. Perlakuan Sehun benar-benar di luar dugaan. Pria itu bahkan tak menampakkan ekspresi apa-apa setelah menggendong Aeri. Ia hanya mengatakan itu lalu pergi.
Menyebalkan!
Aeri punya perasaan buruk kalau Sehun adalah pria yang menyebalkan. Tapi di samping itu, Aeri berterimakasih karena ia tidak perlu berjalan yang membuat kepalanya akan semakin sakit.
Sebelum Aeri mengganti pakaian, perhatiannya tertuju pada ponselnya di atas nakas, ia teringat bahwa sebentar lagi jam 9 The Guardine's harus berkumpul untuk merundingkan kasus-kasus.
Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Jiae.
"Hm?" Sapa Jiae dari sebrang ketika panggilan sudah tersambung.
"Kau gantikan aku untuk memimpin rapat, ya? Sepertinya aku tidak bisa ke sana."
Terdengar helaan napas dari sebrang sana, "Lalu aku harus berbicara banyak begitu?"
Aeri menggelingkan matanya mendengar Jiae mengeluh.
"Ku pastikan hari ini adalah hari pertama dan terakhirmu menggantikanku rapat."
"Baiklah."
Jiae memutuskan sambungan.
•••
The Guardine's masuk ke dalam ruang interogasi untuk melakukan rapat. Semua anggota duduk di sofa melingkar, kecuali Jiae yang duduk di sofa tunggal karena ia yang memimpin. Masing-masing anggota membawa buku dan alat tulis untuk mencatat hasil rapat.
Jiae memperhatikan satu persatu para member. Seharusnya ada 10 orang yang duduk di sofa melingkar, tapi hanya ada 9 orang yang terlihat. Ia mencoba mengingat-ingat semua member The Guardine's.
"Dimana Saerin?" Ujarnya setelah satu gadis muncul dalam pikirannya.
"Dia menjaga Baekhyun di rumah sakit. Pria itu kecelakaan tadi siang."
Jiae mengangguk paham, lalu ia mulai membuka file-file yang telah di siapkan Shion di atas meja. Gadis itu telah membaca semua file dalam satu waktu. Sebab Shion adalah ketua sekretaris, jadi ia harus mengetahui setiap laporan dengan baik.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Guardine's
FanfictionKami berdua belas datang dan menyelam ke dalam dunia kriminal. Menyulap sekolah seolah terlihat baik-baik saja. Keajaiban yang miris! Kawan, terjebak dalam dunia kriminal memang mengerikan. Tapi lebih mengerikan lagi jika kami juga harus terjebak d...