"Tunggu di sini." Titah Eunwoo dingin pada Jisoo untuk menunggunya, mau tidak mau Jisoo harus menurut.
Kini ia tengah terduduk di sofa yang berada di dalam ruangan sang Direktur, Eunwoo pergi untuk mengambil sesuatu di private room. Sepertinya kunci mobil untuk pulang, karena pria itu mengatakan jika akan mengantar Jisoo.
Jisoo memandangi buket bunga berukuran lumayan besar dan paper bag kecil berwarna hitam yang senada dengan buketnya di atas meja. Bunga itu sangatlah cantik, dan di dalam paper bag kecil itu terdapat sebuah kalung perak dengan liontin kecil berwarna biru laut. Terlihat sangat mahal. Namun sesuai dengan keinginannya.
Ini semua miliknya, yang di berikan oleh tunangannya sendiri, Suho. Sangat romantis, bukan? Pria itu bahkan memberikannya hadiah tanpa sebab, kendati Suho sangat memerlukan dana untuk perusahaannya. Tapi, kini perusahaannya begitu terbantu lewat proyek itu.
Siang tadi Suho datang dengan beberapa rekannya, yang pasti untuk membahas proyek. Dan saat hendak pergi ke Gangnam untuk mengontrol proyek itu, Suho memberikan sebuah buket bunga dan kalung itu. Jisoo tak dapat menyangkanya.
'Aku yakin kau akan terlihat luar biasa jika mengenakan kalung itu. Maaf aku tak pernah menemuimu belakang ini.'
'Ini sebagai permintaan maaf.'
Oh, Suho sampai melakukan itu untuknya. Jadi apa Jisoo akan seperti ini hingga menikah dengan Suho?
Pemberian ini.. Jisoo harus senang atau harus bersedih?
Suara dering ponsel membuat Jisoo mencari darimana asalnya, sudah pasti itu ponsel Eunwoo yang berdering karena asalnya dari meja besar milik pria itu.
Jisoo bangkit, hanya ingin mengambilnya lalu memberikan pada Eunwoo. Saat meraih ponsel itu Jisoo termenung membaca layar, di sana tertera nama Karina. Sungguh bosan rasanya mengetahui hal itu.
"Apa yang kau lakukan?"
Suara dengan ponsel yang ditarik cepat membuat Jisoo terkejut bukan main.
Eunwoo terlihat menolak panggilan itu.
"Apa aku pernah mengizinkanmu untuk menyentuh ponsel milikku? Jaga sikapmu!" Tegas Eunwoo dengan nada tinggi, dan pergi menjauh.
Ini kesekian kalinya Jisoo di bentak olehnya, rasanya mata sudah ingin mengeluarkan air namun susah payah ia tahan. Hari ini pria itu bersikap begitu dingin padanya.
Serahasia itu kah percakapannya dengan Karina? Hingga pria itu harus benar-benar menjauhi Jisoo? Menyedihkan, apa yang ia harapkan di sini? Ia hanya seorang wanita dengan status sekretarisnya.
Jisoo memperhatikan punggung yang membelakanginya, cara bicara pria itu dengan Karina begitu pelan dan lembut. Ia langsung menunduk berusaha menetralkan emosinya, ia tak ingin menangis di sini.
Dan tak lama dari itu, Eunwoo menghampirinya lalu jemarinya meraih dagu Jisoo yang menunduk membuat Jisoo menengadah, netranya berlabuh pada buket bunga di atas meja.
"Jangan mengotori ruanganku." Ketusnya, lalu berjalan menuju pintu untuk keluar.
.
.
Jisoo menggenggam buket bunga pemberian Suho di pangkuannya, sambil memperhatikan jalanan di luar. Ia tak berani menatap Eunwoo yang tengah menyetir mobil, tak ingin melihat wajahnya yang terlihat begitu kesal. Yang pasti tak tahu alasannya mengapa.
"Aku ingin kau membuangnya." Suara Eunwoo membuat Jisoo akhirnya menatapnya, tentu ia mengernyit bingung.
"Apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Waste Of Time
Fiksi PenggemarHidupnya bukan untuk kedamaian, meski tujuh tahun berlalu bukan hal mudah baginya untuk menghapus ingatan gelap dari pria diktator seperti iblis.
