Fellic menatap langit-langit kamarnya, pipinya menggelembung lucu, kesal. Sampai saat ini ayah masih juga memberikannya kabar. Di peluknya boneka pemberian ayahnya erat-erat, seminggu tanpa ayahnya membuatnya rindu, belum pernah dia tinggal selama ini oleh ayahnya. Biasanya ayahnya akan menghubunginya memberikan kabar tapi kali ini ayahnya bahkan tak meninggalkan pesan sedikit pun padanya. Menelpon pun tidak. Seminggu ini juga Fellic seperti kehilangan nafsu untuk mengacau seperti biasanya. Dokter bodoh itu juga tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Apa jangan-jangan si Alaska itu sudah di tenggelamkan di laut mati? Ngaco!
"Fellic"
Suara itu, suara berat yang satu minggu ini dirindukannya. Dengan senyum lebar Fellic mendudukkan dirinya, namun sedetik kemudian dia membaringkan dirinya lagi membelakangi orang tersebut.
"Fellic, ayah pulang" kata ayah Fellic membelai kepala puterinya.
Fellic menarik selimut menutup sampai kepalanya.
Ayah Fellic tersenyum simpul melihat perilaku Fellic. Ngambek. Ya puterinya pasti sedang ngambek karena dirinya pergi meninggalkannya tanpa memberikan pesan bahkan mengabarinya pun tidak.
"Fellic, ayah sudah pulang. Apa Fellic tidak merindukan ayah?" tanya ayah Fellic
"Tidak."
"Ah, benarkah?" lagi Ayah Fellic tersenyum geli mendengar jawaban puterinya.
"Satu minggu ini Ayah mendengar bahwa Fellic menjadi anak yang baik, Fellic juga tidak mengacau satu minggu ini, apa karena ayah tidak ada?"
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali. Perasaan kesal masih menghinggapi hati Fellic walau sebenarnya rindunya masih jauh lebih berat dari kesalnya. Seperti kata Dilan, "rindu itu berat coy!"
"Sepertinya Fellic memang tidak merindukan ayah sama sekali ya? Padahal ayah rindu sekali dengan Fellic. Fellic juga semenjak ayah pergi jadi anak yang baik, tidak mengacau di rumah sakit. Baiklah, ayah akan pergi lagi kebetulan pekerjaan ayah masih banyak, kalau begitu---"
"AYAH JANGAN PERGI!" dengan sekali sentak Fellic memeluk ayahnya memotong ucapan ayahnya.
"Fellic juga rindu dengan ayah... hiks... kenapa.... kenapa ayah tega pergi keluar kota tanpa ngabarin Fellic? Kenapa ayah gak ninggalin pesan satu pun untuk Fellic? Ayah masih marah sama Fellic? Fellic salah! Ayah jahat! Ayah udah gak sayang Fellic lagi ya?" jerit Fellic, air matanya tumpah ruah membasahi baju Ayahnya. Ayah Fellic terkekeh pelan, di belai lembut kepala Fellic.
"Sudah, lepas dulu Fellic" pinta ayah Fellic
"Gak mau"
"Fellic"
"Gak mau. Nanti ayah pergi lagi". Ayah Fellic tertawa mendengar rajukan Fellic.
"Tidak akan. Ayah kan sudah pulang, sekarang Ayah akan nemenin Fellic"
Fellic mengangkat wajahnya, menampilkan wajahnya yang basah oleh lelehan air matanya serta bibirnya yang mengerut lucu.
"Huaaa..... Ayaaahhh..... Fellic rindu! Rindu ayah banyak!"
Ayah Fellic terkekeh pelan, lalu mengusap kembali pucuk kepala puterinya itu.
"Rindu sebanyak apa?"
"Banyak! Tak terhitung! Pokoknya banyak banget!" Fellic kembali menyerudukkan kepalanya ke tubuh ayahnya. Mendekap erat. Ayah Fellic menghela nafas, tersenyum hangat. Dia pun sama. Rindu sekali. Namun harus ditahan. Pekerjaannya yang menyita perhatian, serta hukuman kecil untuk puterinya yang nakal.
Alaska menyaksikan moment haru itu dari celah pintu. Niatnya tadi dia ingin memberikan vitamin untuk Fellic sekaligus meminta maaf untuk kejadian hina minggu kemarin. Bagaimana pun dia juga merasa bersalah walaupun menikmati. Eh.
Alaska mundur, meninggalkan ruangan Fellic. Biarlah dia tak ingin mengganggu waktu ayah dan anak itu. Dia akan memberikan obat ini nanti, sekaligus membicarakan hal penting dengan ayah Fellic.
*****
"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan target yang tepat"
"Ya, aku masih mencarinya, kau tahu rumah sakit ini begitu profesional. Aku tidak bisa sembarangan.
"Kau harus bergerak cepat, kita butuh barang yang bagus. Klien tidak bisa menunggu."
"Hm. Kau tunggu saja, sebentar lagi, katakan pada mereka untuk bersabar sebentar."
"Baiklah"
KLIK
Sambungan itu tertutup.
Dokter Aldo terperanjat kaget melihat dokter Alaska ada di belakangnya. Wajahnya seketika tampak cemas. Semoga dokter Alaska tidak mendengar pembicaraan ku. Batin dokter Aldo.
"Oh hai Dokter" sapa dokter Aldo
"Sedang apa dokter disini?" tanya dokter Alaska.
"Oh, kerabat ku sedang menelpon, jadi aku mengangkat panggilannya sebentar" jawab dokter Aldo.
"Oh ya dokter, aku dengar dokter sedang mencari jantung. Apa ada pasien dokter yang membutuhkan jantung? Tanya dokter Aldo.
"Ah, ya. Aku memang sedang mencari jantung untuk pasien ku. Dia harus segera mendapatkan jantung baru. Jika tidak dia tidak bisa bertahan lama"
"Gadis dari bangsal VVIP itu?"
"Ya. Si gadis gila itu" wajah Alaska berubah masam mengingat Fellic.
"Gadis gila?" tanya dokter Aldo bingung
"Ah. Maksud ku Fellic. Hehe." Alaska tersenyum kikuk.
"Oh ya dokter Aldo yang akan menggantikan dokter Faris di bangsal anak-anak kan?" tanya dokter Alaska.
"Iya dokter"
"Dokter, ada satu anak yang memerlukan perhatian khusus. Namanya Farhan. Dia menderita Neuroblastoma"
"Ah, ya. Aku sudah mendapatkan riwayatnya dari dokter Faris"
"Ya, aku harap dokter bisa menanganinya dengan baik. Dia selama ini sudah sangat berjuang"
"Dia masih stadium awal. Masih bisa disembuhkan" jawab dokter Aldo optimis.
"Ya, aku harap juga begitu"
"Kita hanya dokter, dokter Alaska. Sudah sewajarnya kita menolong pasien kita semampu yang kita bisa. Sementara untuk urusan hidup dan mati, semuanya kita kembalikan kepada Yang Maha Kuasa"
Alaska mengiyakan kalimat dokter Aldo dalam hatinya. Memang semua kembali lagi kepada kehendak yang diatas. Mereka hanya perantara. Dan tugas mereka hanya berusaha mengerahkan segala ilmu dan tenaga yang mereka miliki untuk menyelamatkan setiap nyawa manusia yang sangat berharga.
Holla! Long Time no very very see! wkwkwkk udah 3 tahun yaa cerita ini terbengkalai. aku mohon maaf banget baru bisa update skrg, dan partnya pendek pula. tapi aku merasa punya hutang kalo cerita ini gak selesai. heheu. soooooooo selamat menikmati untuk chap baru ini! untuk updatenya selanjutnya, seperti biasa aku cuma bisa bilang doakan sesegera mungkin, karena aku udh kerja sekarang heheu. psttt... cerita ini udh dari jaman aku maba sampe aku kerja belum kelar-kelar wkwkwkk. doakan semoga segera selesai yaa gaiseee!
bubbyyyeeee!
KAMU SEDANG MEMBACA
MEET A DOCTOR [ H O L D ]
Romance"Dasar dokter muda jelek, baru juga jadi dokter tapi udah sombong dan ngatur-ngatur! Liat aja nanti bakal aku bikin gak tenang jadi dokter pribadi aku!" - Fellicia Andriana. "Dasar anak kecil sialan! Berani-beraninya dia ngelecehin pekerjaan aku! O...
![MEET A DOCTOR [ H O L D ]](https://img.wattpad.com/cover/58692468-64-k255005.jpg)