Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Alvian!" Sebuah suara menghentikan langkah kaki Luhan di koridor sekolahnya.
Luhan menolehkan kepalanya dan melihat Pak Agus yang mengisyaratkan dirinya untuk mendekat. "Ya Pak, ada apa?" Tanya Luhan setelah berada di depan gurunya itu.
"Ah begini, kan sebentar lagi akan diadakan ujian tengah semester. Bapak mau minta tolong sama kamu untuk membantu Devano dalam pelajaran matematika." Ujar Pak Agus panjang lebar.
"kenapa saya pak?" Luhan membulatkan matanya karena tentunya Ia bingung, Luhan baru bersekolah disini selama kurang lebih 1 bulan.
"Maaf karena ini mendadak tapi Bapak yakin kamu bisa membantunya Vian." Pak Agus berkata lagi sambil menatap Luhan dengan penuh harap karena Luhan memang anak yang pintar dan pindah ke sekolah ini dengan mendapatkan beasiswa full.
Luhan yang masih merasa sedikit bingung hanya mengiyakan tawaran tersebut. "Ga apa-apa kali ya itung-itung gue ngulang belajar juga" pikir Luhan sembari mengucapkan salam dan beranjak pergi dari hadapan Pak Agus.
. . . .
Setelah pelajaran pertama berakhir Luhan dan Sehun dipanggil oleh Pak Agus untuk membicarakan rencananya lebih lanjut lagi.
"Devano, karena pesan dari ayahmu dan memang bapak lihat nilaimu tidak kunjung membaik juga, Bapak meminta Alvian untuk membantumu belajar." Ucapan Pak Agus memecahkan keheningan di antara mereka.
Awalnya tentu saja Sehun ingin menolak, Tetapi entah mengapa ketika tahu yang akan mengajarinya adalah Luhan Ia malah merasa sedikit senang.
"Baik Pak." Jawaban singkat Sehun membuat Pak Agus sedikit kaget karena Ia kira Sehun akan menolak hal ini.
"Baguslah kalau begitu, Vian tolong bantu Devano ya." Ucap Pak Agus sambil menepuk punggung keduanya lalu menyuruh mereka unuk kembali ke kelas dan dijawab dengan anggukan oleh mereka berdua.
"Gue kira lo bakal nolak tadi." Ujar Luhan ketika mereka sedang berjalan bersama.
"Emang ga boleh kalo gue mau memperbaiki nilai gue sendiri?" Jawab Sehun sambil menyudutkan Luhan ke tembok secara tiba-tiba.
"Ha-hah kan gue cuman nanya!" Luhan menjawab dengan sedikit terbata-bata karena kaget dengan aksi dadakan Sehun. Mukanya memerah karena demi Tuhan, Sehun yang sedang menatapnya dengan intens sambil tersenyum miring terlihat sangat seksi.
"Hahahaha." Suara tawa Sehun menyadari Luhan dari fantasinya. "Muka lo merah banget kaya kepiting rebus." Lanjut Sehun yang masih tertawa.
Hal itu tentu saja membuat Luhan kesal karena sudah dibuat malu seperti itu. Entah keberanian darimana, Ia segera mendorong dan menginjak kaki Sehun.