"Banyak mereka yang fasih dalam menghapal Al-Qur'an, tetapi sedikit yang memahami artinya."
Detektif Ramadhan
Hari ini terasa agak berat, panas, gerah, ngantuk, bercampur menjadi satu. Ku hempaskan tubuhku ke bale yang terbuat dari pring. Anggap saja ini kasur yang ada springbednya.
"Aduh,"
Aku meringis kesakitan, kepalaku menatap pring yang masih selonjongan itu. Yah aku terlalu halu, pring yang ku kira kasur. Dasar.
Baru sempat memejamkan mata, tiba-tiba ada tangan tangan menarik lenganku. Aku terperanjat, tidak ini bukan satan mukhomed, cerita konyol si Ali.
"Ini tuh jam berapa Tahrim! Ini udah jam 11, Rim!" kata Mak aku marah dan kesal.
Aku mengerutkan dahi ku, apa hubungannya dengan jam sebelas? Aku bahkan sudah mengerjakan tugasku membersihkan kandang, lalu apa lagi?
"Iya kenapa sih mak?" tanyaku agak kesal juga. Bagaimana tidak kesal, saat kita hendak istirahat malah diperlakukan seperti ini.
Plak!
Sarmi, memukul Tahrim dengan kayu kecil yang di bawanya. Sarmi memang ibu yang keras dalam mendidik anaknya. Apalagi Tahrim adalah anak satu-satunya.
Menjadi anak satu-satunya itu enak bagi mereka yang mendapat perhatian, manja dari orang tuanya. Tetapi tidak denganku. Mak aku iki sangat gualakkkk.
Sampai aku heran, kenapa bisa sih seperti ini? Gak kasihan apa anaknya di pukul pakai kayu seperti itu?
Aku serasa anak tiri saja.
"Kenapa kamu bilang? Eh Rim! Ini tuh waktunya kamu ngaji! Jam sebelas Rim, jam sebelas!"
Aku baru sadar, ohh ini penyebab mak aku marah. Ohh hanya masalah seperti ini aku terkena pukulannya yang dahsyat itu.
"Iya mak, lupa!"
"Lupa ya?" ujar Mak aku sembari menjewer telingaku.
"Lupa katanya? Sana cepat bersiap!"
Aku mengelus-elus telingaku, gak copot kan? Ahh hari yang menyebalkan.
Aku tidak mau berdebat dengan mak aku lagi, segera ku memakai sarung dan menyambar peci yang tergeletak tak jauh dariku.
Tapi aki juga tak lupa mengatakan kata-kata mutiara untuk mak aku.
"Mak, mak tambah cantik kalau marah. Pahalanya mak hilang tuh, tapi cantiknya nambah!"
Ck. Dasar Tahrim! 🙄🙄🙄
Hahaha aku tertawa melihat ekspresi mak aku,
😂😂😂
"Aduh!" Sebuah kayu kecil mengenai betis kakiku. Siapa lagi kalau gak mau aku yang 'nyerampang' Yah seharusnya aku tidak menggoda mak aku lagi, duh sakit banget.
Makanya, jadi anak jangan suka bar-bar dong Tahrim! 😂😂😄😄 Kasihan betisnya kan?
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Detektif Ramadhan
Spiritual{Follow dulu, supaya gak kesendat-sendat bacanya} Cerita ini menyebabkan anda menerka-nerka. Dan membuat anda semakin penasaran dengan ketiga detekfif ramadhan. Hilangnya sandal saat terawih sudah biasa di kalangan sebelumnya. Namun ini l...
