Pagi hari. Suasana di dalam bangsal VIP kamarku ini cukup menyenangkan. Namanya juga VIP. Di luar sedang gerimis. Aku bisa melihatnya lewat jendela kaca yang berembun. Sejak percapakanku dengan Rio tempo hari mengenai keadaanku, hari-hari berikutnya kulalui dengan baik. Aku hanya membagi ceritaku dengan Rio, dia melarangku memberitahu Ibu mertuaku, dan dia berjanji akan memperlakukanku dengan baik sebagai Kiara yang baru.Rio bergantian dengan Mama (yang sekarang coba aku biasakan memangil Ibu mertuaku begitu) menemaniku di bangsal rumah sakit. Dua hari setelah aku siuman, Papa datang menjengukku. Beliau keturunan Inggris-Indo, jadi terlihat gagah meski sudah berumur 60 tahun. Pantas saja Rio juga terlihat gagah tampan. Ah, apa aku harus banyak bersyukur mulai sekarang?"Pagi Kiara..", Rio datang pagi ini dengan membawa cheseecake di tangannya."Maaf ya, malam tadi kamu sendirian disini. Mama harus nemenin Papa beres-beres barangnya di rumah. Katanya 3 hari lagi Papa harus kembali ke Jepang untuk bisnisnya, jadi harus siap-siap. Dan aku baru dikabarin Mama jam 3 dini hari tadi..", dia menjelaskan cerita yang sudah aku tahu dari Mama. Semalam memang aku bersama Mama dan Papa, tapi beliau harus pulang untuk siap-siap untuk keberangkatan Papa 3 hari lagi, setelah memastikan aku baik-baik saja.Aku hanya tersenyum menanggapi. Aku malah sebenarnya lebih suka sendirian. Masih canggung jika bersama mereka, meski mereka juga akhirnya menerimaku yang didiagnosis dokter dengan amnesia."Dan aku minta maaf lagi nggak bisa lama-lama di sini Ra. Aku harus ikut meeting nanti jam 9, nggak bisa absen. Tapi nanti siang Mama dateng kok. Dan aku juga akan ke sini lagi sorenya""Udah lah Rio. Aku baik-baik aja kok sendirian. Lagian aku juga sering dikunjungi perawat, jadi nggak sendirian banget. Kalau memang kamu sama Mama atau Papa lagi sibuk yaudah nggak papa aku disini aja. Nggak usah pasang muka khawatir gitu"Dan ada si pria hitam juga sebenarnya."Udah sana kalau mau ke kantor. Cake nya sini bawa ke sini"Rio menghela nafas pelan dan terseyum menuju ke ranjangku sambil membawa cake. Dia telaten membuka bungkus cake dan menyerahkan garpu kecil untukku memakannya."Aku pergi dulu ya..", katanya dan sejurus kemudian tangannya terulur mengusap puncak kepalaku. Dan tersenyum.Aku tidak tahu harus menanggapi bagaimana, hanya terdiammelihatnya. Sampai dia berlalu membuka pintu kamar dan pergi.Aku memutuskan akan menerima diriku yang sekarang sambil mencari tahu tentang diriku yang dulu. Aku masih penasaran dengan kejadian yang menimpaku ini. Apa ini sungguhan? Rasanya baru kemarin aku mengeluh banyak tugas kuliah. Sekarang aku disini sebagai istri orang, entah bagaimana nanti kalau aku harus pulang ke rumah Rio dan hidup sebagai istrinya. Tapi untungnya Rio berkata akan mencoba memahamiku, meskipun kadang dia lupa dan memperlakukanku seperti istrinya dulu. Seperti sekarang, walaupun cuma usapan tangan di kepala, rasanya aneh."Bagaimana kabarmu?"Pria dengan pakaian serba hitam itu lagi-lagi datang menyapaku tanpa permisi. Aku mendengus melihatnya. Pasalnya sampai sekarang ketika aku bertanya tentang masa laluku dia tidak menjawab. Lalu apa gunanya dia menjagaku? Aku baik-baik saja sekarang."Apa? Kamu ingin merajuk lagi karena aku tidak menceritakan tentang masa lalumu? Sudah kukatakan aku tidak tahu", sambungnya lagi karena aku hanya diam tidak menghiraukannya dan terus makan cheesecake."Kalau begitu, cepatlah pergi. Aku tidak tahu di bagian mana kamu akan menjagaku", aku sudah bosan melihatmu. Begitu yang ingin kukatakan, tapi aku tidak tega."Aku menjagamu dari makhluk-makhluk yang iri ingin sepertimu", dia bersedekap dan melangkah mendekati ranjangku. Sekarang aku sudah biasa, tidak terlalu takut lagi padanya."Apa maksudmu?""Banyak jiwa-jiwa yang tidak seberuntung dirimu. Bisa berpindah ke tubuh orang lain. Dan ini rumah sakit. Apa kamu tidak takut?""Kan ada kamu..", polosnya aku menjawab seperti itu.Dia balas mendengus dan kemudian duduk di kursi sebelah ranjang."Kamu tau, sehari lagi aku akan menghilang. Jadi manfaatkan waktumu denganku sebaik mungkin. Kamu tidak perlu melihatku dengan tatapan bosan seperti itu, itu menyakitiku Kiara"Aku diam sejenak berpikir sambil memakan cake ku. Setelah hampir satu minggu dari hari siumanku, kesehatanku berkembang dengan baik. Aku sudah tidak merasa sakit kepala lagi. Hanya menyisakan beberapa kali terapi untuk amnesiaku, yang jelas itu tidak terlalu berguna jika saja mereka tahu yang sebenarnya. Berarti kemungkinan 2 hari lagi atau malah besok aku akan keluar dari rumah sakit dan tinggal di rumah Rio. Jujur aku masih belum siap."Jika aku mencari tahu tentang kehidupan lamaku, apa tidak apa-apa?""Silahkan kalau kamu mampu, tapi itu tidak akan merubah apapun. Kalau pun kamu bertemu dengan orang terdekatmu dulu, itu hanya akan membuat kesalahpahaman"Benar apa yang dikatakannya. Aku tidak bisa tiba-tiba memaksa dekat dengan orang-orang yang kukenal dulu."Oh ya..bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Rio?""Ya begitu, aku sudah berteman dengannya", jawabku santai sambil memakan cake ku lagi."Dia tidak menciummu atau apapun?"Uhukk..apa? Aku melolot menatap si pria hitam. Tidak percaya dia berani bertanya hal privasi seperti itu."Hahaha..santai lah Kiara. Aku hanya takut Rio jadi depresi karena perubahanmu. Kamu pasti tidak mau disentuh kan?""Hey! Meskipun saat ini aku istrinya, tapi sejujurnya dia seperti orang yang baru kukenal. Mana mau aku dicium sembarangan""Hmmm", si pria hitam itu manggut-manggut, namun kembali berkata intens."Tapi kamu harus siap Kiara, kalian suami-istri, ingat bagaimana tugas istri"What?Katanya dia menjagaku, tapi kenapa auranya sekarang terlihat menakutkan? Aku bergidik ngeri mencoba memahami pertanyaan si pria hitam."Apa..apa kamu bisa cerita tentang kehidupan sehari-hari suami-istri?", ragu-ragu aku bertanya pada pria ini. Sedikit malu sebenarnya."Mmm"Lihatlah dia mengerutkan dahi dan pura-pura berpikir, aku sebal melihatnya seperti itu."Ceritakan cepat. Kamu pasti paham maksudku", dengan sebal aku berkata seperti itu. Dia terlihat menikmatinya."Hahaha..ya yaa aku paham. Sebentar lagi kamu akan tinggal serumah dengan Rio. Dan kalian pengantin baru. Masak tidak terbayangkan kehidupannya seperti apa?", dia menjawab dengan riang dan mata mengerling menggodaku."Apa harus tidur bersama?""Memangnya harus pisah ranjang?", dia malah balik bertanya. Serius dia mau menggodaku."Kamu tahu kan, aku masih muda. Masih mahasiswa tingkat pertama. Aku tidak sanggup membayangkan kewajiban-kewajiban istri atau apalah itu nantinya. Kalau disuruh masak atau bersih-bersih sih nggak papa"Dia tertawa lagi."Kamu berpikiran terlalu jauh Ra", Pria itu diam sebentar sambil menatapku serius."Kamu cukup menjalani hidupmu seperti biasa dan jangan memaksakan diri menjadi orang lain. Kehidupanmu memang sudah berubah tapi tidak ada yang melarang kamu menjadi dirimu sendiri yang kamu sukai. Pasti nanti Rio akan paham. Yah perlahan-lahan"Aku menunduk memikirkan perkataan pria itu. Memang benar Rio berkata akan mencoba memahamiku. Tapi aku tetap istrinya kan? Bagaimana jika dia meminta lebih dan aku tidak mau. Apa dia akan kecewa?"Ah..aku harus pergi. Bye Ra", sekejap pria itu pergi lagi dan aku masih termenung sendiri.

YOU ARE READING
Second Life To Love
RomanceKiara Anjani Putih selama beberapa saat. Aku mengetahui sebuah bisikan yang anehnya tanpa suara, aku hanya mengetahuinya. Bahwa aku akan mengalami kehidupan kedua yang sama sekali berbeda dengan kehidupanku selanjutnya. Kamu harus siap, begitu katan...