kedelapan

114 24 110
                                    

Happy reading brou <3


"baik-baik ya nak di sana, kamu harus pandai jaga diri" pesan ayah kepada Azel.

Iya, bulan lalu ketika Suho baru pulang dari luar kota. Ia pikir istri dan anaknya itu sudah terlelap karena ia sampai rumah tengah malam, tapi saat ia menaiki tangga alangkah terkejutnya ia mendapati putri nya itu duduk di taman memunggunginya.

"hei, kok belum tid—loh kenapa nangis sayang?" tanya Suho khawatir saat putrinya itu menoleh.

"Ucit mati?" tanya Suho lagi saat melihat kucing kedua mereka sedang di dekap Azel.

Azel menggeleng. "ayah" lirih Azel sambil menghamburkan tubuhnya kepada sosok di depannya itu.

Malam itu, Azella Shakira menumpahkan semua yang memenuhi kepala nya akhir-akhir ini kepada sang ayah, Suho.

Entah apa yang ayahnya itu lakukan, besok pagi nya saat Azel bangun tidur dengan kepala yang berat dan mata yang bengkak karena terlalu banyak menangis, Mama Airin langsung memeluk Azel dan berulang kali mengucapkan maaf.

Dan sekarang mereka sekeluarga sudah berada di bandara. Ah, Tante Wendy dan Renjun juga ikut mengantar Azel. Tadi nya hanya Renjun sendiri, tapi bunda nya itu memaksa untuk ikut dengan alibi agar Renjun tidak mengantuk saat nyetir.

"kalo uang saku nya kurang bilang aja ya" sambung ayah sambil menepuk-nepuk kedua pundak Azel.

"iyaa, udah cukup kok ini. Makasih ya yah udah bantu ngeraih mimpi Azel" balas Azel dengan senyum sambil mengusap jari-jari ayah.

Ayah mengangguk. Kini fokus Azel beralih ke abangnya. Abangnya itu menampilkan senyuman hingga mata nya hilang. Azel akui Bang Jeno itu tampan.

"maafin abang ya zel" ucap Bang Jeno dengan raut muka yang serius.

Azel menggeleng sambil tersenyum. "gapapa"

"jangan nakal ya di sana, jangan cape-cape, belajar nya jangan dipaksa, kalo ada apa-apa cerita jangan dipendam" kata Bang Jeno sambil mengusap kepala Azel dengan sesekali mengacak rambut adiknya itu.

"abang sayang Azel" sambung Bang Jeno sambil mengecup pipi kanan Azel.

"ih Bang Jeno!" Azel mengelap pipi nya.

Sekarang giliran berpamitan dengan mama Airin. Azel melihat mata cantik mama nya itu sudah berkaca-kaca. Segera Azel memeluk mama nya itu.

"Azel" lirih mama sambil membalas pelukan.

"mama ga ngizinin Azel karena mama takut kesepian, kamu yang selalu nemenin mama kemanapun, kamu yang selalu ngerti perasaan mama walaupun mama ga bilang, kamu yang selalu peluk mama saat pulang sekolah, sampai mama ga sadar kalo putri mama ini udah besar yang suatu saat pasti akan lepas dari mama, maafin mama ya nak" ucap mama tersedu-sedu.

"justru Azel yang minta maaf karena udah tega tinggalin mama" jawab Azel mati-matian menahan tangis.

Mama menggeleng, memeluk Azel erat dengan air mata yang terus mengalir. Saat itu pula Tante Wendy merangkul Mama Airin dengan bisikan menenangkan.

Mon Rêve || Lee HaechanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang