Vote dulu pokoknya! Jangan jadi silent reader. Heheh maksa amat sih ya?
Kali ini aja kok, vote ya. Nanti aku doain cepat dalam segalanya. Hehehe
"Tidak ingin menjadi pintar, cukup cerdas saja tak apa-apa."
Detektif Ramadhan
Semua santri Baitul Mukarommah sudah berkumpul di Aula tempat majlis ilmu. Terlihat mereka yang sangat serius dalam mengaji dan menimba ilmu.
Ya walaupun kantuk menyerang mereka, tetapi mereka rela pergi di pagi yang buta ini. Hari ini, hari ketiga mereka berpuasa sekaligus hari ketiga mereka mengaji di pagi hari.
Dulu, sebelum Ramadhan mereka kalau mengaji di pagi hari, mereka mengaji Al-Qur'an. Tetapi di bulan Ramadhan ini berbeda, mereka mengaji yam'bua jus 7 yang isinya tentang tajwid.
Walaupun mereka bukan santri asli, dalam arti mondok. Tetapi bacaan Al-Qur'an mereka sudah dapat dikatakan 80% benar. Karena Pak Munib mengajarkan dengan betul-betul sesuai makhrajnya.
Bahkan nih, awal ngaji Al-fatihah kami sampai 1-3 bulanan membenarkan makhrajnya. Karena kalau Pak Munib mengajarkan seperti orang kebanyakan yang hanya berpikir membaca lancar tanpa memerhatikan makhrajnya, bagaimana generasi selanjutnya?
"Niam beri contoh bacaan Idhar!" perintah Pak Munib kepada Niam. Niam ini seorang anak laki-laki berumur 11 tahun. Lebih tepatnya kelas enam.
"Narung hamiyah," jawab Niam, anak yang agak gemuk disini.
"Betul Bet?" tanya Pak Munib beralih ke anak yang selisih satu dengan Niam. Obet, anak laki-laki yang berumur 10 tahun, lebih tepatnya kelas lima sekolah dasar. Niam yang gemuk, kini Obet yang berbanding terbalik. Badan Obet kecil, tetapi agak tinggi.
"Salah, yang benar di baca jelas 'Narun hamiyah' " jawabnya Obet.
Ini lah hal yang membuat Pak Munib sedih juga senang, sedih ketika banyak remaja, anak kecil, anak dewasa, yang masih menyepelakan tentang makhraj dalam membaca Al-Qur'an, kalau kita mengucapkan salah maka artinya juga salah.
Oleh karena itu Pak Munib dengan tekad menjadikan muridnya menjadi seorang yang akan menjadi penerusnya nanti, terlebih untuk desanya ini.
Senang, ada muridnya yang kecil-kecil cabai rawit. Seperti Obet, yang kecil sudah bisa tajwid dan makhrajnya.
Pov Tahrim.
"Jelaskan Rim! Kenapa bisa di sebut Idhar!"
Inilah yang ku takuti, ketika namaku disebut. Tapi apa daya? Mau tidak mau, aku jawab. Jujur sampai saat ini aku belum terlalu paham, aku tahu kalau bacaan ini jelas. Tetapi aku tidak tahu penyebab kenapa di baca jelas.
"Karena jelas." ujarku cepat. Entahlah, ini sudah bawaan sejak lahir. Maka tidak heran, jika orang berbicara denganku banyak yang tidak paham apa maksudku. Terkadang membuatku kesal sendiri.
"Kalau berbicara mbok yo jelas ta Rim!"
"Lha yo, Tahrim-Tahrim." Ali memakakku lagi, ya memang dia seperti itu. Suka melihat temanya menjadi bagian candaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Detektif Ramadhan
Spiritual{Follow dulu, supaya gak kesendat-sendat bacanya} Cerita ini menyebabkan anda menerka-nerka. Dan membuat anda semakin penasaran dengan ketiga detekfif ramadhan. Hilangnya sandal saat terawih sudah biasa di kalangan sebelumnya. Namun ini l...
