[Auckland - Rumah Rose] Tok... tok... tok... "Iya, sebentar!" jawab Rose, kesal karena gedoran pintu mengganggu konsentrasinya menonton adegan puncak K-drama. Tok... tok... tok... "Astaga, Bunda! Kenapa nggak langsung masuk aja sih? Kunci kan ada, ishh!" Dengan langkah malas, Rose berjalan ke pintu dan membukanya.
Cklek. Mata Rose terbelalak kaget. Di hadapannya berdiri June, kekasihnya yang seharusnya masih disibukkan oleh urusan pekerjaan di luar kota. "Lho? June! Sayang! Kapan kamu pulang? Kenapa gak ngabarin? Jahat amat sih!" seru Rose, refleks melontarkan kata "Sayang" dengan nada girang. June tersenyum penuh kemenangan. "Cieee... Panggil sayang! Tumben banget, biasanya galak." Wajah Rose langsung memerah menahan malu.
"Itu salah panggil!" elaknya cepat. "Masa sih gue salah dengar?" goda June, terkekeh. "Bodo amat! Jawab kek pertanyaan gue! Kenapa gak ngabarin?" Rose kembali ke mode kesal. "Tanya tuh satu-satu. Terus, Ayang gak mau suruh gue masuk nih? Kan gue udah tepatin janji, gak bohong," balas June. "Ouh... Iya, ayo masuk," Rose baru sadar dan menyingkir dari ambang pintu. "Sendirian aja di rumah?" tanya June sambil melihat sekeliling. "Iya, nih. Tunggu sebentar, ya," Rose berjalan ke dapur untuk membuat minuman. "Ini kejutan, Yank. Gue baru aja sampai, langsung otw ke rumah Ayang," jelas June saat Rose kembali dari dapur membawa nampan berisi jus dan camilan.
"Ih, lo mah gitu! Suka tiba-tiba!" Rose cemberut. "Kan minggu lalu udah dikasih tau, malah dikira candaan. Jahat amat," June pura-pura sedih. "Eh, bentar. Tumben Ayang gak formal lagi bahasa sama gue?" Rose mendengus. "Apaan sih, June. Gue emang udah dari dulu gini, tapi gara-gara kemarin jadi kumat lagi nih. Auto ditegur ntar sama Ayah Bunda kalau mereka dengar," keluh Rose
"Astaga! Gue ngakak dengarnya," jawab June sambil tertawa terbahak-bahak. "Dasar! Bukannya ngasih saran malah bengek! Pulang sana!" usir Rose tiba-tiba. "Tega amat sih!" June menahan tawanya. "Bodo! Sana! Gue mau lanjut nge-drakor!" Rose menarik tangan June tanpa ampun sampai ke depan pintu. "Ini beneran langsung diusir?" tanya June, tak percaya. "Iya! Lo kan udah minum jus terus makan snack, jadi lo pulang gih! Bye!" Rose segera menutup pintu tanpa menunggu jawaban. "Kasar amat dah," gumam June sambil menggelengkan kepala, lalu pergi meninggalkan pekarangan rumah Rose.
[Keesokan Harinya - Cafe di Auckland] Rose sudah duduk manis di sebuah cafe langganan, menunggu Somi untuk 'nge-gibah' (bergosip) setelah sebulan tidak bertemu. Dua jam berlalu, tetapi Somi belum juga terlihat. "Heh! Lama gak?!" tanya Somi yang baru sampai dengan napas terengah-engah. "Dua jam gue nunggu, Setan!" umpat Rose, matanya melotot. "Hahah, maaf banget! Tadi ada masalah kecil sama Abang gue," Somi membela diri.
"Iya, deh. Fine. Lo mau pesan apa? Sekalian pesenin gue lagi, tapi lo yang ngetraktir, sebagai hukuman karena udah bikin gue lama-lama di sini!" tuntut Rose. "Astaga, kirain udah dimaafin," keluh Somi sambil memanggil pelayan. Saat Somi sedang memesan, Rose tanpa sengaja mendengar suara yang sangat familiar. Ia menoleh ke sumber suara itu. Seketika, matanya membulat, rasa terkejutnya berubah menjadi amarah.
"Sialan, June! Sama siapa tuh?" monolog Rose. "Lo ngomong apa, Ros?" tanya Somi yang mengikuti arah pandang Rose. "Lo liat siapa? Lo naksir sama cowok itu?" tanya Somi sambil menunjuk ke arah June yang sedang bersama seorang gadis. "Kagak! Gue ke sana sebentar, lo tunggu di sini," ucap Rose, lalu beranjak menuju meja June.
[June POV] Aku menarik napas panjang, memasang wajah termanisku di hadapan Yeri, gadis cantik yang sudah lama kuincar. "Yeri, mau gak lo jadi pacar gue?" tanyaku penuh harap. "Mau!" jawab Yeri dengan cepat, matanya berbinar. "Makasih, Yer. Eh, salah. Makasih, Sayang! Ayo kita pergi ke suatu tempat—" Tiba-tiba, tubuhku terasa basah dan dingin. Aku terkesiap.
"Apaan sih lo?!" Aku mendongak dan melihat siapa pelaku penyiraman itu. Rose. Wajahnya merah padam, menunjukkan ekspresi kemurkaan yang belum pernah kulihat. "APA-APAAN LO?! Gue kira lo pacar yang terbaik, ternyata pacar terbangsat! Ups, maksud gue mantan terbangsat!" seru Rose, penuh penekanan dan amarah. Yeri langsung berdiri, matanya menatapku tak percaya. "Oh, jadi lo udah punya pacar?! Fix, kita putus!" Yeri bergegas pergi meninggalkan meja.
"Jangan pernah lo perlihatkan wajah lo ke gue lagi! Jangan hubungin gue lagi!" Rose meludah dengan tatapan benci, lalu berbalik dan pergi secepat kilat. "Sialan," umpatku, mengusap wajahku yang basah dan kini terasa panas.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
June (IKON) Figuran
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.