"Kadang, kita memang perlu tahu, mau nya kemana."
Mouzeeya, gadis yang baru tumbuh dewasa itu berlagak ingin merasakan cinta. Mengenal seorang Sabilu membuatnya selalu merasa berbunga-bunga, bahagia, dan berfikir bahwa semuanya terlalu mudah dan aka...
Gracia menggeleng. "Nggak, kenapa emang? Bian janji buat kesini?"
"Nggak sih." Mouzee kini duduk di kursi meja makan, tangannya meraih satu potongan kecil ayam karage yang terletak di atas piring.
Gracia menggeleng heran, anaknya yang satu ini memang suka ada-ada saja. "Ya kalau gak ada janji, kenapa nanya gitu sih dek? Kalau kamu mau ketemu Bian ya kerumah nya sana."
"Sebenernya iya, tapi kok Mouzee ngerasa gak enak mau kesana.".
"Kenapa? Lagi ada masalah sama Bian?" tanya Gracia.
"Gak tau lah, ma. Mouzee bingung juga."
"Ya udah, mending cuci tangan dulu, jangan asal comot makanan aja. Terus siap-siap kita makan," kata Gracia dengan wajah kesalnya.
Mouzee bangkit dari tempat duduk, tadinya akan melangkah kearah dapur untuk cuci tangan di wastafel, namun langkahnya terhenti. "Kak Sagi belum pulang emang?" tanya Mouzee.
"Belum."
"Tumben sampai jam segini."
"Iya, Sagi katanya ikut ngurusin acara kampus. Mungkin lagi ada rapat dulu," sahut Gracia.
"Oh gitu."
Tak lama, terdengar suara mesin motor yang mendekati pekarangan rumah sederhana mereka, pintu gerbang kecil itu terdengar bergeser. Mouzee mengurungkan niat untuk ke arah dapur, gadis itu berlari menuju pintu rumah, sebab Mouzee tau betul pemilik suara motor itu.
Pada saat membuka pintu, ternyata benar, manusia yang sejak tadi dia tanyakan lah yang datang, bersama sang kakak.
"Loh, Kak Sagi, baru pulang?" Mouzee membiarkan pintu tetap terbuka, gadis itu menggunakan sandal nya untuk berjalan mendekati Sagita dan Abian yang ada di gerbang rumah.