"Kau apa?!" Hinata memastikan dia tidak salah dengar. Dia membuka sepasang timun yang melekat di mata sepanjang malam hanya untuk memastikan dia benar-benar sudah bangun dan tidak bermimpi.
"Aku di rumah Sasuke," terdengar suara bisik-bisik menjawab pertanyaannya. Hinata memijit pelipisnya dengan gerakan memutar, melirik jam dinding sekilas, lalu memejamkan mata ketika pening mendera.
"Serius Sakura? Kau tidak mimpi basah?"
"Dia... dia tidur di sebelahku. Oh Tuhan, aku lari ke kamar mandi untuk meneleponmu! Sialan Hinata, aku sepenuhnya sadar!"
"Emm.. oke? Coba-coba periksa, apa kau masih memakai baju yang sama dengan semalam?"
"Emm.. Oh, Goddamnit!" Sakura mengembuskan napas perlahan, suaranya tercekat dan dia seolah sedang mencari sisa rasionalitas dalam diri.
"Cukup, aku ke sana. Keluar saja dari apartemen sialan itu." Hinata melompat dari ranjang, meraih mantel, serta kunci mobil dari atas meja belajar. Dia akan menjemput Sakura sebelum semua terlanjur kacau.
"Tidak-tidak, maksudku... Aku tidak apa."
"Kau bercanda? Sasuke menidurimu seperti setengah populasi wanita dan kau bilang tidak apa?!"
"Dia tidak meniduriku! Kami tidak melakukan seks, oke?" Sakura menjawab panik. Hinata sudah mendesis, itu bukan pertanda baik.
"Jadi... bajumu?"
"Uh.. aku baru sadar, aku mungkin meninggalkan jaket Karin di Taka. Atau kau membawanya bersamamu?"
Hinata merasakan otot pipinya bergerak karena seringai jengkel yang timbul di sana. Dia meletakkan kembali kuncinya, "tidak Sakura..." gadis itu mengambil napas, "Aku tidak membawa barang-barangmu."
"O-oke..."
"Jadi kau mau dijemput atau gimana?"
"Aku-"
"Sakura?"
Di seberang sana Sakura tersentak ketika mendengar suara Sasuke memanggil namanya. Dia sedang duduk di atas toilet yang ditutup, mengeratkan pegangan pada ponsel.
"Kurasa aku akan mengabarimu nanti. Ada beberapa masalah yang harus... kubicarakan."
"Oke. Sedikit saran, aku tahu kau menyukainya seumur hidupmu, tapi coba sedikit berpikir sebelum kalian melakukan apapun. Kau dengar aku?"
"Iya mama."
"Oh, persetan."
Sambungan terputus. Sakura menatap ragu ke arah pintu kamar mandi, sedikit takut mengingat kemungkinan besar Sasuke sedang ada di balik pintu itu. Menunggunya.
"Hei, kau di dalam?"
"Y-ya! Sebentar." Sakura memompa napas ke paru-paru, berusaha membuatnya lebih tenang. Dia kemudian berdiri, menekan tombol flush di toilet, lalu melangkah menuju pintu setelah memastikan rambutnya tidak separah bagaimana dia terbangun. Walaupun jelas Sasuke mungkin sudah melihat kekacauannya mabuk tadi malam.
"Haaaiii," jika dia sering mendengar frasa ekspresif mati kutu, maka dia sekarang sedang melakukan itu. Sasuke berdiri dengan sangat tampaaaaan, seperti biasa, walau hanya memakai celana pendek dan kaos hitam sederhana.
Bahkan kalau dia memakai karung rasanya aku tetap menyukai lelaki ini.
"Kau baik? Apa sisa hangover masih ada?"
Sakura menggeleng cepat, "Tidak-tidak, senior. Aku hanya butuh ke kamar mandi setiap bangun pagi." Dia keceplosan mencetus informasi tidak berguna. Sial.

KAMU SEDANG MEMBACA
Little Things
FanfictionSakura menyukai Sasuke, mungkin ia rasa terlalu jelas seolah tertulis dengan huruf kapital di dahinya. Dari mulai hal remeh sampai poin paling spesifik dari figurnya, Sakura sudah memperhatikan pria itu diam-diam dan tidak berhenti menyukainya bahka...