.
.
Seoul, 21 Desember 2020
Seorang wanita tengah membuka pintu dan masuk ke sebuah ruangan. Ruangan itu milik seorang Direktur dari perusahaan Sky High Corp. Wanita itu memandangi seorang pria yang sedang menatap kosong ke arah jendela.
"Oppa..." Pria itu membalikan badan, kemudian tersenyum simpul.
"Soo-ya? Kau sudah menungguku, ya?" Wanita itu mengangguk, dan perlahan duduk di sofa hitam yang berada di dalam ruangan.
Sedari tadi Jisoo menunggu di Lobby. Jam kerja sudah selesai. Setelah 10 menit menunggu akhirnya Jisoo memutuskan untuk menghampiri ke ruangan, ternyata Pria itu hanya melamun. Sepertinya berdiam diri menjadi kebiasaan pria itu akhir-akhir ini.
"Maaf, aku sangat tidak fokus belakangan ini."
"Tidak apa, aku mengerti. Kau masih memikirkannya?"
Pria itu menghela napas panjang, dengan jas warna hitam dan rambut hitam pekat. Ia menghampiri dan ikut terduduk di sofa samping wanita itu.
"Aku gagal." Menaruh dahi di pundak wanita yang menjabat sebagai Sekretaris-nya, sekaligus wanita yang selalu menemaninya beberapa bulan ini.
"Apa yang kau katakan, Oppa?"
"Aku gagal membangun perusahaan ini. Aku juga gagal untuk menafkahimu nanti Soo-ya..." Dengan suara berat Pria itu sangat terdengar kesedihan dan putus asa.
Jisoo menghadapkan tubuhnya pada Pria itu.
"Pak Suho! Apa ini Bapak yang saya kenal? Dimana Bapak yang selalu semangat? Apa saya salah masuk ruangan?" Ujar Jisoo berusaha menghibur, mungkin ini pertama kalinya Jisoo seperti ini pada Pria itu. Akhirnya Pria itu menimbulkan senyuman dan mengelus rambut Jisoo.
"Perkataanku benar adanya Jisoo, kau bisa tahu sendiri. Jika perusahaan ini bisa bangkrut karena kekurangan dana." Jisoo terdiam menatap Suho yang terlihat benar-benar putus asa.
"Ini semua terjadi karena aku tidak bisa mengembangkan perusahaan dengan baik, Soo-ya."
"Jangan menyalahkan dirimu, Oppa. Kau pria yang sangat bekerja keras. Hal seperti ini biasa dalam sebuah Bisnis."
"Jika seperti itu, Ayahku tidak pernah mengalaminya. Aku merasa sangat gagal." Jisoo bisa melihat mata Suho yang memerah.
"Aku tidak ingin kau berdampingan dengan pria sepertiku, Soo-ya." Pria dihadapan Jisoo mulai mengeluarkan air mata. Oh, lihatlah Suho yang lebih tua 4 tahun dari Jisoo, menangis dengan memperlihatkan kelemahan dihadapannya. Suho terlihat sangat rapuh, Jisoo tidak pernah melihat Direkturnya menangis seperti ini. Suho selalu memperlihatkan sosok yang kuat dan menjaga Jisoo dengan baik.
"Oppa.. Apa yang kau bicarakan? Semuanya akan baik baik saja. Oppa juga sudah berusaha untuk meminta bantuan pada perusahaan lain, bukan? Kita hanya perlu menunggu bantuan." Jisoo menghapus air mata di pipi pria itu.
"Mereka semua menolaknya, beberapa saat yang lalu."
Jisoo tidak bergeming. Ia tidak tahu harus berkata apa. Sejujurnya ia ingin menangis, memikirkan bagaimana nasib karyawan dan perusahaan ini. Perusahaan ini dibangun oleh Suho sejak awal. Suho pasti sangat sedih, mengetahui bahwa perusahaan yang ia bangun sedang berada diujung ambang ke bangkrutan.
"Aku yakin seseorang pasti akan menolong." Jisoo meyakini.
"Boleh aku memelukmu?" Jisoo mengangguk. Inilah Suho selalu meminta izin kepada Jisoo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Waste Of Time
FanfictionHidupnya bukan untuk kedamaian, meski tujuh tahun berlalu bukan hal mudah baginya untuk menghapus ingatan gelap dari pria diktator seperti iblis.
