Bab 1.1 Masa Itu takkan terulang.

124 29 48
                                    

Pagi itu, dimana aku mulai memasuki Universitas swasta di kawasan ibu kota. Rasanya cukup bingung, dan malu untuk berjalan menelusuri sudut kampus sendirian, itu semua karna aku mahasiswa yang baru masuk tanpa mengikuti Ospek mahasiswa baru terlebih dahulu, bahkan satu orangpun aku tidak kenal orang disini.

Entah kenapa, beberapa pasang mata terus saja memperhatikanku saat itu, entah karna penampilanku yang norak, atau mungkin karna aku terlihat seperti anak desa yang baru menginjak ibu kota, entahlah, bahkan aku sendiri juga tidak mengetahuinya kenapa beberapa pasang mata itu terus saja menatap ke arahku, bahkan mereka juga seakan sedang menggumam, meski aku sendiri juga tidak tau gumaman mereka apa.

Tujuanku hanya satu saat itu, menuntut ilmu setinggi mungkin, agar orang tuaku bangga.

Sempat aku bertanya pada beberapa mahasiswa tentang kelas Ekonomi yang akan aku duduki saat itu, dan dengan ramahnya mereka menjawab, meski ada sebagian yang tidak mengetahuinya. Mungkin karna kampus itu terlalu luas dan banyak.

Sempat ragu untuk mengetuk pintu kelas, bagaimana tidak dihari pertama masuk, aku malah datang terlambat.

Akupun akhirnya menghirup napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.

"Permisi," kataku, bersamaan dengan ketukan pintu.

"Kamu anak baru, yah?" tanya seorang perempuan paruh baya yang saat itu membukakan pintu. Melihat dari penampilannya dia seperti seorang dosen, bukan mahasiswa seperti aku.

"Iya, bu" jawabku asal dengan sedikit anggukan singkat.

"Ayo masuk," ajaknya membukakan pintu.

Entah kenapa tiba-tiba wajahku berasa panas, bahkan tanganpun ikut berkeringat dingin, mungkin karna saat itu aku suruh memperkenalkan diri secara langsung di hadapan banyak orang yang tidak aku kenal, dan lagi-lagi beberapa pasang mata lelaki menatapku dengan tatapan yang cukup membuatku risih, dan itu semakin menambah rasa grogi.

Sebenernya ini kebiasaan buruku dari dulu, tidak punya nyali saat berbicara di depan orang banyak. Rasanya semua nyaliku ciut dalam sekejap.

Akupun menghela napas kasar, mencoba mengumpulkan keberanian untuk memperkenalkan diri, meski tatapanku sedikit ditekuk.

"Selamat siang semuanya, nama saya Hana Anggita, dan kalian bisa panggil saya Hana atau Anggi," kataku gugup, Mungkin saat ini wajahku berubah menjadi merah tomat, karna merasakan gugup di level tertinggi.

"Selamat siang semuanya, nama saya Hana Anggita, dan kalian bisa panggil saya Hana atau Anggi," kataku gugup, Mungkin saat ini wajahku berubah menjadi merah tomat, karna merasakan gugup di level tertinggi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Apa ada yang mau di tanyakan lagi pada Hana?" tanya Dosen menatap semua orang yang ada di hadapannya.

Dan itu membuatku semakin gugup, bagaimana tidak, orang-orang akan kembali melemparkan pertanyaannya, dan bisa saja pertanyaan itu sebuah sindiran yang mungkin aku tak mau jawab.

"Saya mau tanya, Hana udah punya pacar belum?" tanya seorang laki-laki yang duduk di bangku belakang dan membuat semua orang bergemuruh meneriaki dirinya dan tertawa.

Sedangkan aku hanya bisa pura-pura tersenyum, saat melihat orang-orang tak lagi fokus terhadapku, sampe akhirnya dosen menyuruhku untuk duduk dan mencari bangku kosong.

"Duduk disini aja," kata seorang perempuan pemilik senyuman manis yang menunjuk ke arah bangku kosong yang berada di hadapannya.

Dan itu membuatku mengangguk singkat dan tersenyum ke arahnya, akupun memilih duduk di depan perempuan yang belum aku ketahui namanya siapa.

"Aku Viji," katanya sembari mengulurkan tangan kearahku.

"Aku Hana, kamu bisa panggil itu," jawabku membalas senyumannya.

***

Lelaki itu terus menatap kearahku sampai jam istirahat tiba, sesekali dia tersenyum kecil, namun dalam sekejap senyumannya hilang dan kembali menatap buku yang berada di hadapannya.

"Apa mungkin aku mengenalnya?" tanyaku heran dan mencoba mengingatnya.
Sampai akhirnya lamunanku terpecah oleh kehadiran Viji yang mengajakku untuk ke kantin.

"Vi, kamu kenal cowo yang di ujung sana gak, Yang duduk di bangku no dua," bisiku tanpa menoleh ke arahnya.

Bukannya diam-diam viji malah mengeluarkan suara keras sembari menatap ke arah lelaki itu,

"Oh si Hasbi... !"

Ucapan Viji benar-benar membuatku malu menutup penuh wajah dengan buku. Aku yakin semua orang yang masih berada dalam kelas sedang memperhatikan kami berdua saat itu.

"Jangan kenceng-kenceng," kataku perlahan dan membuka sedikit penutup wajahku ke arah Viji.

"Oh... si Hasbi. Kenapa, ganteng yah?" Katanya berbisik ke arahku.

Aku hanya diam, tak menjawab ucapan Viji yang menurutku tidaklah penting, karna memang aku tidak begitu melihat jelas wajahnya.

"Vi, yuk akh istirahat, laper nih!" ajak perempuan yang belum aku ketahui namanya.

"Jadi ini Cici, ini Ima, ini Tiara, dan ini Ayu," kata Viji mencoba menunjuk masing-masing orang pemilik nama tersebut ke arahku, dan kubalas senyuman ke arah mereka

Saat itu kami sudah duduk di kursi kantin, entah kenapa kami ber enam langsung merasakan kecocokan satu sama lain sebagai teman baru, padahal, aku tipikal orang yang susah untuk berbaur, mungkin karna mereka orangnya baik, dan asik.

Dan saat itu juga Viji memasukan aku ke dalam Grup Whatsapp yang sudah dibuat mereka.
Dan tak lupa memasukan aku juga ke Grup kelas. Jadi dalam satu hari aku dimasukan ke dua Grup sekaligus.

➡️ Next.

➡️ Next

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mengejar Bunga Kampus (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang