Hai kamu,
pria bermata sipit dan berkulit putih dengan senyum yang selalu menghiasi wajah mu serta kacamata hitam yang menambah kesan cerdas dirimu.
Apa kabar?
Saya pikir tanpa saya perkenalkan diri, kamu sudah tahu saya.
Saya gadis yang selama ini diam-diam menaruh hati padamu.
Sejak saat itu awal pertemuan kita yang mungkin tidak berpengaruh apa-apa padamu, tapi tidak dengan saya.
Senyuman itu;
Tatapan itu;
Sapaan itu;
Semua masih sangat jelas.
Saat itu pula, aku mulai menyukai semua perihal tentang mu.
Jika kamu tanya mengapa? saya sendiri pun tidak tahu, karena yang saya tahu kamu adalah objek menarik yang berhasil membuat sang jantung berdetak hebat entah hanya dengan senyuman atau sekedar sapaan.
Perasaan ini tumbuh beriringan dengan waktu, yang saya kira hanya sekedar mengagumi tapi nyatanya tidak, ini lebih.
Sampai saya melihat mu bersamanya, seorang gadis yang bahkan dekat dengan saya dan sempat saling berbagi kisah, kaki yang tadinya berjalan maju perlahan berjalan mundur
Hanya sebuah senyuman yang bisa saya suguhkan padahal berbanding terbalik dengan apa yang saya rasakan.
aya salah lagi.
seharusnya sejak awal, kamu saya suguhkan kopi bukan hati yang pada akhirnya patah yang saya didapati untuk ke sekian kali.
dan yang sekarang bisa saya lakukan harus kembali mengikhlaskan orang yang datang untuk pergi.
tapi setidaknya, walaupun kamu tidak bisa saya miliki. pernah berbalas sapa saja saya sudah senang, apalagi kamu bisa saya miliki seutuhnya.
selamat berbahagia, untuk kamu pria bermata sipit dan berkulit putih. terima kasih pernah menambah kesan indah tanpa berniat singgah.
dariku, gadis kecil bermata sipit dengan senyum gingsul.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKSARA RASA
Poetry[ Entahlah, begitu sulit untuk diungkapkan secara langsung. Mungkin hanya lewat tulisan bisa meluapkan semuanya. ]
