Bisakah kalian menebak, apa yang terjadi ketika seseorang bunuh diri?
Ya, 99% kemungkinan akan "MATI"
Namun, masih tertinggal 1% kemungkinan untuk, "HIDUP"
Suatu hari di rumah besar mewah. Terdapat seorang ibu rumah tangga, mencoba untuk mengakhiri...
•catatan dr author: Cerita ini menggunakan sudut pandang Si Kalma, berbeda dengan prolog. Enjoy! -
Gelap... Dingin... Apa Mama di surga sekarang, Chicca? Aku tak dapat bergerak, yang kurasa hanyalah dingin... Sepi... takut... dan, rindu. Mendadak aku teringat akan masa lalu, masa-masa dimana dia selalu bersamaku, menjagaku. Tapi, Tuhan merebutnya dariku. Jika aku mati, apa aku akan bertemu dengannya lagi? Kurasa tidak.... Ah, pipiku terasa basah, apa aku sedang menangis? Chicca, maafkan Mama.... ... Hangat... Sekarang menjadi hangat Apa yang sebenarnya terjadi?
"Kalma!"
Benno? Benno... Aku merindukanmu... Aku merindukanmu, sampai-sampai aku mendengarmu memanggilku...
"Kalma, bangunlah!" "KALMA!"
*****
Aku membuka mataku, Namun seketika, semua nampak familiar bagiku. Suasana kegaduhan di ruangan ini, dan satu pria yang selama ini aku rindukan sedang menangis disampingku. Apa ini hanya ilusiku? Kumohon jangan, karena... Aku telah bertemu dia, aku tidak akan kehilangan dia untuk kedua kalinya... Benno Aditya Prakasa.
"B-benno..." panggilku lirih.
Dengan cepat dia menoleh kearahku, memelototiku, dan mulai memeluk aku yang sedang terbaring penuh darah di ranjang tempat ini.
Sebenarnya aku masih shock. Dimana aku sekarang? Kenapa kejadian ini terasa sangat familiar denganku? Dan, Benno... dia ada bersamaku.
"Benno... dimana aku?" tanyaku pelan.
Benno tersenyum sembari menghela nafas.
"Kamu tidak ingat? Barusan jatuh dari lantai 2 sekolah?" ucap Benno dengan wajah cemasnya.
Tunggu, kejadian ini terasa sangat familiar, batinku.
"Jangan-jangan," gumamku.
"Kenapa, Kal?"
Dengan wajah penuh keyakinan aku bertanya, "Benno, tolong jawab jujur, apa kita sekarang masih SMA?"
Benno terdiam menghiraukanku. Tangannya bergerak meraih tisu di meja samping ranjangku, dia dengan pelan membersihkan darah yang mengalir di kepalaku.
"Istirahatlah dulu, setelah sehat nanti kamu baru bisa bicara denganku," jawabnya seolah marah kepadaku.
Benno, sifat kamu sama sekali tidak berubah, batinku
Aku pandangi wajahnya, wajahnya berkeringat, mungkin dia takut terjadi apa-apa padaku. Aku mulai tersenyum setelah melihat tangannya yang gemetar. "Aku kangen Benno."
"Hah?" ucap Benno terkejut.
Sial, aku tidak bisa mengontrol mulutku saat melihatmu, batinku.
"Aku juga, Kal," balasnya lembut.
•\\\\• Aku tersipu. Wajahku memerah tomat, aku berusaha menyembunyikan wajah merahku dari Benno. Namun, terlambat... Benno tertawa melihatku tersipu.