The Unexpected Arrangement

1.3K 218 10
                                        

​[11.13 AM KST - Perjalanan ke Bandara]
​Setelah membersihkan rumah bersama Somi, Rose dan Somi bergegas menuju bandara untuk menjemput Ayah dan Bunda Rose.
​"Ayo, Som! Jangan lama-lama! Ntar gue usir lo biar gak bisa bareng si cogan lagi," gertak Rose sambil mengambil kunci mobil.
​Somi langsung pasang kuda-kuda. "Siapa maksud lo cogan? Vernon? Awas aja lo deketin!" Somi menyodorkan jari tengahnya.
​"Hahah, gak papa! Biar gue gak jomblo lagi," balas Rose, tertawa puas.

​[Kembali ke Rumah Rose]
​Rose, Ayah, dan Bunda tiba di rumah, diikuti mobil Somi di belakang. Di depan gerbang sudah ada mobil mewah yang asing.
​Rose mengerutkan dahi. "Lho, itu siapa? Perasaan aku gak nerima atau ngundang tamu, deh?"
​"Itu tamu Ayah sama Bunda," jawab Ayah.
​"Oo, tamu Ayah. Kirain Vernon si ingusan ama ortunya mau ngelamar gue," batin Rose.
​Ayah dan Bunda Rose segera masuk ke rumah, didampingi tamu mereka. Rose dan Somi hanya menunggu di teras, sementara mobil tamu itu sudah terparkir rapi.

​Tak lama, Vernon berjalan dari kejauhan, menyapa.
​"Som, ayo kita ke depan. Makan bakso," ajak Vernon, matanya hanya tertuju pada Somi.
​"Gue pergi dulu, ya. Bye!" Somi melambaikan tangan ke Rose dan langsung menyusul Vernon.
​"Dasar bule-bule jadian! Bukannya ngajak kek! Sakit, heh!" batin Rose, merasa terabaikan.
​Tint... Tint...
​Tiba-tiba, sebuah mobil lain berhenti tepat di depan gerbang.
​"Lah, kok kayak gak asing gue sama tuh mobil? Mobil siapa, ya?" Rose pun membuka gerbang lebih lebar agar mobil itu bisa masuk.
​Saat mobil itu masuk, Rose melihat platnya.

"Tuh kan, gak asing gue sama plat mobil ini, tapi di mana?" Rose memukul dahinya sendiri. "Astaga, dasar pelupa!"
​Seketika, sebuah tangan menahan Rose yang hampir memukul kepalanya lagi.
​"Sakit kalau dipukul," suara itu juga terasa familiar.
​Rose mendongak, matanya langsung melotot.
​"Whatt... Jimin?! Lo ngapain di sini?!" Rose hampir copot jantung.
​"Gue tamu kok. By the way, orang tua gue udah sampai kan?" tanya Jimin, agak clueless padahal mobil orang tuanya terparkir jelas di sampingnya.

​"Ya udah, ayo masuk," ajak Rose.
​"By the way, Somi mana?" tanyanya lagi.
​"Jalan sama gebetannya," jawab Rose ketus. Jimin hanya ber-oh ria.
​Jimin berjalan masuk mendahului Rose. "Misi, Bunda, Om," sapa Jimin dengan sopan, menyalami orang tua Rose.
​Rose hanya berdiri di ambang pintu. "Wah, dia ternyata masih manggil Bunda gue pakai Bunda. Keluar aja deh, males gue. Sekalian nongkrong sama Somi-Vernon."

​"Rose, kamu mau ke mana, Nak?" tanya Ayah yang melihat Rose berbalik.
​"Mau keluar sebentar, Yah," pamit Rose.
​Langkah Rose dicegat oleh Bundanya. "Jangan pergi dulu. Ini mau bahas tentang kamu juga, Ros."
​Rose merasa tak enak badan. Ia menelan ludah saat Ayah Jimin angkat bicara.
​"Rose, kami datang ke sini atas permintaan anak kami, Jimin."
​Rose semakin tak keruan.

​"Kami di sini mau menjodohkan kalian," ucap Bunda Jimin dengan senyum ramah.
​Oksigen mana?! Habis nih!
​"Kok pakai jodoh-jodohin, Bun, Yah?! Aku gak mau ya, Tante, Om!" tolak Rose, wajahnya pucat.
​Rose melihat wajah Jimin langsung murung. Duh, gue serba salah, deh.
​"Kenapa, Nak? Emang kamu sudah punya calon?" tanya Ayah Jimin lembut.
​"Gak kenapa-napa sih, Om. Cuma gak mau aja kalau dijodohin," harap Rose, semoga penolakannya diterima.
​"Tuh, gak ada apa-apa! Jadi, boleh dong kami menjodohkan kalian? Jimin anaknya baik kok," bujuk Bunda Jimin.
​Rose sudah terpojok, lelah berdebat. Ia pun menyerah.

​"Iya, deh. Terserah mau kalian," pasrah Rose.
​"Nah, bagus, Rose!" ucap Ayah Rose dengan bangga.
​"Please deh, Yah, muka dikondisikan," protes Rose, melihat Ayahnya kegirangan.

[Somi & Vernon POV - Setelah Rose Dijodohkan]
​Rose kini duduk sendirian di sofa ruang tamu. Orang tua dan orang tua Jimin masih berbincang di ruang makan, tapi ia sudah tidak fokus. Pikirannya melayang, antara menyesali persetujuan pasrahnya dan merasa bersalah melihat wajah murung Jimin.
​"Aduh, Jim. Maafin gue, ya. Gue cuma gak mau aja dipaksa-paksa," batin Rose.
​Tak lama kemudian, sebuah suara tawa renyah terdengar dari luar.
​"Lo benar-benar harus coba bakso di sana, Som. Daebak!"

​Cklek!
​Somi dan Vernon masuk. Wajah Somi berseri-seri, sementara Vernon terlihat lebih santai, jaketnya disampirkan di bahu.
​"Wah, Rose. Lo masih di sini," sapa Somi riang. "Gimana? Tamu Ayah Bunda udah pulang?"
​Vernon menatap Rose sebentar, lalu berjalan menuju sofa dengan wajah datar. "Masih di sini, Som. Tadi gue liat ada mobil gak asing di depan," gumam Vernon, tapi pandangannya malah tertuju pada Rose.

​"Oh, iya. Tamu itu, lho, Ros. Siapa tadi?" tanya Somi. "Yang bikin lo gak bisa ikut keluar?"
​Rose menarik napas panjang. Ekspresi Somi yang ceria dan Vernon yang sok keren itu harus segera diledakkan.
​"Gak penting tamunya siapa," ujar Rose, berusaha terdengar se-dingin mungkin. "Yang penting..."
​Rose berhenti, memberikan jeda dramatis. Somi langsung pasang muka penasaran.
​"Yang penting apaan, Ros? Jangan bikin penasaran, deh!" desak Somi.
​"Gue... dijodohin," kata Rose, suaranya pelan tapi tegas.

​SOMI pov:
​Prang!
​Somi yang sedang meletakkan kunci di meja konsol langsung menjatuhkan kunci itu. Matanya membulat, menatap Rose seolah Rose baru saja mengumumkan dirinya akan pindah planet.

​"Hah?! HAH?! Lo ngomong apa, Rose?! Lo baru aja pulang dari bandara, kok tiba-tiba dijodohin?!" teriak Somi, nyaris histeris. Ia menghampiri Rose dan mengguncang bahunya. "Lo sehat? Lo salah makan apa di bandara, sih?!"
​"Gue serius, Somi. Tadi orang tua mereka dateng, terus... jodohin gue," Rose mengulang, makin pasrah.
​"Gila! Gak lucu! Lo gak pernah cerita punya pacar, tunangan aja nggak, kok tiba-tiba—" Somi menghentikan guncangannya. Wajahnya berubah dari syok menjadi curiga. "Lo bohong kan? Cuma mau bikin gue panik biar batalin kencan, kan?!"

​"Vernon dengar sendiri, Somi. Mana ada orang bohong soal dijodohin," sela Rose.
​"Lo diam! Tunggu, lo dijodohin sama siapa? Jangan bilang sama Om-om creepy pemilik kantor sebelah yang sering natap lo mesum itu?!"
​Rose menggeleng. "Sama... Jimin."
​Vernon yang sedari tadi diam di sofa sambil pura-pura tidak mendengar, mendadak tersedak ludahnya sendiri.

​VERNON pov:
​Vernon menoleh. Alisnya terangkat tinggi, dan ia menyeringai lebar—bukan senyum menawan, tapi senyum yang sangat menyebalkan.
​"Oh. Jimin. Si anak ingusan yang lo julukin 'Bantet' itu?" tanya Vernon santai, penuh nada mengejek.
​"Tutup mulut lo, Vernon! Lo lebih ingusan dari dia!" balas Rose kesal.

​Somi kembali berteriak, kembali mengguncang bahu Rose. "JIMIN?! THE BANTET?! ROSEANNE PARK! Lo kan benci banget sama dia! Kenapa lo setuju?! Lo pasti dipelet, Ros!"
​"Gue gak setuju!" Rose menepis tangan Somi. "Gue terpaksa. Tante sama Om Jimin maksa banget, terus Ayah Bunda kayak bangga gitu. Ya udah, capek, gue bilang iya aja!"
​Somi menatap Vernon. "Lo denger, kan? Gak masuk akal, Vern! Ini pasti prank! Coba lo tanya Rose, dia setuju gak?"

​Vernon melipat tangan di dada, matanya menatap Rose lekat. "Roseanne, lo mau nikah sama Jimin? Padahal gue baru aja mau ajak lo pedekate lagi setelah sepuluh tahun," tanya Vernon sembari bercanda
​"Gak tahu!" Rose sudah frustrasi. "Pokoknya gue sekarang tunangannya Jimin, clear! Jangan ada yang deket-deket gue, gue udah laku! Lo berdua pergi sana!"
​Vernon tertawa kecil, senyum menyebalkannya kembali. "Tunangan sama Bantet, eh? Good for you, Roseanne."

​Somi menatap Rose dan Vernon bergantian, lalu menjerit. "Ya Tuhan! Dunia mau kiamat! Bestie gue dijodohin sama cowok yang dia benci! Gue mau minum air tujuh sumur sekarang!" Somi langsung berlari ke dapur, meninggalkan Rose dan Vernon yang saling bertatapan dingin.
​Vernon mengangkat bahu. "Ya udah. Selamat ya, tunangan sama si Bantet" ucapnya, lalu menyusul Somi.

​Rose terduduk lemas di sofa. Diapit calon suami yang ia anggap menyebalkan dan teman SD yang sama-sama menyebalkan, hidupnya baru saja menjadi drama komedi yang absurd.


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
HEALING WITH YOU [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang