Disana juga ada rumor. Jika tak boleh ke lantai atas untuk menjemur baju. Karena ada sosok hitam besar yang besarnya melebihi sosok lorong jemuran.
Karena aku belum tau tentang rumor itu. Aku tak sengaja menjemur baju dipukul 4 pagi. Ya waktu subuh ketika semua santri sedang sibuk mengaji. Aku juga menyempatkan diri demi cucian bajuku yang menumpuk.
Dengan terbata-bata menenteng ember baju basah menaiki tangga ke lantai 2.
Masih gelap gulita dengan sentuhan sedikit kebiru-biruan. Hanya ada taburan ribuan bintang dilangit.
Aku dengan telaten mulai mengurus cucianku hingga tak sadar.
Ia, berbadan hitam. Mengawasiku dari pojok. Aku tak merasa takut. Karena aku kira itu pohon. Karena ada pohom juga disitu.
"Eh kok matane putih agak merah?"
Dengan pandangan samar samar dan berusaha untuk tidak takut. Aku menyelesaikan cucianku. Dan turun ke lantai satu.
Tak lama rumor tempat jemuran lantai 2, salah satu mbak pondok panggil saja mbak Nisa. Sempat terganggu dan kaget karna ia tak sengaja naik ke lantai 2 dan bertemu si hitam.
Ia pingsan lalu hari itu kacau. Karena tidak kesengajaan dia. Menurutku mbak Nisa tidak salah, dia hanya syok karena melihat si Hitam yang bertugas untuk menjaga bukan mengganggu.
Sampai sekarang mungkin si hitam masih tetap disana. Ku merindukanmu :)

KAMU SEDANG MEMBACA
Fántasma
ParanormalneDari bahasa Yunani maupun Italia, yap benar. Hantu, mereka yang tak bisa dilihat oleh mata manusia yang biasa. Mereka juga temanku. Apakah aku normal? Dari dulu ku kira mereka hanya hadir dalam halusinasi pikiranku, tetapi rasa ragu itu terjawab tan...