Putri tersulut emosi menghadapi pria paruh baya yang terus bicara nyolot kepadanya. Tangan wanita itu mengepal menahan amarah yang membuncah di dalam dada.
Ulah tidak bertanggung jawab dari beberapa pengendara motor yang ugal-ugalan di jalan membuatnya tanpa sengaja menyenggol motor bapak itu demi menghindari tabrakan. Walaupun sudah ada beberapa saksi membenarkan pembelaan Putri, tetapi si pria tetap kukeh dengan ucapannya. Sampai perdebatan terus berlangsung dan menarik perhatian warga sekitar.
"Bisa tidak, Pak. Kita bicarakan ini baik-baik. Saya akan tanggung jawab." Putri mencoba membujuk.
"Nggak bisa gitu, dong! Dan memang sudah seharusnya Anda bertanggungjawab, tetapi saya tetap mau kita ke kantor polisi!" tegasnya dengan tatapan sengit.
Bentakan dan ucapan pria itu sama sekali tidak membuat nyali Putri ciut sedikit pun. Wanita itu bahkan pernah menghadapi yang lebih sulit dari ini.
Kesabaran Putri benar-benar diuji. Ia hanya bisa menghela napas berat. Putri tak memiliki pilihan lain. Wanita itu hanya ingin masalah ini cepat selesai.
"Baiklah, kita ke kantor polisi."
Putri pun lalu berbalik arah, tetapi saat tangan itu hampir menyentuh handle pintu mobil, lengannya tiba-tiba dicekal.
"Anda mau ke mana? Ikut sama saya saja!" ucap orang tersebut, lebih tepatnya memerintah.
"Lepas! Bapak jangan kurang ajar, ya?" Putri menghentakkan tangannya. Namun, cengkraman bapak itu cukup kuat.
Baru saja Putri akan bersuara, seseorang menepuk bahu pria itu dari samping.
"Lepaskan!" perintahnya tegas.
Putri mengenali suara itu dan sang pemilik mata yang saat ini memerah menatap tajam ke lawan bicaranya.
"Dan siapa yang memberimu hak menyentuh wanitaku?" Sebuah pertanyaan yang membuat Putri tak berkedip. "Atau Anda ini memang sudah siap kehilangan tangan!" sambung lelaki itu dengan suara begitu dingin disertai rahang yang tampak mengeras.
Putri menggeleng tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengarkan. "Pak Alvaro," ucap Putri lirih.
***
Mobil melaju membelah jalanan Kota Makassar, penumpangnya tak bersuara. Diam dengan pikiran masing-masing.
Masih segar diingatan Putri kejadian beberapa menit lalu. Lelaki di sampingnya menahan emosi dan meminta damai dengan bapak itu tanpa debat atau bantahan dari yang bersangkutan. Tentu saja dengan semua biaya kerugian akan dibebankan kepada Putri selaku penabrak.
"Dasar toa! Beraninya cuma sama perempuan saja."
Putri mencebik kesal. Mengingat bagaimana sebelumnya ia mencoba untuk berdamai, tetapi pria itu justru ingin menempuh jalur hukum. Apa karena ia seorang wanita, jadi terlihat lemah hingga perlakuan tak mengenakkan itu Putri dapatkan dari orang lain. Benar-benar menyebalkan.
Terdengar embusan napas dari Alvaro, Putri memberanikan diri meliriknya. Dingin. Tak ada ekspresi. Berbeda seperti biasanya
Putri ikut mengembuskan napas, semestinya sekarang Putri ikut bersama rombongan dosen untuk pelaksanaan LPJ tahunan. Namun, kejadian tadi memaksanya bersama Alvaro dan mereka memutuskan untuk menyusul belakangan. Ia tak punya pilihan lain selain ikut.
Kecanggungan cukup terasa menemani perjalanan mereka. Namun, satu yang begitu melekat dalam ingatannya saat ini. Alvaro menyebut dirinya wanitaku. Ingin bertanya maksud dari kalimat itu, tetapi lidah terasa keluh. Lelaki itu juga tak bersuara. Lelah dengan semua pikirannya Putri memilih memejamkan mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen Cantik
RomancePutri menjalani harinya sebagai dosen yang tegas dan disiplin. Di sisi lain, parasnya yang menawan menarik semua atensi lelaki, termasuk Alvaro-si dosen baru. Romansa perlahan-lahan hadir di antara mereka, tetapi ego, keluarga, dan perbedaan menjadi...
