|02|- ✧Alright

68 24 12
                                    

“Nak,”

“Nak?”

“Hei, bangunlah gadis kecil.”

Aku membuka mataku perlahan, kukedipkan tiga kali mataku, lalu kuregangkan badanku ke atas untuk mengurangi rasa pegal dalam tubuh akibat tidur dengan poster duduk. Padahal tidur dalam keadaan duduk itu bagus untuk tubuh. Tapi entah kenapa tubuhku malah merasa sebaliknya.

Aku mendongak dan menatap sendu kepada sang supir bis yang membangunkanku. Pada saat itu juga kesadaranku langsung normal, dengan segera aku bangkit dan membungkukkan badan sambil mengatakan, “Maafkan saya karena telah membuat anda kesulitan. Ditambah, dengan tidak sopannya aku tertidur di dalam bis hingga dibangunkan oleh anda. Maafkan saya, maaf,” ujarku berulang kali menderatkan kata 'maaf' kepada sang supir bis—membuat sang supir tersebut terkekeh kecil melihatnya.

Anak ini lucu sekali, batin sang supir dalam hati.

“Tak apa, kau sepertinya kelelahan, aku dapat memaklumi hal itu. Banyak sekali anak mahasiswa atau mahasiswi sepertimu yang tertidur di dalam bis ini dengan tidak sengaja. Mereka kelelahan setelah hampir 24 jam berkutat dengan huruf maupun angka,” balas Bapak supir tersebut dengan ramah. Beliau bahkan sempat memperlihatkan gigi putihnya karena tersenyum lebar, juga mata bagaikan bulan sabit itu. Indah sekali.

Aku menggaruk tengkuk leherku merasa gelisah dan tidak nyaman, “Kalau begitu, saya akan turun disini saja. Terimakasih telah mengantarkan saya, ” aku langsung bergegas keluar dari bis.

“Kau yakin akan turun disini? Memangnya arah tujuanmu kemana Nak?” tanya supir tersebut.

Aku mengerti maksud dibalik pertanyaan beliau itu. Aku berbalik kembali dan tersenyum, “Aku turum disini karena rumahku kebetulan berada di dekat sini. Jadi tinggal jalan sedikit akan sampai, paman.”

Sedikit berbohong tidak masalah bukan? Hanya ini, aku tidak ingin paman tersebut menjadi khawatir dan memberiku belas kasih. Aku tidak ingin terjadi hal seperti itu bagaimanapun caranya!

“Baiklah kalau begitu,” lagi balas si supir bis diikuti anggukan kecil dan pelan.

Aku kembali melanjutkan jalan untuk keluar dari bis. Satu persatu kakiku menuruni tangga bis. Namun, saat ditangga terakhir aku berhentu dan menoleh ke belakang, “Paman, jika aku ingin pergi ke suatu tempat, kuharap orang yang mengantarku nanti adalah Paman. Jadi, Paman kalau pergi bekerja menjadi supir bis lagi, tinggalkan tempat duduk untukku ya? Aku akan berusaha untuk terus ikut Paman kemanapun pergi, eumm ... mungkin.”

Ha-ha-ha! Baiklah, akan Paman sisakan satu tempat untukmu khusus. Hati-hati di jalan ya Nak. Ini sudah malam, ditambah lagi tempat yang akan kau telusuri ini adalah tempat yang sepi. Jadi berjaga-jagalah ya?”

Aku mengangguk mantap, “Terimakasih sekali lagi Paman! Paman hati-hati ya juga?!” ingatku pada si supir bis dari luar bis.

Pintu bis tertutup, kemudia melajulah bis tersebut di jalanan sunyi juga menenangkan ini. Aku menghela napas pelan, entahlah, tidak ada tempat tujuanku lagi setelah ini. Yang ada di pikiranku adalah 'bagaimana caranya bertahan hidup dari kejaran Ayah?'

Saat ini saja aku merasa ragu untuk pergi ke sekolah besok. Ada tiga alasan untuk itu. Pertama, Ayah pasti akan datang membawa paksa kembali ke rumah jika ia mengetahui bahwa anaknya berada di sekolah. Kedua, aku tidak membawa peralatan sekolah besok, ditambah aku tidak membawa seragamnya juga. Ketiga, jika aku tetap pergi ke sekolah, kembali ke nomor satu juga dua. Untuk itu semua dapat aku lakukan hanya saja uang dan tenagaku saja lagi yang belum cukup.

Ini adalah masalah ekonomi!

Aku mengacak rambutku dengan asal, merasa frustasi akan ini semua, “Tidak tahu deh! Malam ini aku bergadang saja! Lagipula tadi sudah tidur di bis. Aish, bikin pusing saja!”


Aku melangkahkan kakiku, berjalan lurus tanpa tujuan. Ingin menginap dengan teman, tapi aku sadar bahwa aku tidak memiliki teman. Tidak ada orang yang mau berteman denganku karena keluarga itu adalah penyumbang terbesar di sekolah.

Mereka takut untuk berteman kepadaku. Jika macam-macam, maka semua yang mereka nikmati saat ini pasti akan menghilang dalam sekejap mata. Dan lagi, mereka takut untuk terkena virus love yang dibuat-buat oleh orang-orang di sekolah agar tidak berani mendekatiku.

Dasar gosip!

Itu sama sekali tidak benar. Mana ada penyakit seperti itu. Itu adalah penyakit yang kalian buat-buat sendiri untuk semakin menakuti orang lain.

Aku berhenti sejenak ketika berada di suatu tempat, “Panti Asuhan kūikawā National?” gumamku saat melihat sebuah rumah besar dengan spanduk di depan pagar rumah tersebut bertulisan hal tersebut.

“Sejak kapan ada panti asuhan seperti ini? Dan lagi apa-apaan nama panti asuhan Ha-Ha!” Aku tertawa ketika kembali membaca nama panti asuhan tersebut. Orang lain mungkin tidak mengerti apa itu bla, tapi bagiku tidak seperti itu. Aku mengerti, itu adalah bahasa Hawai yang pernah kupelajari saat liburan panjanh musim panas beberapa tahun lalu.

Kūikawā, yang berarti terpilih. Namun, dalam bahasa istilahnya adalah seseorang yang unik atau special daripada yang lain. Itu berarti orang yang memiliki kelebihan seperti masalah wajah. Ada yang tampan, juga ada yang cantik. Ada yang berbakat dan ada juga yang hanya berbakat di bidang ini itu saja. Ya, seperti itulah bahasa instilahnya.

“Jadi, orang yang berada disini adalah anak yang terpilih? Dan disini mereka menerima berbagai macam anak yatim piatu dari berbagai dunia? Wah, mengesankan sekali!” Aku bertepuk tangan kecil ketika sudah memahami apa maksud dari nama tersebut.

“Apa aku masuk ke dalam panti ini saja ya? Hanya unt—”

“Jangan.”

Aku tersentak ketika mendengar suara berat juga datar tersebut. Suara itu memotong gumaman mulutku sendiri. Aku berbalik ke belakang dengan ekpresi wajah kesal. Dia itu bikin orang terkejut saja. Sudah begitu, dengan tidak sopannya ia memotong pembicaraan orang lain.

Aku menatap manik coklat kehitaman itu dengan kesal, kusilangkan tanganku di dada. “Hei! Kau tidak punya adab ya? Seharusnya kau jangan seperti tadi! Itu membuat orang terkena serangan jantung, ditambah lagi sangat tidak sopan memotong pembicaraan orang lain. Biarkanlah terlebih dahul—”

“Kalau tidak begitu kau akan masuk ke dalam. Kau akan menyesal ketika sudah berada disana. Aku yakin itu,” potongnya kembali sambik mengendikan bahu santai.

Aku menatap datar tidak suka pada pemuda di depannya. Pemuda itu langsung melongos pergi masuk ke dalam panti tersebut.  Awalnya aku tidak mengetahui itu, tetapi saat melihat dirinya yang berjalan mendekati gerbang rumah tersebut, membuat diriku mengerti. Dengan gerakan cepat, aku menahan tangannya.

Masih ada yang perlu kutanyakan kepadanya, terutama untuk kalimat yang ia lontarkan tadi. “Kenapa kau sangat yakin begitu?” tanyaku yang membuatnya menoleh kepadaku.

Kedua manik itu saling bertemu, ada kulihat sekilas rasa khawatir saat menatap manik itu dari dekat. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi di dalam sana?

『 Dearyun 』Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang