Lima

177 45 5
                                        

Flashback On.

"Ini apa? Kamu mau kabur?" Jiyeon memberikan sebuah tiket pesawat dan sebuah paspor yang dia temukan di dalam tas Yoongi.

"Mwo? Kamu memeriksa tas ku lagi?" Pria berkulit putih pucat yang itu menatap Jiyeon dengan terkantuk-kantuk. Dia menarik selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya itu lebih tinggi lagi.

"Ne. Aku ingin menyalin tugas matematikamu," ucap Jiyeon mendudukkan dirinya disamping Yoongi yang tengah menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur miliknya.

"Aigoo.. Apa beasiswa mu itu kau dapat dari hasil menyalin?" ketus Yoongi mencubit hidung mancung kekasihnya dengan gemas.

"Berhenti! Yak Min Yoongi kau menyakitiku!" ketus Jiyeon seraya menepis tangan Yoongi yang terus saja berusaha mencubit hidungnya.

"Jadi rahasia suksesmu karena itu heh?"

"Matta! Kau tahu kekasih ku sangat cerdas, sahabatku juga apalagi aku dapat memanfaatkan Song Mino yang tidak kalah cerdas dari kekasihku!" ucap Jiyeon membuat Yoongi tersenyum sinis mendengarnya. Astaga banyak sekali tingkahnya hari ini.

"Yak kau belum menjawab pertanyaanku bodoh!" dengus Jiyeon memukul tangan Yoongi yang entah sejak kapan sudah bergerak dan memijit kedua dadanya. Jiyeon tidak habis pikir bagaimana dia bisa menyukai pria dingin namun sangat mesum seperti Min Yoongi.

"Ish kenapa kau memukul ku?" ketus Yoongi menatap Jiyeon kesal.

"Ajarkan tanganmu itu sopan santun!" ketus Jiyeon menatap Yoongi yang hanya tersenyum tanpa dosa.

"Yak Min Yoongi.. "

"Arasho. Kau berisik sekali," ketus Yoongi dia menarik Jiyeon hingga gadis itu bersandar pada dada bidangnya.

"Aku hanya pergi selama 6 bulan."

"Bohong. Kenapa kau harus pergi ke Jerman?" tanya Jiyeon memperhatikan tiket pesawat dan paspor milik Yoongi.

Yoongi mendekap erat tubuh indah itu. Dia menumpukan dagunya pada bahu milik kekasihnya.

"Wae? Kau ingin aku tidak pergi?" Suara Yoongi terdengar lembut. Dia menatap wajah cantik gadisnya itu dari samping.

"A-aniya. Hanya saja.. " Jiyeon menundukkan kepalanya. Dia tidak tahu harus bagaimana, Yoongi akan pergi untuk mengejar mimpinya tapi Jiyeon hanya takut.

Dia takut Yoongi meninggalkannya.

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Park Jiyeon," ucap Yoongi membuat jantung Jiyeon seperti berhenti berdetak.

"Cih siapa juga yang berpikir seperti itu!" Elakkan Jiyeon memalingkan wajahnya yang memerah.

"Aigoo kau pasti sedang berteriak kesenangan kan?" ketus Yoongi menghentikan kegiatannya menciumi leher Jiyeon. Kenapa bisa gadis itu semakin menggemaskan? Lihat sikap ketusnya berbanding terbalik dengan rona merah di wajahnya.

"Tutup mulutmu itu!" dengus Jiyeon seraya membekap mulut Yoongi lalu mendorong kepalanya ke belakang.

"Ohh kau berani padaku hah?" Yoongi memperlihatkan seringainya membuat Jiyeon bergidik ngeri.

Astaga menyeramkan sekali seringai si mesum itu.

"Park Jiyeon!"

Kyaa!

Jiyeon refleks berteriak saat tiba-tiba saja Yoongi menariknya lalu menindih tubuhnya.

"Yak Min Yoongi kau mau apa hah?" ketus Jiyeon seraya menyilang tangannya di dada.

The Truth UntoldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang