Hujan gerimis mulai membasahi aspal Seoul saat Rose melangkah keluar dari mobilnya di sebuah area parkir bawah tanah yang sepi. Ia tahu, untuk memecahkan kode yang melibatkan jaringan internasional, ia butuh seseorang yang terbiasa bermain di area abu-abu. Seseorang seperti Vernon.
Vernon sudah menunggu, bersandar pada mobil sport hitamnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Aku tidak menyangka kamu akan menghubungiku secepat ini, Roseanne. Kupikir kamu sedang sibuk bermain rumah-rumahan dengan suamimu yang pelupa itu."
Rose tidak terpancing. Ia menyodorkan ponselnya. "Lacak nomor ini. Sekarang. Dia tahu tentang Grid Island dan dia mengancam keamananku."
Vernon menatap layar ponsel itu, lalu beralih pada Rose. Matanya menyipit. "Dan apa imbalannya? Kamu tahu aku bukan orang yang bekerja atas dasar amal."
"Kamu bilang kamu ingin melihatku bahagia," balas Rose dingin, menatap lurus ke mata Vernon. "Jika kamu membiarkan ancaman ini menyentuh Jimin, kamu tidak hanya menghancurkanku, tapi kamu membuktikan bahwa semua ucapan manismu selama ini hanyalah omong kosong. Bantu aku, dan aku akan berutang budi padamu secara profesional."
Vernon mendengus, lalu menyeringai tipis. "Utang budi dari CEO Company P? Menarik."
Hanya butuh waktu kurang dari dua jam bagi jaringan informan Vernon untuk bekerja. "Nomor itu terlacak ke sebuah safe house di Gyeonggi. Pemiliknya adalah Kim Hanbin. Mantan agen intelijen korporat yang menghilang dari radar setahun lalu. Dia bukan orang sembarangan, Roseanne. Berhati-hatilah."
🐿
Rose tiba di sebuah bangunan tua yang tampak tak berpenghuni. Di dalam, ruangan itu dipenuhi oleh layar monitor dan peralatan komunikasi satelit. Seorang pria, Kim Hanbin, duduk di tengah kegelapan dengan wajah yang terlihat sangat letih.
"Anda datang lebih cepat dari dugaan saya, Nyonya Park," ujar Hanbin tanpa menoleh.
"Kamu yang mengirim pesan itu. Apa maumu? Uang?" tuntut Rose, berdiri tegap meski jantungnya berdegup kencang.
Hanbin berbalik, menatap Rose dengan tatapan tajam. "Saya tidak butuh uang Anda. Saya butuh penyelesaian. Tuan Jimin tidak mengalami kecelakaan biasa. Pesawat itu disabotase karena dia membawa data krusial tentang pengkhianatan massal di dewan direksi Company P. Ada proyek pembangunan di Asia Tenggara yang dijadikan alat untuk pencucian uang."
Rose tertegun. "Jimin tidak pernah mengatakan apa pun tentang ini..."
"Karena dia sedang menjalankan protokol H-4. Dia tahu ada pengkhianat di dalam perusahaannya sendiri, jadi dia mengamankan data itu di kepalanya dan di sebuah perangkat fisik," Hanbin menjelaskan. "Saya ditugaskan melindunginya di Grid Island. Dia menolak pulang karena dia takut tanpa ingatannya, dia akan membiarkan musuh menang. Tapi kondisinya memburuk, jadi dia mengukir kode itu pada korek api miliknya berharap Anda cukup cerdas untuk memahaminya."
Hanbin menyerahkan sebuah flash drive baja terenkripsi. "Jaminan saya hanya satu: bersihkan perusahaan itu. Hancurkan orang-orang yang mencoba membunuh Tuan Jimin. Hanya dengan begitu, saya dan tim saya bisa berhenti bersembunyi."
Rose menerima perangkat dingin itu di tangannya. Ia menyadari satu hal: Jimin bukan sekadar penyintas. Suaminya adalah seorang prajurit yang bertarung sendirian di tengah kegelapan untuk melindunginya.
Kembali ke rumah, Rose tidak menceritakan detail yang mengerikan itu kepada Jimin. Baginya, Jimin yang sekarang tidak perlu memikul beban konspirasi berdarah itu lagi. Cukup bagi Jimin tahu bahwa dia adalah seorang pahlawan.
Malam itu, Rose mendekati Jimin yang sedang membaca di ruang kerja. Rose memeluknya dari belakang, menyandarkan wajahnya di bahu Jimin.
"Jimin... teka-tekinya sudah selesai. 'Si penyelamat' itu sudah aman. Ternyata kamu benar-benar hebat. Kamu menyelamatkan perusahaan kita bahkan saat kamu dalam bahaya," bisik Rose.
Jimin berbalik, membalas pelukan Rose dengan kelembutan yang dalam. Meskipun memorinya belum kembali, ia bisa merasakan ketulusan dan beban yang baru saja diangkat dari bahu istrinya. "Terima kasih, Roseanne. Terima kasih sudah berjuang demi aku."
Selama beberapa minggu berikutnya, dengan bantuan Jungkook dan Somi yang bergerak seperti bayangan, Rose melakukan "pembersihan darah" di dewan direksi. Satu per satu pengkhianat ditendang keluar dengan bukti-bukti tak terbantahkan dari flash drive tersebut. Company P kini bersih, kuat, dan sepenuhnya berada di bawah kendali Rose.
Rose duduk di ruang kerjanya, menatap korek api Zippo dan flash drive yang kini terletak berdampingan di atas meja. Dua benda itu adalah simbol dari perjalanan mereka yang mustahil.
Ia tahu, Jimin mungkin tidak akan pernah mengingat kencan pertama mereka atau pertengkaran konyol mereka di masa lalu. Namun, saat ia melihat Jimin berjalan masuk ke ruangan dengan senyum cerah dan membawakannya secangkir teh, Rose sadar bahwa ia tidak butuh masa lalu itu.
Mereka telah melewati api, menyeberangi lautan, dan melawan pengkhianatan. Cinta mereka tidak lagi hanya berlandaskan takdir atau perjodohan keluarga. Cinta mereka adalah hasil dari pilihan sadar yang diambil setiap hari.
Rose tersenyum, menyesap tehnya, dan menatap suaminya. Mereka telah menang. Dan masa depan yang mereka tulis sekarang, jauh lebih berharga daripada memori apa pun yang pernah hilang.
KAMU SEDANG MEMBACA
ECHOES OF ROSEANNE | JIROSÉ [END]
ChickLitGenre : Romance, Chicklit, Action, Thriller Roseanne Park, gadis manis yang baru saja pindah dari Selandia Baru, tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Nasional akan dimulai dengan penuh tawa berkat guru koplak dan tiga sahabat barunya: Lisa...
![ECHOES OF ROSEANNE | JIROSÉ [END]](https://img.wattpad.com/cover/243090635-64-k346828.jpg)