Retorika 03

36 1 0
                                        

Akhirnya mentari mencuat ke permukaan bumi, tak begitu terang...
Hari ke 3 di oktober tak sedikitpun basah...
Semua mengering...
Sampah kemarin telah kering, siap untuk dibakar...
Tak ada yang pilu kali ini, semua terserap di tanah taman almahera...

Kabar sajak kuberikan...
Kubungkus kata perkatanya dalam sajak...
Kuberi sampul retorika 0.3...
Kenapa??
Biar menarik saja...
Sungguh sore ini jelmaan surya datang menghampiri...
Tidurku tak ada yang mengganggu...
Mimpiku pun terjamah dengan lembut...
Seelok senja di tiga oktober..
Secantik mawar yang baru mekar...
Dan seindah kata di sujud sepertiga malam...

Sore ini tak begitu ricuh...
Riuh kemarin telah hilang tersapu angin metronom 15.23...
Indah memang...
Terlihat batang-batang bergoyang sendu tertiup angin taman almahera...
Merujuk sebuah kata tanpa tanya pada rumput yang bergoyang....
Begitu kata ebit...
Kemelut perih yang datang kemarin lalu berlalu dengan iringan langit sore ini...
Memang tak begitu bagus...
Tapi menyentuh sejenak raga kusam sang penulis yang belum mandi...
Eh, aku belum mandi...
Aku masih saja menikmati almahera, sejak kemarin hujan, jadi tak begitu nikmat untuk dipandang...
Sekarang kuhabiskan dulu sedikit waktu memandang - mandang hijaunya taman almahera...
4 kamar...
1 kamar ukuran 2×3 tempat berdiam, menyudut, bersendu ria, memuaskan hasrat, menjilat sepi, menelan pahit dan bermimpi indah...

Sudah...
Sudahlah...
Kubungkus saja retorika ini dalam puisi...

Membiru langit seberang sana...
Mengutus mentari datang dan singgah...
Tiada lagi cemas akan kali melimpah...
Banjir almahera...
Masih tentang oktober...
Yang baru memulai lngkahnya...
Yang kian menari di atas rembulan...
Yang meliuk-liuk di sela-sela pohon itu...
Yang memberi tentu tek tentu esoknya...
Dan masih banyak menyimpan cerita...

Pikirku naif tentang nya (oktober)...
Muncul dengan hujan kemarin...
Lalu terdengar kata di p10...
Siaganya dari 3 lalu 2 kemudian 1...
Hampir saja...
Kemarin...

Aku tak jua berujung temu pada sebuah makna dengan diksi yang belum tentu tepat, akurat dan lekat pada sebuah hari demi hari yang kutulis dalam sebuah kabar berbentuk sajak dan puisi..
Lalu ku menari di atas bayang-bayang...
Dibawah lampu kamarku...
Di sela nafas yang tertahan ada rupa yang menawan...
Sosok inti dari sebuah makna dalam puisi..
Dari sebuah kabar tentang sukma...
Menggelitik hariku penuh dengan nikmat...
Lalu aku berhenti sejenak dalam kata-kataku...
Meraba dalam sunyi...
Melirik larik puisiku yang terbungkus hari demi hari di bulan OKTOBER...
Lalu...
Aku...
Aku...
Aku...
Aku...
Aku...
Aku...
Aku...
Hahahahhahaha...
Hahahahahahaa...
Harus terus di depan mereka...

Lalu apakah aku dapat pahala???
Hahaha...
Hahaha...
Belum tentu...
Dasar majnun...
Selamat sore sabtu...

Padang, 03 oktober 2020

Nomaden_human.    

O K T O B E RCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang