Senggama akhir senja

20 2 0
                                        

Bising bergelut di gendang telingaku...
Di tepi jalan yang basah setelah hujan...
5 oktober tak seperti bayanganku...
Ia menutup hari dengan rintik hujan yang dingin...
Beku, ragaku mendingin...
Telingaku juga bising...
Tetesan air tampak mengalir di sela-sela atap itu...
Tak ada ranum ku lihat sore ini...
Tak ada lembayung yang kudapati sekarang...
Hujan mendominasi tiap hari dan langkahku...
Baru saja aku keluar dari kediamanku, ia sudah mengguyur ragaku...
Di tepi jalan ini ku menunggu hujan pergi, agar berlanjut jua langkah ku yang kian menari di balik-balik bekunya sajakku...

Aaahhh...
Sudah lama kutunggu tapi tak jua bersua hari baik yang ku impikan...
Ini sudah kesekian kali aku berceloteh tentang hujan yang menahan langkahku yang lambat laun menghilang diterpa semunya sosok bayang yang terbayang di otak rancuku...
Ritme nya pun berbeda...
Dentang nya pun tak seirama...
Dan suaranya pun sudah tak senada...
Lalu kapan hujan berakhir???
Eh, hujannya pergi...
Aku beranjak dari tempatku berteduh, dan mulai lagi melangkah menuju rumah...
Lagi-lagi aku harus berhenti, mengantri di SPBU mengisi bahan bakar motor temanku...
Antriannya cukup panjang...
Hahahahaha...
Seru sekali menunggu sambil melihat ekspresi tunggu semua pengantri...
Hahahaha...
Lucu...
Ada yg berpaham...
Ada yang melamun...
Ada yang sok asik...
Ada yang buru-buru...
Ada yang cantik, eh...
Iya, ada yang cantik...

Giliran temanku hampir tiba...
Sepertinya sebentar lagi aku beranjak menuju almahera...
Taman nirwana penuh bencana...

Aku sudah sampai...
Di kediaman yang biasa...
Memupuk huruf demi huruf...
Menyiram kata perkataku...
Membersihkan semak melukar yang menjalar...
Dan menuai buah sajak dari puisiku...

Remuk redam rasanya...
Perlahan gelap menyelimuti almahera...
Maghribpun telah menjamah...
Lekuk langit masih saja belum kemayu...
Saban hari kutunggu tak jua datang impianku...
Ia jauh...
Sangat jauh...
Jauh dari pelupuk mataku yang sayu...
Ia berhenti seharusnya aku juga...
Rasanya baru kemarin...
Setahun berlalu begitu rusuh...
Menyertakan khlayak pada cerita kedua...
Pada musim hujan tahun sebelumnya...
Sepertinya oktober juga...
Kekelutanku semakin menjadi jadi...
Terdiam kaku tersudut menunggu mati...
Akhirnya...
Aku tidak bisa mati...
Lalu, apakah ada yang datang bertemakan kawan??
Adakah yang datang dengan elok...
Dan merubah senggamaku seketika...
Hari ini rancu...
Kadang hujan...
Kadang tidak...
Kadang mendung...
Kadang terang...
Seperti sebuah kabar...
Kadang-kadang...
Hanya kadang-kadang...

Selamat malam...
Maaf aku terlambat...

Padang, 05 oktober 2020

Nomaden_human.   

O K T O B E RCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang