Part 5

7 0 0
                                    

        Saat ini Vano dan Shilla tengah berada  di taman . Vano merebahkan kepalanya  di paha Shilla, sedangkan gadis itu  bersandar nyaman di salah satu pohon taman itu. Tangan Shilla bertengger nyaman  di kepala  Vano sesekali ia mengelus rambut pemuda itu dengan lembut. Mereka ada di taman itu dari sepulang sekolah tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. Shilla tidak mengetahui alasan   Vano mengajaknya kemari, sebenarnya sudah dua hari ini Vano tidak mau berbicara dengannya. Tapi sepulang sekolah tadi pemuda itu langsung menyeretnya dan di sinilah sekarang mereka berada. Sebenarnya ia penasaran dan ingin menanyakan alasan pemuda  itu mengajaknya kemari akan  tetapi melihat Vano yang kini  terlelap nyaman di pahanya menjadi kasian untuk membangunkan pemuda itu apalagi wajahnya terlihat damai, Shilla mengelus puncak kepala Vino  dengan pelan berharap sang empunya tertidur lebih puas. Shilla tersenyum  sendiri memandang wajah damai  pemuda itu. Kalau tertidur seperti ini Vano terlihat em tampan.Eh . Shilla merutuki perkatannya, ia memukul  kepalanya pelan berharap pikiran anehnya itu segera hilang.  Vano mengeliat pelan saat kenyamanannya  terganggu, merasa ada pergerakan dari pemuda itu Shilla tak tinggal diam tangannya kembali mengelus rambut Vano lembut berharap pemuda itu kembali terlelap nyaman.

"Lama ya nunggunya" Ucap pemuda itu sembali membuka sedikit matanya, gadis itu tersentak dan otomatis menjauhkan tangannya dari kepala Vano. Ia tak menyangka Pemuda itu akan terbangun.

"Gak papa gini aja, gue suka" Ucap Vano sembari menarik  tangan  Shilla dan menaruh tangan itu di atas kepalanya agar tangan mungil itu kembali mengelus dengan lembut.

"Maaf, Gue buat lo bangun ya?" uvao Shilla merasa bersalah sambil mengelus rambut pemuda itu.

"Enggak kok, gue gak bangun gara-gara lo. Malah gue nyaman lo perlakuin kayak gini" Ucap Vano, ia menghela nafas sebalentar lalu memejamkan matanya lagi menikmati usapan lembut gadis itu.

"Lo pasti penasaran apa alasan gue ngajak ke sini" Shilla hanya berdehem menandakan setuju apa yang di katakan Vano

"Tau gak kenapa?" tanya Vano

"Enggak lah, lo kan belum ngasih tau gue" jawab Shilla

"Gue tuh kangen sama lo " mendengar ucapan sang sahabat Shilla terkekeh pelan. Ia jadi mempunyai ide untuk  mengerjai sang sahabat.

"Oh terus?" ucapan Shilla membuat   pemuda itu membuka matanya dan beranjak duduk

"Maksud lo?lo gak kangen gue?" tanya Vano sambil melotot tak percaya  mendengar tuturan gadis di depannya itu

"Ya terus mau gimana" Vano mengeram marah mendengar tutur sang sahabat

"Tau ah , gue mau pulang" Shilla terkekeh pelan melihat pemuda yang mulai beranjak itu. Ngambek. Pikir Shilla.

"Gak dikejar?" batin  Vano dongkol, ia melirik belakang mendapati sang sahabat tengah duduk dengan acuh tak memperhatikannya. Melihat sang sahabat tak  mnegerjarnya ia membuang muka acuh dan mendumel tidak jelas. Vano merasakan ada sepasang tangan yang melingakar di pinggangnya.

"Maaf aku cuma bercanda" lirih Shilla  yang masih melingkarkan tangannya di pinggang Vano. Beginilah mereka jika ada yang marah atau merajuk pasti menggunakan bahasa "Aku"Kamu". Pemuda itu lalu  membalikan badan Shilla dan kini posisi mereka tengah berhadap-hadapan.

"Kamu sih gitu"keluh Vano sambil menggembungkan pipinya tanda marah.

"Maaf aku cuma bercanda" ucap Shilla sambil mencolek pipi Vano. Pemuda itu mendengus   kesal melihat sang sahabat mencolak colek pipinya.

"Ckh kenapa dicolek sih" keluh Vano

"Terus, kalau gak dicolek  mau gue gimanain?"

"Ya di cium atau dielus-elus" jawab Vano sambil mengedipkan sebelah matanya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 21, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The Heart That Talks (Hati Yang Bicara) [Hiatus]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang