"Ku harap pertemuan ini tak pernah berakhir menjadi perpisahan yang menyakitkan"
Di Rumah Sakit Bakti Pertiwi seorang siswa tengah gelisah menunggu sang dokter keluar dari ruang rawat tersebut, ia ingin tahu apakah orang yang di dalam sana baik baik saja atau tidak.
Jio terus saja gelisah, ya siswa yang dari tadi tidak bisa untuk tenang tersebut adalah Delizio , ia mengkhawatirkan sosok perempuan yang tadi menjadi objek salah sasaran dari bola orange nya.
Ia merasa bersalah kepada gadis itu, dan iya berjanji pada dirinya untuk selalu menjaga gadis ceroboh yang belum diketahui namanya itu, dan berencana akan menanyakan namanya setelah gadis itu sadar.
Akhirnya dokter yang ditungu pun keluar dari ruangan tersebut, buru buru Jio bertanya kepada sang dokter.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Jio dengan datar, padahal dia tadi sangat khawatir , ia terlalu pandai merubah ekspresi wajah nya.
"Ada keretakan di tulang hidungnya, tapi masih aman asal tidak terbentur atau tersentuh dengan kuat." Jelas dokter tersebut yang membuat Jio semakin merasa bersalah.
"Saya akan memberikan resep obatnya, nanti silahkan tebus di apotek, mari mas saya tinggal sebentar." Lanjut sang dokter dan berlalu meninggalkan Jio.
Setelah kepergian sang dokter, Jio langsung memasuki ruangan dimana Jia berada, dan ternyata Jia sedang tertidur atau mungkin masih pingsan.
Jio mengambil tempat duduk tepat d sebelah kiri bangkar Jia, ia memperhatikan muka polos Jia yang tengah menutup matanya itu.
Ketika sedang asik memperhatikan muka Jia, tiba tiba gadis itu mengerjakan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke kornea matanya.
Jio yang melihatnya pun menjadi gelagapan seperti maling tertangkap basah, namun iya dengan cepat merubah ekspresi wajah nya lagi.
Jia merasakan bahwa hidungnya berdenyut sakit.
"Auh, gue kok bisa disini sih?" Ringisnya samb bertanya , entahlah dia bertanya kepada siapa, ia bahkan tak menyadari kehadiran pria tampan disampingnya itu, hingga akhirnya suara Jio yang menjawab pertanyaan Jia tadi.
"Lo disini karena tadi Lo pingsan gara gara ketimpuk bola." Jawab Jio atas pertanyaan tadi.
FLASHBACK ON.
JIA POV
"Ternyata taman sepi banget, padahal enak di sini , adem banyak pohon-pohon sama bunga." Gue ngomong itu ke Starla sambil liatin keadaan taman yang sepi banget tapi nyaman buat menyendiri.
"Males kali Ji , paling juga rata rata ke kantin lah, ngomong ngomong tentang kantin nih gw jadi laper." Jawab Starla sambil nyengir Karena perutnya sudah berbunyi.
Tadi waktu jam istirahat gue juga ga sempat makan, jadilah sekarang perut mendemo untuk di isi.
"Ya udah ayo ke kantin, gue juga laper nih." Ajak gue sambil berjalan duluan , lemot Starla mah:v
Nah jadi di sekolah ini kalau mau kekantin kita harus melewati sekitaran lapangan basket, sebenarnya ada jalan lain, tapi pada milih lewat lapangan basket, buat liat cogan katanya.
Waktu gue sama Starla lewatin lapangan basket behh brisik banget dengan teriakan cewe cewe karena ada cogan lagi ngebasket. Tapi gue mah bodo amat, jadi tetap jalan aja , eh tiba tiba ada sesuatu yang ngehantam idung gue.
Gue yang refleks pun megangin idung dan jatuh terduduk, darah keluar dari hidung gue, gue mimisan , rasanya pusing banget.
Dan ga lama semuanya gelap.
Jia POV end.
Flashback off.
_______"Jadi Lo yang main basket sembarangan?" Tany Jia sedikit emosi.
"Hm, maaf ga sengaja." Jawab Jio jujur.
"Nama Lo siapa? Kenalin gue Delizio kelas 12 IPA." Lanjutnya.
"Gue Delizia kak, kelas 10 IPA." Jawab Jia sambil menyentuh pelan hidungnya. Yang membuat Jio refleks memegang tangan Jia agar tidak menyentuh hidungnya sendiri dengan keras.
"Jangan di tekan kuat kuat nanti makin parah." Jelasnya sedikit khawatir dengan muka datar.
"Maaf gue beneran ga sengaja, sebagai gantinya gue bakalan lindungin Lo, mulai sekarang Lo jadi pacar gue ga ada penolakan." Ucap Jio tegas.
"Apa - apaan sih Lo kak, ga bisa lah seenaknya aja Lo bilang klo gue pacar Lo, lagian ya gue ga mau pacaran dulu terus ngelindungin ga harus jadi pacar kan-!" Bantah Jia panjang lebar ,namun hanya mendapat tatapan datar dari cowo itu.
"Ga ada penolakan ,titik-!" Tegasnya lagi.
Jia ingin membantah lagi, tapi nyali nya menciut akibat tatapan tajam dari cowo tampan tersebut dan akhirnya ia hanya bisa pasrah pada nasibnya ini.
___________
Gimana lagi kelanjutan nya? Tungguin up selanjutnya:)
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak, vote dan komen jika ada kritik atau saran:)
Salam sayang dari Delizio Tampan:)
/Kasih lope sekebon

KAMU SEDANG MEMBACA
JIA JIO
Teen FictionHanya secuil cerita masa SMA. Kata orang cinta itu tumbuh karena terbiasa. Dan yah benar kata tersebut. Aku sedang dan akan selalu mencintai dia dan sekarang aku sudah terbiasa dengan adanya dia. Tolong, jangan ambil atau rebut dia dari ku.