^_^
.
.
Elleanor Inara Rahandika, Ellea begitu orang - orang memanggilnya. Dia tidak menyangka jika Zona Aman yang sudah di terapkannya selama bersekolah berantakan karena sebuah pertemuan dengan The Most Wanted of SMA Bimasakti, Achazio Brigit Ahar...
Brigit tiba di rumahnya saat rumah sudah dalam keadaan gelap. Dia berjalan menuju salah satu tangga yang melingkar di tengah ruangan di dalam rumahnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Saat akan menaiki tangga di pijakan pertama menuju kamarnya yang berada di lantai atas, lampu di sekitarnya menyala terang.
" Darimana kamu ?." tanya sebuah suara. Dia mendangar suara dari arah depannya. Tanpa menolehpun dia sudah mengetahui siapa yang bersuara. Suara seseorang yang ia hafal yang berstatus sebagai Ayahnya.
Rainer Maxime Aharon, Sang kepala Keluarga sekaligus pemilik AR company. Di mana ribuan Karyawan bergantung padanya.
Berdiri di balik sofa yang berada di antara dua tangga menuju lantai dua. Di mana Brigit berpijak
" Bri, jawab papa. " Ucapnya geram.
" Ngumpul. " jawabnya tanpa menoleh.
" Pasti dengan teman - temanmu yang tidak jelas itu, berapa kali Papa bilang. Jangan ikut balapan liar itu lagi, tidak jelas. " Murkanya.
" Papa ngga perlu ikut campur urusan aku. " jawabnya, menatap papanya di sofa dengan pandangan sinis.
" Pa. " Panggil sebuah suara.
Rainer menolehkan kepalanya ke sisi kanannya, di mana suara tersebut berasal. Terlihat sang istri Helena, melihatnya dengan pandangan khawatirnya. Bri mendengus mendengarnya kemudian pergi meninggalkan mereka.
" Bri, Brigit, Papa belum selesai bicara. " ucap papanya dengan suara keras.
" Pa udah, biarin Brigit istirahat dulu. " ucap Helena yang kini duduk di sampingnya mencoba menenangkan sang Suami.
" Aku tidak tahu harus kasih tau Brigit bagaimana lagi. " keluh Reiner.
" Nanti kalau sudah waktunya dia pasti ngerti, kita jangan lelah mengingatkan, jangan kamu kerasin, aku selalu di sampingmu Pa. " jawab Helena lalu memeluknya memeberikan ketenangan.
" Yaudah kita tidur yuk, sudah malam. " Ajaknya. Merekapun menuju kamar mereka yang berada di lantai satu.
- - - - - - - -
Brigit yang sudah rapi dengan seragam sekolah dan tas di punggungnya, turun menuju ruang makan dan sayup - sayup terdengar suara ceria adiknya yang berusia 4 tahun. Kenzie, Aciel Kenzie Aharon.
Kenzie menunduk mengetukkan jarinya di atas meja makan saat dia sampai di sana. Kemudian mendongak kearahnya karena mendengar kursi di depannya bergeser.
" Abang. " Panggilnya dengan mata berbinar lalu turun menuju kearahnya. Diapun menunduk kemudian tersenyum melihat Kenzie yang kini bersiri di depannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Kenapa ?. " Tanyanya.
" Kenzie mau di anterin Abang sekolah. " Ucapnya.
" Abang bawa Motor Zie. " jawab Brigit dengan mengusap puncak kepala Kenzie.
Binar di mata Kenzie meredup mendengar jawabannya.
" Abang juga sayang Kenzie. " jawabnya tersenyum sembari mengusap kepala Kenzie.
" Sekarang makan dulu, biar tidak terlambat sekolahnya. " Ucap Helena. Kenzie kembali menuju tempatnya di samping Helena.
Walaupun Brigit tidak menyukai Helena,tetapi dia tidak bisa jika harus membenci Kenzie, adiknya.
Karena menurutnya yang bersalah di sini adalah Helena dan Papanya.
- - - - - -
Lala menekan tombol rumah Ellea dengan Maysie dan Sasi yang berdiri di belakangnya. Sasi membawakan parsel buah untuk Ellea.
Pintu terbuka dan Mbak Yanti, orang yang membukakan pintu untuk mereka mempersilahkan untuk masuk dan menunggu di ruang tamu. Mbak Yanti kembali ke dalam rumah dengan bingkisan parsel di tangannya.
Tante Evelyn, begitu mereka memanggilnya. Berjalan ke arah mereka dan Tersenyum menyambut kedatangan mereka.
" Elleanya di kamar, langsung ke kamar aja. " Ucap Tante Evelyn setelah duduk di depan mereka.
" Iya Tante. " Jawab Maysie.
" Masih ingetkan kamarnya ?. " Canda Tante Evelyn.
" Hehehe masih kok Tante, kadang juga nginep. " Mereka tertawa.
" Kami ke atas dulu Tante. " Pamit Sasi mewakili Lala dan Maysie.
Tante Evelyn mempersilahkan mereka kemudian menyuruh Mbak Yanti membuatkan minuman untuk teman - teman Ellea kemudian mengantarnya ke kamar Ellea.
Lala mengetuk pintu kamar Ellea yang berwarna putih dengan hiasan sebuah papan persegi panjang berwarna putih dengan ornamen sakura di sekelilingnya dan bertuliskan Elle's Room.
Setelah mndapatkan jawaban dari dalam, mereka membuka pintu kemudian memasuki kamar.
Ellea yang mengetahui bahwa teman - temannya datang, ia bangun dari tidurannya kemudian bersandar pada kepala ranjang.
Lala, Maysie dan Sasi menaiki ranjang Ellea dan duduk mengelilinginya.
" Gimana keadaan Lo Ell ?. " Tanya Maysie.
" Udah mendingan kok. " Jawabnya.
" Syukur deh. " Ucap Lala.
" Eh Ell, tanya dong. " Ucap Maysie.
" Tanya apa ?. "
" Lo ada apa sama Kak Brigit?. "
" Iya, Waktu kita kembali ke UKS Lo udah ngga ada, terus di beri tahu sama dr. Rani, Lo udah pulang di jemput Abang Lo. " Tutur Lala.
" Yang jadi pertanyaan Gue Ell, kok bisa sama Kak Brigit. " Ucap Maysie merasa penasaran dengan apa yang terjadi sejak kepulangan Ellea tempo hari.
" Gue nggak ada hubungan apa - apa. Tahu kalau itu Kak Brigit juga Hari itu. " Jawab Ellea. Kemudian Ellea menceritakan kejadian yang terjadi selama tidak bersama mereka sampai Brigit yang membantunya keluar menuju Abang Abi yang sudah menunggunya di luar Gerbang Sekolah.
" Udah deh, Ellea masih sakit sudah Lo cecar macam - macam. " Ucap Sasi.
Lala dan Maysie meringis " Ya habisnya Gue penasaran Sa, jadi nanya langsung sama sumbernya. " Jawab Maysie membela diri.
" Betul sekali . " Jawab Lala menambahkan.
" Oh ya Ell, Pelajaran yang tertinggal udah Gue kirim fotonya ya ke Hp Lo. " lanjut Lala. Selama Ellea absen Sekolah dia selalu memfotonya lalu mengirimkan kepada Ellea, afar tetal mengikuti pelajaran.
" Iya La, Thank's ya. Nanti Gue tulis. Kalau sakit Gue males pegang Hp, bikin pusing. " Jawab Elle