"Ada saatnya kamu tidak membutuhkan komentar orang lain tentang dirimu"
Happy reading guyss.....
Bunda tak bisa memejamkan mata nya sedari tadi. Ia terus saja terpikir tentang Ara. Berita tentang Ara dan Gilang sudah tersebar dengan sangat cepat. Pamor Gilang yang sekarang sedang naik daun dibanding kan dengan Ara membuat Ara menjadi omongan publik. Banyak Netizen yang menghujat Ara sebagai cari sensasi atau bahkan hal-hal lainnya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
"Udah dong bun, duduk dulu napa? Palingan Kak Ara tu pasti ngelakuin hal yang dia anggap benar bun. Dia tu udah besar ngak anak-anak lagi." ucap Reino yang ikut pusing melihat bunda-nya yang tidak bisa diam sedari tadi.
"Bunda tu cemas No. Pasti besok berita telivisi isinya tentang kakak kamu semua. Fine lah kalau beritanya bagus, kalau enggak gimana? "ucap bunda yang masih cemas.
Reino pun memeluk bunda nya, "Udah ya bun, bentar lagi kakak pasti juga pulang" ucap reino yang berusaha menenangkan bunda nya.
Sebenarnya Reino tak jauh berbeda dengan Bunda-nya. Ia justru sangat cemas, karena kakak nya tidak pulang juga. Namun ia harus terlihat kuat di depan bunda nya. Agar bunda nya tak menjadi lebih cemas.
"Kak lo dimana sih? Lo baik-baik aja kan? Cepat pulang kak" batin Reino sambil menangis. Namun itu adalah tangisan yang tak kan dapat di lihat oleh siapa pun.
Tak lama kemudian terdengar lah suara mobil yang berhenti di perkarangan rumah mereka.
"Bun itu mobilnya kak Ara bukan? " tanya Reino.
"Iya kayaknya No. Yaudah yok kita keluar" ajak bunda.
"Yok bun" balas Reino sambil membimbing sang ibunda.
Bunda dan Reino pun segera bergegas menghampiri arah suara. Bertepatan dengan itu, Ara keluar dari mobil dengan wajah lesunya. Melihat wajah lesu itu, beribu-ribu pertanyaan yang sudah memenuhi kepala Bunda dan Reino pun harus hilang untuk sementara.
"Duh, kamu capek ya sayang" ucap Bunda sambil memeluk Ara.
Kak Kiki pun keluar dari mobil dengan membawa semua perlatan Ara. Kak Kiki yang menatap bunda pun hanya bisa tersenyum getir. Melihat ini semua Bunda sudah bisa menebak segala hal yang telah terjadi. Bunda hanya bisa menarik nafas dalam untuk memulai ini, karena Bunda tau masalah ini pasti akan panjang dan untuk itu mereka harus kuat melewatinya.
Bunda merangkul Ara menuju kamarnya. "Kamu istirahat aja ya sayang, lupakan segala hal yang telah terjadi td. " ucap Bunda ketika mereka telah sampai di kamar Ara.
Akhirnya Ara mendapatkan waktu sendiri. Ara pun mengeluarkan semua yang ia tahan sejak tadi.
Ara yakin, karirnya akan hancur. Ia telah gagal menjadi tulang punggung keluarganya. Setelah ini pasti tidak akan ada lagi yang mau memproduseri albumnya lagi. Bahkan mungkin saja film yang ia bintangi kali ini akan mendapatkan ranting yang sangat rendah.
Ara berharap, kontrak yang telah ia tanda tangani dengan salah satu produsen film tak diputuskan secara sepihak. Jika saja itu terjadi, entah bagaimana hidupnya lagi
***
Di lain sisi, bunda sedang berbicara dengan kak kiki serta Reino.
"Ki apa yang sebenarnya terjadi disana? Apakah sama dengan yang dikatakan di media? " tanya bunda.
"Kiki juga nggak tau apa yang terjadi sebenarnya. Waktu acara tadi tu kiki lagi di ruang khusus . Jadi Kiki nggak tau apa yang terjadi." jelas kiki

KAMU SEDANG MEMBACA
When 17 Years
Teen FictionSendirian.. Sudah hal yang biasa bagi Ara. Ara kira hidupnya bakal bahagia setelah mendapatkan beribu prestasi di sekolah dan karirnya yang sedang di puncak kesuksesan. Ternyata ia salah. Bahkan masalah hidupnya menjadi lebih berat. Ara merasa ia me...