Breakfast

11 1 0
                                        

Entah kenapa aku bisa tertidur senyaman ini, belum pernah aku merasakan tidur senyenyak ini apalagi kehangatan ini baru pertama kali aku rasakan. Aroma vanila ini sungguh membuatku begitu nyaman dan tenang. Tunggu dulu aroma ini sepertinya tidak asing, aku merasakan seperti seseorang memelukku dalam tidur. Aku mendengar suara detak jantung dan itu bukan dari diriku sendiri.

Mataku yang enggan terbuka kupaksa untuk terbuka. Aku meraba sesuatu di depanku yang berdetak lembut di telingaku dan kurasakan itu dada milik seseorang, kepalaku mendongak dan membuat secara tak langsung seseorang yang sedang menundukkan kepalanya mencium keningku. Mataku membulat dan mendorong orang itu.

Orion terbangun dari tidurnya karena dorongan keras dariku. Sial, jadi semalam, kenapa aku merasa hangat, ternyata dari semalam dialah orang yang memelukku. “Semalam kau bilang jangan pergi, kenapa sekarang mendorongku pergi?” keluhnya yang terpaksa bangun dari tidurnya, terduduk masih di atas tempat tidur.

“Kenapa kau bisa tidur di sini?“ tanyaku yang masih tidak sadar apa yang terjadi semalam.

Ia mencolek hidungku, “hei nona kau tidak ingat kau di mana sekarang? Ini tempatku dan ini tempat tidurku. Masih syukur aku tidak menyuruhmu tidur di lantai. Setelah merengek semalam meminta ditemani sekarang kau mendorongku tanpa perasaan” ia turun dari ranjangnya.

“Karena aku merasa bersalah akibat ulah Jollie yang tiba-tiba menyerangmu, maka kumaafkan kau kali ini” ia memilih berjalan  membuka lemari pakaian mengambil beberapa potong pakaian kemudian menutupnya kembali. “Pakai ini, kau bisa mandi” ucapnya sambil meninggalkan kamar.

Walau aku sedikit merasa bersalah karena menggunakan tempat tidurnya, tapi pelukan itu tidak bisa kuterima. Semalam aku mimpi tentang orang tuaku, mungkin inilah yang membuatku mengigau tak jelas dan berakhir dipelukkan si maniak psyco.

Kukedipkan mataku kembali ke dunia sekarang. Aku baru menyadari kalau aku tidak lagi memakai selang infus. Kupandangi kamar yang bersih milik pangeran psyco. Aroma vanila menguar dan ini menenangkan dan secara langsung mengingatkanku kejadian semalam. Kugelengkan kepalaku cepat menepis halusinasiku. Aku harus segera pergi dari tempat ini dan menemui ketiga adikku yang mungkin mencemaskanku saat ini.

Kuambil pakaian yang diberikan Orion tadi. Ini jelas pakaian miliknya, bagaimana bisa aku mengenakan pakaiannya yang jelas terlalu besar untukku. Lebih baik kupikirkan nanti, aku harus segera mandi.

Kakiku melangkah menuju kamar mandi. Ini kamar mandi seluas kamar tidurnya. Belum selesai terperangah, ada handuk bersih dan sikat gigi baru. Dia mempersiapkannya, senyum terlukis di bibirku. Memakai sabun dan shampo yang sama dengan miliknya, kurasa jika ada orang lain memergoki kami sekarang, pasti mereka berpikir yang tidak-tidak.

Selesai mandi, sebuah ketukan membuatku menoleh. “Apa aku boleh masuk kamarku sendiri?” mendengar pertanyaannya membuatku memutarkan bola mataku.

“Masuklah” jawabku malas.

“Kau bisa tunggu di luar atau kau ingin melihatku selesai mandi?” katanya.

Seketika membuatku menaikan sedikit bibir atasku melengkung mengejeknya. “Tidak sudi”  kuhentakkan kaki segera meninggalkan kamar.

Sebelum tanganku membuka knop pintu, aku menoleh lagi ke Orion mencari tau apakah masih ada Jollie di sana. Seperti paham, Orion mengatakan kalau Jollie sudah ia masukkan dalam kandangnya.

Aku menutup pintu kamarnya dan berjalan menyusuri ruangan yang aromanya identik dengan aroma vanilla, manis. Pria psyco itu pasti sangat menyukai aroma ini. Kulangkahkan kakiku menuju dapur. Kurasa dia barusaja menggunakannya, karena kulihat ada piring tertata di atas meja dan sangat berantakan, kuabaikan itu.

Mataku malah tertarik ke arah balkon. Kulangkahkan kakiku ke sana. Ketika kubuka pintu balkon, aku disambut mentari pagi yang sangat hangat. Kulangkahkan kaki semakin keluar. Hembusan angin lembut menerpa wajahku. Kakiku melangkah terus sampai di pembatas balkon. Aku bisa melihat pemandangan kota dari atas ini. Aku juga bisa melihat pantai yang letaknya lumayan jauh dari situ.

Masih dalam kekaguman akan pemandangan di depan mataku. Aku dikejutkan oleh suara nyalak seekor anjing. Dia Jollie, terkurung di dalam kandang. Kuhampiri dirinya dengan tatapan iba, “maafkan aku, gara-gara aku kau harus masuk di sini” seperti paham ucapanku dia menyalak lagi. Kutepuk pelan kandang Jollie, menatapnya dengan sorot mata bersalah. Lalu meninggalkannya karena kudengar seseorang membuat keributan dari dalam.

Aku kembali ke dalam ruangan dan menemukan Orion. Ia memakai pakaian santai kaos polos panjang warna hitam dan celana training senada, dia terlihat menawan, jangan lupakan model rambutnya yang membuatnya semakin mempesona. Lupakan, dia makhluk yang sama yang menyebalkan. “Apa yang kau lakukan?“ tanyaku dingin.

“Menyiapkan sarapan. Aku juga perlu memberi Jollie makan. Kau sudah melihatnya?“

“Eum.... Aku sedikit merasa bersalah. Lebih baik aku segera pulang, jadi dia tidak perlu masuk kandang” ucapku merasa sungkan.

"Tidak apa-apa, anggap saja itu hukuman untuknya karena telah menyerang orang tiba-tiba. Walaupun memang tidak seratus persen kesalahannya. Ia memang jarang bertemu orang lain kecuali orang tuaku. Jadi beginilah dia" jelasnya.

"Memangnya temanmu atau pacarmu tidak pernah datang ke sini?" tanyaku.

Bukannya menjawab pertanyaan dariku dia malah tersenyum. "Sudahlah, duduk dan tunggu sebentar. Nasi goreng akan segera siap, kita sarapan bersama" ia menyuruhku duduk di kursi makannya yang secara tak langsung berseberangan dengan tempat dia memasak.

Kuikuti ucapannya dan duduk di kursi tinggi di depannya. "Apa benar, tidak pernah ada orang ke sini selain orang tuamu?"

Lagi-lagi dia tidak menjawab, ia malah sibuk menuangkan nasi ke atas piring. "Let's have a breakfast" ucapnya memyodorkan sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya.

Ia kemudian duduk di sampingku, memandangku lalu tersenyum. Sial, senyumannya lagi-lagi membuatku jatuh pada pesonanya. "Let's pray" ucapnya kemudian melipat kedua tangannya dan menutup mata.

Pose seperti ini, astaga pria psyco ini kembali membuatku jatuh lagi akan pesonanya. Mataku mengerjap menyadari kesalahanku lalu kemudian ikut melipat tangan dan berdoa. Memang ini yang harus dilakukan sebelum makan, berdoa. Berterima kasih akan berkat yang telah Tuhan berikan.

Doa selesai. "Makanlah" ia mulai menyendokkan nasinya.

Aku ikut menyendok nasi di atas piringku. Namun sebelum memasukkan ke dalam mulutku, kulihat dirinya memasukkan lebih dahulu nasi ke mulutnya, baru kemudian aku memakannya.

Kami memakan sarapan kami dalam diam. Situasi ini, seperti sepasang suami istri sedang menghabiskan sarapan berdua. Situasi canggung dan aneh ini kuharap segera berakhir.

"Sebagai calon ibu dari anak-anakku, sebaiknya kau harus terbiasa berada di sini. Kau juga perlu berkenalan dengan mereka. Jika tidak bisa menyentuhnya, cobalah memberi makan mereka" ucapannya membuat tenggorokanku tercekat dan aku tersedak. Kusesap minuman di sampingku. "Bagaimana kalau hari ini kita kencan?“ kutelan makanan dan minumanku dengan susah payah.

Astaga, sebenarnya apa yang direncanakan olehnya kali ini? Apa dia akan mengurungku seperti peliharaannya? Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?

####Crazyluv





Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 29, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

CrazyLuvTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang