Metronom pukul 18.41...
6 oktober 2020...
Resah menimbang...
Keluh tak lekas didengar...
Suara tak di suarakan...
Anarki menjadi jadi...
Akhirnya turun jua segenap jiwa yang mebela kita...
Turun jua pejuang muda...
Mahasiswa dari penjuru nusantara...
Di suarakan suara kita...
Batinnya tergerak...
Telinganya tak kuat mendengar rintihan kaumnya yang di injak...
Oleh para petinggi yang haus...
Pandemi menjadi jadi...
Iapun juga menjadi jadi...
Cukup sudah terjajah asing...
Kini kita di jajah, di injak, di belenggu, di ikat, di mainkan sesuka hati...
Katanya punya nurani...
Tapi tak ada hati...
Akhirnya rakyat tak punya bapak lagi...
Kami tak punya yang berharga untukmu wahai petinggi...
Yang kami punya cuma rasa percaya...
Tapi tak jua kau hiraukan...
Kau hiraukan begitu saja...
5 oktober terlalu sakit...
Memberi luka..
Parah...
Memang bejat..
Kami di atur bak boneka...
Kami di injak bak tanah...
Atur saja sesuka hati..
Sekarang rakyat tak perlu wakil...
Sekarang kami tegak sendiri..
Percuma saja...
Percuma...
Percuma...
Timbang menimbang tak kau pikir..
Sampah memang...
Derita kami kau lipat gandakan...
Bangsat!!!
Mosi menolak lupa...
Suara kami dijalanan...
Suara kita biar kita saja yang suarakan...
Kau atur hidup kami...
Sepihak...
Hanya sepihak...
Aduh penguasa...
Bermain halus lah sedikit...
Pandemi kau campuri dengan virus baru...
Apa kasurmu tak empuk lagi??
Apakah kau perlu kasur yang baru???
Hei saudaraku, asal kau tahu kami tidur dilantai...
Kau memikirkan beli kasur baru...
Kami memikirkan makan..
Sekarang telah kau rasuki raga kami dengan belenggu, sekalian saja bunuh kami...
Bahkan tak boleh lagi bergerak sesuka hati...
Demokrasi??
Yang mana??
Apa??
Berubah sudah sila kita...
Keadilan sosial bagi rakyat yang mana??
Rakyat yang mau menjadi boneka???
Rakyat yang mau menjilati hawa nafsu para petinggi???
Hawa nafsu yang membabi buta??
Hei saudara...
Kami sedang sakit...
Jangan tambah lagi...
Jangan salahkan kami jika tadi kau dengar seruan kami "DPR goblok", memang menurut kami begitu...
Tak kau hiraukan lagi nasib kami...
Tak pikirkan lagi nusantara...
Goblok...
Orang bodoh mana yang setuju akan kerugian untuk rakyatnya sendiri...
6 oktober mengamuk...
Apa guna kau DPR...
Omnibus law buat para omnivora...
Bukan buat kita rakyat nusantara...
Suarakan saja...
Mosi tidak percaya...
Tolak saja...
Hancurkan saja...
Sekarang kita tak ada wakil...
Tak ada lagi...
Kita berdiri sendiri...
Rakyat nusantara...
Kau bapak pemimpin...
Tolong kami yang miskin...
Jangan tikam lagi kami...
Jangan buat kami seperti boneka..
Jika kau ingin berkuasa jangan korbankan kami...
Tak ada kabar baik lagi di 6 oktober...
Semua begitu tampak seperti neraka...
Percuma...
Percuma saja kita hafalkan fungsi DPR...
Kenyataan yang mencuat tak ada sedikitpun terealisasi...
Sudah...
Hei pengemis suara...
Jangan lupa...
Sebelum disana kau pernah menjadi pengemis...
Dasar pengemis suara...
Hei...
Bapak Jendral yang terhormat...
Turunkan saja lah lagi tanganmu...
Tak ada yang patut kau hormati lagi di nusantara ini...
Nusantara jangan menangis...
Padang, 06 oktober 2020
Nomaden_human.
