Siang itu aku berdiri sendiri, menatap tempat yang biasa kita gunakan untuk saling melepas rindu.
Berfikir sejenak, sampai ada dua orang duduk disana.
Mereka tertawa atas hal kecil yang terjadi, sama halnya seperti yang kerap kali kita lakukan dulu.
Aku termagu beberapa saat lamanya, kutatap lamat bangku itu. Rasanya menyayat sekali.
Kehilangan itu begini ya?
Mengapa segalanya terasa menyebalkan?
Aku berkali-kali hampir kehilangan pijakan.
Dulu, sepersekian detik saja kita berbincang meski hanya mengandalkan saluran udara, itu sudah benar-benar berhasil menghapus lelah.
Sibuk yang aku jalani sehari penuh rasanya menguap begitu saja sebab suaramu.
Sekarang, memangnya apa yang mesti aku lakukan?
Aku tak memiliki kuasa untuk menahanmu.
Aku tak ingin egois, jika pergi adalah bahagiamu. Akan aku usahakan.
Bukannya tahap tertinggi dalam mencintai adalah ikut bahagia melihat dia'yang kita cintai' bahagia?
Sebisa mungkin aku akan turut bahagia.
Meski harus kulatih kembali langkahku untuk berdiri, aku akan berusaha untuk sanggup.
Meski kita tak lagi saling, doa terbaik akan selalu kukirim pada Tuhan untuk bahagiamu.
Dariku, yang sampai detik ini kerap kali merindukanmu.
Negri seribu makna
Arwa👻
