Lelaki Berjaket Kuning

12 2 0
                                    

          Gadis dengan rok abu-abu itu menyusuri jalanan. Matanya berkeliling ke sekitar, asing dengan suasana baru. Kemudian kembali menunduk lalu memegang erat tali ranselnya. Disapanya dalam hati setiap hal yang ia lihat. Entah bunga, kedai kopi, minimarket, bahkan batu kerikil sebagai salam perkenalan.

          Pagi ini belum terlalu riuh. Pukul 6 pagi, dimana semua masih bersiap-siap berangkat gadis ini sudah dalam setengah perjalanannya. Sengaja berjalan kaki untuk menghafal setiap sudut mencari pulang. Tanda itu adalah setiap hal yang ia sapa.

       Gadis beransel abu-abu itu kemudian menepi. Di toko yang sedang tutup itu ia meraih ponselnya. Mencari daftar nama, lalu menempelkan ponselnya di telinga.

         "Bang Bin, udah berangkat belum?" Tanyanya membuka obrolan.

     "Belum. Lagi mau ambil helm. Kenapa? Nyasar?" Si penerima telepon kembali bertanya.

        "Nggak nyasar, sih. Tapi Bulan capek bang. Anterin ya. Ini posisinya lagi di toko yang masih tutup, di samping ada warung nasi kuning, trus di depan ada tukang fotocopy," gadis bernama Bulan itu menjelaskan.

        "Ya sudah. Tunggu. Lagian tadi diajak bareng ga mau. Nggak gratis ya. Nanti beliin nasi kuningnya," jawab Bang Bin.

          "Mau baku hantam kita?" Bulan menutup telepon seraya mengelap peluh. Baru setengah perjalanan bendera putih sudah dikibarkan. 

           Kakak Bulan bernama Bintang. Bang Bin sebenarnya kembaran Bulan. Selisih berapa menit, ya. Kurang tau. Tapi sebelum keduanya menangis untuk yang pertama kali, keduanya sempat bertengkar karena ingin keluar paling pertama dan mendapat panggilan "Kakak". Dan ya Bintang yang menang. Karena itu sampai sekarang Bulan memanggilnya Bang Bin. Namun jika kesal ia memanggilnya Bangteng. Plesetan Bang Binteng yang mirip menjadi kata Banteng. Bintang tak masalah. Bangteng dipikirannya adalah Bang Ganteng.

           "Neng mau ngojek?" Pengendara motor dengan jaket khas berlogo dealer motor dan helm hitam menepi.

          "Nggak bang maaf. Saya nunggu kakak saya," jawab Bulan.

          "Oh yang lagi makan nasi kuning ya?" Tanya abang ojek seraya menunjuk lelaki berjaket kuning. Lelaki itu makan nasi kuning, bihun, telur dadar dipotong memanjang, tempe orek dengan sepiring kerupuk terpisah. Keliatannya enak.

           Bulan menggeleng. Abang ojek pergi, mencari calon pelanggan yang lain. Bulan kembali menunduk. Diketuk-ketuknya ujung sepatu ke lantai toko. Sesekali ia merapikan rambut sebelah kirinya ke belakang telinga. Ia kemudian mengambil earphone dan memakainya untuk mendengarkan musik.

            Lelaki berjaket kuning di warung nasi kuning itu menatap Bulan sembari memakan sepiring kerupuk udang warna-warni. Gadis dengan rambut pendek sebahu tak lepas dari tatapannya sampai seorang lelaki membawanya pergi. Sosok itu menghilang di tengah-tengah jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan.

                            ****

          Bulan mematung di depan gerbang sekolah bercat biru dan abu-abu itu. SMA Nusantara. Bang Bin kembali memacu motornya. Si kembar ini tidak bersekolah di sekolah yang sama. Sudah perjanjian. Bulan mau memanggilnya abang asalkan tidak sekolah di tempat yang sama. Terlalu kaku untuk belajar di tempat yang sama dengan anggota keluarga. Apapun pasti ketahuan nantinya. Bulan tidak mau itu terjadi.

           "Papan nama sekolah itu nggak bakal hilang kalau nggak kamu liatin. Buruan masuk. Atau … kamu patung selamat datang baru?" ujar seseorang.

          Bulan menoleh. Lelaki dengan jaket kuning digenggamannya ini benar-benar membuatnya risih. Memang Bulan adalah siswi baru. Bertemu orang baru dengan keakraban yang seolah memaksa … eum, ini terlalu terlewat dari kata orang baik, kan? 

           Bulan buru-buru menunduk. Menggenggam erat tali tasnya dan buru-buru masuk ke dalam. Dari pagi dia selalu berurusan dengan laki-laki berjaket kuning. Apa memang di daerah sini sedang nge-trend sekali jaket kuning? 

            "Nggak usah lari. Kalau kamu anggap aku penculik dengan mobil jeep kamu salah besar. Siswi baru? Kelas sama jurusan apa?" Laki-laki itu menyusul.

            Dengan nafas tersengal-sengal Bulan menjawab pertanyaan itu sesingkat mungkin, "10 IPS 3."

            "Ayo aku antar. Aku Surya. 11 IPA 1. Kamu bisa percaya aku. Aku baik soalnya, karena aku nggak pernah ngaku-ngaku makan gorengan 3 padahal ambil 5," kata lelaki itu. Ternyata namanya Surya. 

            "Terima kasih," jawab Bulan.

         Bulan menunduk mengikuti langkah kaki lelaki yang ramah ini. Semua orang yang ia lewati ia sapa. Tanpa terkecuali. Dia mengenal semua orang, bahkan kucing putih berloreng oranye yang katanya adalah maskot sekolah ini. 

           "Namanya siapa? Semua orang di sekolah ini aku sudah kenal. Kamu belum," Surya berhenti. Berbalik dan menatap Bulan. Bulan terperangah kemudian refleks melihat wajahnya. Sepuluh detik. 

        "Bulan. Namaku Bulan," jawab Bulan. 

           Lelaki itu tertawa kecil. "Akhirnya aku punya teman. Ya nggak sesuatu di waktu yang sama, sih. Aku menyinari pagi sampai menjelang malam. Sisanya kamu lanjutin, malam sampai pagi lagi," katanya.

              Aneh tapi benar juga. Ini spesies orang aneh. Ya walaupun baik sih tapi tetap aja aneh, kan? Kelas 11, apa semua kakak kelas seperti ini?

             "Kelas aku dimana? Kok dibawa ke ruang guru?" tanya Bulan.

             "Bukannya harus ke ruang guru dulu ya kalau pindahan gitu? Aku nggak tau juga, sih. Takut salah, jadi kamu tanya aja dulu deh sama guru," jawab Surya. Dengan tangan kiri di saku celana dan tangan kanan menggenggam jaket, lelaki itu beranjak pergi.

             Dengan suara tertahan Bulan mengucapkan terima kasih. Dalam hati. Suaranya enggan untuk keluar. Namun ini benar-benar ucapan yang tulus.

               

SelenelionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang