🌧albens apple mango

39 2 0
                                        

Bandung, 21 September 2018

Tasya

Tasya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Banyak yang bilang kalau perempuan nggak boleh keluar rumah sendirian malem-malem. Lalu kenapa gue ada di sini sekarang?

Kan sekarang bukan malem, udah subuh.

Duduk di kursi dengan alas kotak yang tepat berada di depan meja bar dengan piring putih berisikan Triple Decker Sandwich sudah jadi kebiasaan gue sejak duduk di bangku awal SMA.

"Mau nyobain Why Wait nggak Sya, baru nih" Gavin muncul dari belakang dengan membawa botol dengan warna air yang agak kekuningan bertuliskan Jose Cuervo.

"Ini hasil dari lo dateng ke Hotel Morissey kemaren?" tangan gue meraih gelas bening yang berisi potongan jeruk-entah jeruk apa, sebelum dituangi tequila oleh Gavin.

"Jangan bilang Dimas tapi kalau lo gue tawarin, mati gue nanti" Gavin berjalan ke arah lemari yang berisi banyak botol dan menyiman botol berwarna air kekuningan itu, "tenang aja, sibuk dia. Nggak akan ada waktu buat mukulin lo" rasa segar bercampur dengan asam dari jeruk langsung melewati tenggorokan gue.

"Ah sibuk apaan, waktu itu juga lo bilang dia sibuk sama cewenya, eh si bangsat dateng terus mukul perut gue" memori sekitar setahun lalu kembali terekam di kepala, Dimas menarik kerah seorang pria berusia sekitar 40 tahun dari belakang lalu mendorongnya ke arah meja bundar di belakang gue, lalu menarik kasar tangan gue keluar dari sana.

"Ya lagian tolol sih pake bilang gue lagi ngobrol sama om om, panjang kan urusannya" seorang laki-laki dengan hat bucket hitam duduk di samping kursi gue, bau tembakau bercampur wangi Zara W/END menyeruak ke dalam indra penciuman gue.

Dengan mencium wangi parfum milik Dimas saja, gue merasa seolah-olah dia ada disini.

"Albens apple mango, vin" suara beratnya membuat gue sedikit menoleh, sedikit.

Hat bucket yang dipakainya dia lepas sehingga memperlihatkan 3 buah piercings di telinga kirinya, kemudian tangannya mengeluarkan ponsel dari saku celana lalu sibuk memainkannya.

2.18, gue harus pulang sekarang.

Bunyi gesekkan antara kursi dan lantai terdengar saat gue turun dari kursi dan sedikit menggesernya, "balik ya, vin" gue melambaikan tangan ke arah Gavin yang sedang menggeser botol hitam dengan snifter bulat melengkung di sebelahnya, "hati-hati sya, awas balik langsung, jangan maen-maen dulu" balas Gavin, lagian maen kemana sih subuh-subuh begini.

"Tunggu" suara berat yang sempat membuat gue sedikit tertarik kini kembali terdengar, "hp lo" tangannya menyerahkan ponsel gue.

"Ah, makasih" gue mengarahkan telunjuk gue ke arahnya yang walaupun sedang dalam posisi duduk, namun tingginya masih melewati gue, "what should I call you?"

"Fabio" alis hitamnya menjadi titik point utama dari wajahnya, "Thanks, Fabio" ulang gue lagi.

"lo?" wajah tanpa ekspresi dan mata tajamnya, gue seperti melihat sisi dari diri Dimas yang ada padanya, "hah? Gue kenapa?" jawab gue seolah bingung, "nama" ucapnya lagi.

"Ah .., nama gue Tasya" gue tertawa sedikit.

"I like your embroidered dress, Tasya" badan besarnya kembali mengarah ke meja bar saat beberapa detik sebelumnya berhadapan dengan gue.

Gue melirik snifter dihadapannya yang masih terisi penuh minuman alkohol berperisa apel dan mangga yang tadi dipesannya, "thanks again, Fabio" lalu melangkah keluar dari Golden Monkey.















"Kalau mau tahu cowo tertarik sama lo atau nggak, coba tinggalin salah satu barang lo di deket dia" kalimat Javier terekam jelas di kepala gue, thanks to Javier Ravel Limiardi.















"Kalau mau tahu cowo tertarik sama lo atau nggak, coba tinggalin salah satu barang lo di deket dia" kalimat Javier terekam jelas di kepala gue, thanks to Javier Ravel Limiardi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"I like your embroidered dress, Tasya"

Say hi to Fabio with his black hat bucket

PETRICHORTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang