Haruskah aku tersenyum karena menjadi sahabatmu?
Atau haruskah aku menangis karena hanya menjadi sahabatmu?
Hubungan kita diawali dengan persahabatan, dan diakhiri dengan persahabatan. Namun setelah tujuh tahun berlalu, haruskah hubungan itu tetap...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dalam kurun waktu lima tahun, Wang Yibo dua kali berganti pekerjaan. Dia menjadi workaholic dan tidak memiliki gagasan untuk berkencan dengan siapapun. Dia telah membeli satu unit apartemen kecil yang molek di pinggiran kota.
Kehidupan telah mengantarkan dan membawanya dari satu tempat ke tempat lain. Nasib telah memindahkannya dari satu titik ke titik lain.
Menjelang tahun ke tujuh, dia menginjakkan kaki di tempat kerja yang baru. Sebuah Nightclub mewah di pusat Beijing dan dikunjungi oleh orang-orang kaya yang diselubungi banyak affair gelap. Dia menjabat sebagai manager operasional di sana.
Semua mimpi-mimpi dari seorang mahasiswa lugu yang pernah dia ukir kini sirna berbaur asap rokok yng pengap diiringi lagu-lagu menghentak yang menghibur para tamu.
Banyak wanita-wanita kelas atas yang mencoba mendekatinya, mengajaknya berkencan.
"Bolehkah aku mengenalmu lebih dekat?"
"Kau pemuda yang sangat tampan dan bagiku kau sangat istimewa."
"Aku ingin membuatmu bahagia."
"Kau sangat pandai, menarik, misterius, dan... "
Dan entah apa lagi.
Wang Yibo tidak pernah tertarik dengan semua hubungan yang ditawarkan para wanita itu padanya. Kecewa dalam hatinya tidak pernah sirna. Dia cukup dewasa untuk jatuh cinta tapi masih terlalu muda untuk menemukan obat patah hati.
Pada suatu malam di hari ulang tahunnya yang ia lewati seorang diri tanpa ingin ditemani siapapun, Wang Yibo minum-minum sampai mabuk dan nyaris pingsan di tempat kerjanya. Samar-samar dia melihat bayangan Xiao Zhan berlalu dalam gelap malam, ia menangis karena merasa begitu sendirian, penuh kesakitan, bertanya-tanya dalam hati mengapa harus begini.
Badannya lemas dan kepalanya berputar-putar. Dia berjalan limbung menuju tepian kolam air mancur yang indah di taman depan tempatnya bekerja. Wang Yibo berdiri lantas membungkuk karena pusing dan mual, menatap bayangan wajahnya di permukaan air kolam.
Dia menyentakkan kepalanya ke belakang. Siapakah wajah di permukaan air itu? Dia nyaris tidak mengenal diri sendiri. Wajahnya pucat kuyu dengan kantung mata kehitaman. Sorot mata kosong dan menakutkan seperti zombie.
Dulu dia sangat cemerlang, penuh harapan, dan meskipun bukan orang yang periang dan murah senyum, dia masih memiliki impian dan keceriaan.
Dulu ibunya pernah berkata bahwa dirinya ditakdirkan untuk hidup sukses dan bahagia.
Apakah manusia dilahirkan untuk melawan takdir?
Apakah masih ada jalan untuk kembali?
Ada bisikan asing dalam benaknya.
Wang Yibo berpegangan erat pada tepian kolam air mancur. Kepalanya semakin berputar dan pandangannya gelap. Nafasnya sesak dan rasanya menyakitkan tiap kali menarik nafas. Dengan tertatih-tatih dia berjalan menuju tempat parkir, tapi belum sempat dia mencapainya, tubuhnya meluncur jatuh ke tanah yang dingin.