Alvaro mendengkus kesal, ia terlihat sangat kacau. Putri berhasil memperodak-perondakan hati dan pikirannya. Lalu saat ia berulang kali menghubungi wanita itu, baik pesan maupun telepon, Putri tetap saja mengabaikannya. Ia benar-benar tidak menyukai keadaan ini.
Kebingungan melanda seorang Alvaro.
Sejak pertama kali bertemu dengan Putri, ia terpikat paras dan sikap dosen itu. Semakin ia menepisnya, semakin kuat rasa itu mengikat, dan selalu ingin berada di dekatnya.
Darahnya bahkan mendidih ketika seorang pria berani menyentuh Putri. Tak tahu sejak kapan, bagaimana bisa? Ketenangannya hilang dibawa oleh wanita itu.
"Begitu mudahnya kau membuatku kacau, Put," ucapnya pelan. Alvaro mengusap wajahnya kasar.
Alvaro pun beranjak, ia tak ingin didera perasaan bimbang lagi, lelaki itu memutuskan untuk menemui Putri.
Dengan mengendarai motornya, ia membelah jalanan dengan perasaan gamang.
Ya, Alvaro terlambat menyadari bahwa wanita siang tadi itu adalah Putri. Ia sempat mendengar sang kasir memanggil dan sekilas ia menangkap pergerakan seorang wanita tengah berlari menjauh. Ragu, Alvaro pun memperjelasnya lewat kamera CCTV.
***
Sejak tadi Retno-Ibu Putri-merasa cemas, Putri tak pernah keluar selama ini tanpa memberi kabar. Namun, cemas itu berganti rasa penasaran saat Putri pulang dengan langkah gontai memasuki kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Siang tadi, Putri sempat mengirimkan beberapa foto saat ia tengah berada di Kafe UP. Sang anak tampak begitu bahagia.
Namun, sekarang putrinya pulang dalam keadaan kacau seperti saat ini, membuatnya menjadi khawatir, Retno pun lantas beranjak dari sofa, mengetuk pintu kayu jati yang menjadi penghubung antara kamar Putri dan ruang tamu.
"Put, ibu masuk ya."
Retno memutar knop pintu. Semua tampak gelap. Tangan itu pun meraba-raba tembok di sisi kanan, lalu menekan saklar lampu. Hati wanita itu mencelos saat melihat sang putri meringkuk dalam keadaan menggigil.
"Astagfirullah!"
Dengan suara gemetar Retno menghampiri Putri. Ia mengecek suhu badan dengan punggung tangannya. Benar-benar panas.
"Ya Allah ... kita ke Dokter, ya, Nak" ajaknya.
Wanita itu mendadak kebingungan, matanya mulai berair mendapati Putri dalam keadaan tak sehat.
"Ti-dak usah, Bu."
"Putri, kamu demam! Ibu tidak mau tau, pokoknya kita harus ke Dokter!" tegasnya.
Putri menggeleng.
"Kamu ini benar-benar keras kepala sama seperti ayahmu!" keluh Retno terdengar kesal berbaur kekhawatiran.
Retno bimbang, tetapi akan terasa percuma membujuknya jika Putri sudah bersikeras.
Tas bertuliskan Adidas di samping lemari menarik perhatiannya, bergegas wanita itu membuka. Mencari kotak P3K dengan bahan material kain yang selalu Putri bawa ketika bepergian. Setelah obat itu ditemukan, ia mengambil segelas air yang tersedia di atas nakas. Saat akan memberikan obat penurun panas, gerakan tangannya terhenti mendengar Putri menyebut nama seseorang.
"Alvaro."
Wanita itu sedikit terperangah, jelas ia mendengar Putri menyebut nama seorang laki-laki.
"Nak, minum dulu obatnya." Dengan perlahan-lahan Retno membantu Putri bangkit.
Wanita yang sudah tak muda lagi itu berusaha menutupi kesedihan dengan tetap tenang. Matanya memindai wajah Putri. Mata itu berembun, seolah-olah menahan air yang hendak menerebos, mengalir akibat sesuatu yang melukai hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen Cantik
Lãng mạnPutri menjalani harinya sebagai dosen yang tegas dan disiplin. Di sisi lain, parasnya yang menawan menarik semua atensi lelaki, termasuk Alvaro-si dosen baru. Romansa perlahan-lahan hadir di antara mereka, tetapi ego, keluarga, dan perbedaan menjadi...
