[Satu Minggu Kemudian - 07.15 AM KST] Duk! Duk! Duk! "Dek! Bangun!" Pintu kamar Rose bergetar hebat karena gedoran brutal dari luar. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Chanyeol. "Dek, bangun nggak?! Woy, Kebo! Astaga, nih anak tidur apa pingsan sih?" teriak Chanyeol frustrasi. Karena tidak ada jawaban, otak jahil Chanyeol pun bekerja. "Oii, Dek! Cepetan bangun, ada Jimin di bawah nih!"
Cklek. Pintu terbuka dalam hitungan detik. "Hah? Yang bener, Bang? Mana?" tanya Rose panik sambil mengusap sudut bibirnya yang masih ada sisa iler. Matanya liar mencari sosok Jimin. "BWAHAHAHA!" tawa Chanyeol pecah seketika. "Dasar kebo! Giliran dibilang Jimin datang aja langsung melek. Gimana kalau dibilang Jimin mau ngelamar? Otw pingsan kali lo!" Chanyeol menjitak pelan kening adiknya sambil memegang perutnya yang sakit karena tertawa.
"Sakit ih, Bang!" Rose cemberut, sadar kalau dia baru saja dikerjai. "Heheh... maaf, Dek. Udah sana mandi, udah siang nih. Nanti telat," usir Chanyeol sambil mendorong bahu adiknya masuk kembali. "Iya, iya, bawel," gerutu Rose.
[Ruang Makan] Setelah siap dengan seragam rapi, Rose turun ke ruang makan dengan wajah segar. "Selamat pagi semua!" sapa Rose ceria. "Pagi, Nak," jawab suara berat yang sangat familiar. Rose terbelalak. "Lho? Ayah? Kapan Ayah pulang? Rose rindu banget!" Tanpa ba-bi-bu, Rose langsung berhambur memeluk ayahnya. Ayahnya tertawa sambil mengusap rambut putrinya. "Tadi malam, Sayang. Kamu sih, asyik nonton drakor di kamar pake headset, jadi nggak tau kalau Ayah pulang."
Chanyeol menyahut sambil mengunyah roti, "Tuh dengerin. Semalem Abang udah gedor pintu, bukannya dibuka malah makin kenceng suara ketawanya dari dalem." "Hehe, maaf ya..." Rose menyengir tanpa dosa. "Sudah, sudah. Sekarang makan dulu, nanti kalian telat," Bunda menengahi sambil menuangkan susu.
[Kelas XII IPA 1] Suasana kelas pagi itu cukup riuh. "Haii!" sapa Rose saat masuk kelas. "Hai juga, Rose!" balas Jisoo yang sedang sibuk membaca novel. Tiba-tiba, Lisa berlari menghampiri meja Jisoo dengan wajah memelas. "Jiss! Jisoo cantik! Bagi jawaban PR Kimia dong, gue belum nih!" Jisoo menutup novelnya sambil tertawa mengejek. "Makanya, pasang alarm tuh segede toa masjid biar satu komplek bangun! Rasain lo panik."
"Ish, laknat banget lo jadi temen. Cepetan Jiss, keburu Pak Botak masuk!" rengek Lisa. Rose yang tidak tega melihat Lisa hampir menangis akhirnya menyodorkan bukunya. "Nih, Lis. Salin punya gue aja." Mata Lisa berbinar. "Aaa! Rose malaikatku! Thanks ya!" Lisa menyambar buku itu dengan kecepatan kilat.
Baru saja Lisa mau menyalin, Jennie datang dengan napas ngos-ngosan. "Ihh... bagi dong! Gue juga belum!" Jadilah pagi itu Lisa dan Jennie berebut menyalin buku Rose sebelum bel masuk berbunyi.
[Kelas XII IPS 2] Sementara itu di kelas tetangga, geng Bangtan sedang berkumpul di meja paling belakang (minus Suga yang terdampar di kelas IPA 1). "Oii, Min. Gimana progres lo semalam?" tanya RM penasaran. Jimin menyisir rambutnya ke belakang dengan gaya sombong. "Luar biasa, Bro. Gue langsung ketemu Camer alias Calon Mertua, sama Abangnya sekaligus." "Hadeh... Gak lama lagi bucin nih anak," ledek Jungkook sambil melempar kulit kacang. "Enak aja! Gue tuh kagak bucin kayak lo!" elak Jimin tak terima. Sial banget disamain sama si kelinci bongsor ini.
"Gui kigik bicin kik li..." ejek Jungkook menirukan suara Jimin dengan nada menyebalkan. "Heh, ngaca! Situ lupa sama mantan?" celetuk J-Hope pedas. Savage. Jungkook langsung memegang dadanya dramatis. "Bang, jangan diingetin napa? Dedek kan jadi sedih lagi..." "Ciaa... yang gamon alias gagal move on!" ledek Taehyung sambil tertawa.
"Heh, udah! Jangan bertengkar mulu, guru bentar lagi masuk," lerai Jin selaku member tertua yang paling waras (kadang-kadang).
[Cafe - Pulang Sekolah] Tring... Tring... Bel pulang berbunyi, surga bagi para murid. "Rose, ikut ke cafe yuk?" ajak Jennie sambil merapikan tasnya. "Harus ikut pokoknya, gak nerima penolakan!" paksa Lisa dan Jisoo kompak. "Oke, oke, aku ikut," jawab Rose pasrah tapi senang.
Sesampainya di Cafe langganan, mereka memesan minuman dan duduk di sofa pojok yang nyaman. "Sekarang, kamu resmi masuk ke dalam geng kita ya, Rose," ucap Jisoo tiba-tiba dengan wajah serius. "Geng? Geng apa?" Rose bingung. "BLACKPINK," jawab Jennie, Lisa, dan Jisoo berbarengan dengan bangga. "Mulai sekarang kita nambah anggota, yeeey!" sorak Jisoo senang.
"Heh, dia aja belum jawab mau apa kagak," potong Lisa. "Gimana, Rose? Mau gabung sama cewek-cewek kece ini?" Rose tertawa kecil. "Eh... mau kok." "Yang bener?" tanya Jennie memastikan. "Iya, beneran," jawab Rose mantap. "Eh, liat deh. Ada 'Anak Batang' tuh di sana," tunjuk Lisa ke arah pintu masuk.
Jisoo mengepalkan tangannya, gemas ingin menampol. "Ish... udah dibilang itu anak Bangtan, bukan Batang! Lidah lo keseleo apa gimana sih?" "Iya deh, iya. Yang punya gebetan di sana mah beda, sensi amat," cibir Lisa. "Siapa yang punya gebetan?" tanya Rose kepo maksimal. Dalam hati ia was-was, jangan-jangan Jimin?
"Tuh, liat aja," kata Jennie sambil berdiri dan melambaikan tangan. "Woi! JIN TOMANG! Sini! Jisoo bilang kangen nih!" Mata Jisoo melotot, tangannya refleks membekap mulut Jennie. "Ihh... ngapain dipanggil Setan Tomang sih?! Malu tau!" Rose menghela napas lega. "Ooh... Kak Jin toh. Syukur deh bukan Jimin," gumamnya pelan.
Telinga tajam Jennie menangkap gumaman itu. "What? Lo suka sama si bantet?" "Hah? Siapa bantet?" Rose pura-pura bodoh. "Itu, si Jimin!" jawab Lisa. "Ah... kagak kok! Siapa bilang?" elak Rose dengan pipi yang mulai memerah. Tak lama, rombongan Bangtan menghampiri meja Blackpink.
"Ada apa manggil-manggil gue sampai heboh gitu? Untung lagi gak ramai," omel Jin, tapi wajahnya terlihat senang. "Hehe, ini si Jisoo kangen katanya," adu Jennie sambil melepaskan bekapan Jisoo. "Ih... gak ada ya! Fitnah!" elak Jisoo panik. Jin tersenyum jahil lalu duduk di sebelah Jisoo. "Ih... sama dong, aku juga kangen." Sementara itu, Jimin melihat Rose duduk di hadapannya. "Hai, Rose," sapa Jimin lembut. "Oh... hai juga, jimin" balas Rose dengan senyum kikuk. Duh, kenapa jadi canggung begini? Tiba-tiba, ponsel Rose berbunyi nyaring.
🎶 Ha, how you like that? You gon' like that... 🎶 "Bentar ya guys, angkat telepon dulu," pamit Rose sambil berjalan keluar cafe agar tidak bising. "Halo, Yah?" "Halo, Nak. Kamu sekarang ada di mana? Ini udah malam banget lho," suara Ayah terdengar khawatir. Rose melirik jam tangannya, memang sudah agak gelap. "Oh... ini, Yah. Aku lagi bareng teman-teman di cafe dekat sekolah." "Sekarang pulang ya. Abang kamu lagi jalan mau jemput ke sana," perintah Ayah. "Iya, Yah. Rose tunggu di depan ya." Rose menutup telepon dan kembali masuk untuk mengambil tasnya.
"Maaf ya guys, aku harus balik duluan. Disuruh Ayah pulang," pamit Rose pada teman-temannya. Jimin langsung berdiri. "Sini, aku antar kamu aja." Jantung Rose berdegup kencang, tapi ia menggeleng pelan. "Gak usah, Jim. Abang aku bentar lagi sampai kok." Raut wajah Jimin terlihat sedikit kecewa, tapi ia tetap tersenyum. "Oh... oke deh. Hati-hati ya." "Iya. Bye guys, duluan ya!" Rose melambaikan tangan dan berjalan keluar cafe.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.