Welcome to my world! 📖✨ Terima kasih sudah menyimpan cerita ini di perpustakaanmu. Hope you enjoy the journey as much as I enjoyed writing it.
Akhir pekan di Seoul biasanya menjadi waktu bagi para eksekutif untuk bersantai, namun bagi Rose, Sabtu pagi ini diawali dengan selembar daftar belanjaan yang panjangnya nyaris menyentuh lantai. Ia keluar dari kamar dengan langkah gontai, menatap kertas itu seolah sedang meninjau laporan kerugian perusahaan.
"Ibu, apa daftar ini serius? Kita mau buka restoran atau bagaimana?" tanya Rose sambil membolak-balik kertas tersebut.
"Hanya belanja bulanan biasa, Chae-young. Tolong belikan ya, nanti Ibu buatkan es krim buah kesukaanmu," sahut Ibu dari arah dapur dengan nada yang tak bisa dibantah.
Rose menghela napas panjang. Membayangkan harus berdesakan di pasar swalayan saat akhir pekan adalah mimpi buruk bagi seorang CEO yang biasanya hanya berkutat dengan dokumen digital. Namun, lamunannya buyar saat sebuah suara yang sangat ia kenal terdengar tepat di belakang telinganya.
"Wajahmu ditekuk begitu, makin mirip kucing pemarah, Sayang."
Rose tersentak, hampir saja ia melempar daftar belanjaan itu ke wajah pria di belakangnya. "Sial! Kamu mau membuatku mati muda? Baguslah kamu datang, cepat bantu aku belanja!" Rose langsung menarik lengan baju Jimin tanpa memberinya kesempatan untuk protes.
"Tunggu dulu! Aku bahkan belum memakai sepatu dengan benar!" protes Jimin sambil tertatih mengikuti langkah cepat Rose.
"Pakai saja sandal jepit satpam di depan kalau perlu! Kita ke pasar, bukan ke peragaan busana, Jimin!" Rose mendengus, mencoba menahan senyum saat melihat Jimin yang biasanya rapi kini tampak sedikit berantakan karena ditarik paksa.
Pasar swalayan pagi itu sangat ramai. Di lorong daging, Jimin berdiri dengan wajah bingung, memegang sebuah kemasan daging beku seolah sedang memecahkan kode rahasia negara.
"Sayang, ini... ini ayam, kan?" tanyanya ragu.
Rose melirik kemasan itu dan memutar bola matanya. "Kenapa kamu mengambil daging sapi? Taruh kembali sebelum aku kehilangan kesabaran." Rose mengambil kemasan ayam yang benar dan memasukkannya ke troli.
"Maaf, kalau soal telur aku paham, tapi kalau daging hewan yang sudah dipotong-potong begini... aku menyerah. Aku kan ikan," celetuk Jimin sambil menyeringai.
"Kamu ikan? Kalau begitu batalkan saja pertunangan ini. Aku tidak mau menikah dengan makhluk air," balas Rose datar, sengaja mempercepat langkahnya meninggalkan Jimin.
"Tunggu! Jangan cepat-cepat! Napasku habis mengejarmu!" seru Jimin sambil terengah-engah mendorong troli. "Aku hanya bercanda. Kamu tidak bisa hidup sehari pun tanpa melihat wajah tampanku ini, kan?" Jimin kemudian memasang wajah aegyo andalannya, membuat beberapa ibu-ibu di sekitar mereka menoleh sambil berbisik.
"Rasanya aku ingin muntah," gumam Rose, berpura-pura mual meski jantungnya berkhianat dengan berdetak lebih cepat. Ia segera menuju kasir untuk mengakhiri penderitaan sosial ini.
Saat barang-barang sudah dikemas, Rose menunjuk tumpukan kantong belanjaan di depan Jimin. "Nah, bawa semua itu ke mobil. Anggap saja ini olahraga pagi."
Jimin terperangah. "Sebanyak ini? Kamu tidak mau membantuku sedikit pun?" tanyanya sambil hanya meraih seikat sayuran kecil.
Rose menatapnya dengan tatapan "Direktur" yang paling dingin. "Bawa semuanya, Jimin. Aku tidak suka calon suamiku menjadi pria pemalas."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Rose tepat setelah kalimat itu keluar. Ia membeku. Kata "suami" itu meluncur begitu saja tanpa permisi dari bibirnya. Satu detik kemudian, wajah Jimin berubah drastis dari lelah menjadi sangat berseri-seri, seolah ia baru saja memenangkan penghargaan pengusaha terbaik tahun ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
ECHOES OF ROSEANNE | JIROSE [END]
أدب الهواةRoseanne Park, gadis manis yang baru saja pindah dari Selandia Baru, tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Nasional akan dimulai dengan penuh tawa berkat guru koplak dan tiga sahabat barunya: Lisa, Jennie, dan Jisoo. Namun, ketenangan Rose t...
![ECHOES OF ROSEANNE | JIROSE [END]](https://img.wattpad.com/cover/243090635-64-k346828.jpg)