Hampir sampai

43 13 0
                                        

Happy Reading.

_________________

"Astaga...." Alexi menutup mulutnya tak percaya saat melihat monster bermata satu dan ukuran tubuh yang sangat besar sedang menatap bengis ke4 nya.

"Kita bisa ngelawan dia?" tanya Rennata tak yakin saat melihat ukuran tubuh mereka berbeda jauh dengan monster itu.

"Pasti bisa, kita harus nyari kelemahan monster itu," saut Rayhan yang diangguki Bayu.

"Tapi dia gede banget." Alexi memandang takut monster yang hampir dekat dengan mereka.

"RENNATA AWAS!" Rayhan menarik tubuh kecil Rennata saat ekor monster itu mengarah padanya.

Jantung Rennata berdetak lebih cepat, dia tidak bisa untuk tidak memasang wajah blank nya.

Monster jelek dengan tubuh besarnya dan ekor yang panjang kini menatap Bayu yang sedang membantu Alexi berdiri.

Rayhan yang melihat itu langsung menyerang monster itu, senyum miring terpatri diwajahnya sebelum tubuh monster itu semakin membesar.

"Shit!" umpat Rayhan kesal.

"Percuma lo nyerang tubuhnya." Rayhan menatap Rennata dengan kening yang berkerut.

"Maksud lo?" Rennata memutar bola matanya malas, "Dia itu sama kaya uler tadi, cuman bedanya dia nyerang."

"Terus kelemahannya dimana?" Rennata menggeleng tanda tak tahu.

"Matanya!"

Semua menatap ke arah Alexi seolah meminta penjelasan.

"Tiap nyerang kan matanya jadi warna merah," balas Alexi sambil menghindari serangan monster itu.

"Kita alihin perhatiannya terus Bayu, lo serang matanya." Bayu mengangguk paham, lalu setelahnya Alexi Rennata dan Rayhan mencoba mengalihkan perhatian si monster.

"Dasar monster jelek!" pekik Alexi membuat monster itu menatapnya.

Monster itu mendekat ke arah Alexi, namun tiba tiba tubuhnya terhenti karena sebuah akar berduri melilit kakinya.

"Rasain, gabisa jalan kan lo! Lo diem aja deh, kalo jalan buminya goyang nih!" Rayhan mencoba menahan tawanya saat mendengar sentakan Rennata ke monster itu.

Namun belum sempat tawanya selesai akar itu hancur yang membuat Rennata terpental ke padang pasir panas itu.

"Setan!"

"Bay! Buruan kampret!" Bayu mengangguk cepat dan mulai membidik mata sang Monster.

Serangan pertamanya gagal yang membuat Bayu mendengus kesal.

Serangan kedua nyaris mengenai mata monster, namun sayang justru mengenai wajah monster yang membuat tubuh monster itu semakin membesar.

"Susah nih!" kesal Bayu.

"Coba lagi!!"

"Gue bantu!" seru Rahyan dan mengeluarkan keris petirnya.

"Gue serang lo culek matanya." Bayu mengangguk semangat dan keduanya memulai aksinya.

Rayhan melempar kan petirnya tepat di wajah monster, saat menoleh Bayu dengan cepat melemparkan bola api itu tepat di matanya.

Erangan keras membuat Rennata dan Alexi menutup telinganya.

"Lagi Bay!"

Bayu terus menerus melemparkan bola apinya ke mata monster yang lama kelamaan mulai jatuh, dan menghilang.

"YESS!!" Sorak gembira diserukan Rennata Bayu dan Alexi, sedangkan Rayhan, tersenyum tipis.

"Kita cari gua nya."

2 jam kemudian mereka lelah terus mencari gua yang tersembunyi itu, terlebih perut mereka kosong karena belum memakan apa apa kecuali apel kemarin.

"Eh, bentar dah! Itu? Bukannya air terjun?" Mata Bayu menyipit saat melihat tempat yang jauh dari mereka.

"Kita cek aja."

Saat mereka mendekat, mulut mereka membulat.

Air terjun dengan air yang jernih tepat didepan mereka.

"Padang pasir ada air terjun?" tanya Bayu yang masih loading.

"Ini cuma tipu mata, dari pada disini mending kita cari gua nya."

"Eh eh, bentar!" Langkah Rennata dan Rayhan tertahan karena panggilan Alexi.

"Apa?"

"Itu belakang terjun ada yang aneh gak?" tanya Alexi yang membuat Rennata menyipitkan matanya yang justru membuatnya terlihat semakin cantik di mata Rayhan.

"Gue rasa....Itu gua nya."

"Kita masuk aja," ucap Bayu.

"Oke."

Saat mereka menembus terjunan air, baju mereka sama sekali tidak basah, hal itu membuat Alexi dan Bayu bingung.

"Kok baju gue gabasah?" Rennata menatap Bayu malas.

"Gue tabok lo lama lama, lemot banget sih jadi orang."

Bayu menyengir lebar, baru ingat dimana mereka semua sekarang.

"Itu..... Treasure yang dimaksud?" Semua menoleh ke arah Alexi yang menunjuk sebuah Batu yang diatasnya terdapat Berlian berukuran sedang dan mengkilap.

Semua tersenyum lebar, termasuk Rayhan.

"Kita bisa pulang!" seru ke empatnya bersamaan.

"Hihihi. Tidak semudah itu, bocah ingusan."

Tbc
Follow Tsnptry
Part 4 by Tsa

Treasure [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang