Jisoo termenung duduk di sofa dengan menatap keluar jendela, sesekali mengayunkan cangkir berisikan cokelat panas, saat ini ia sedang butuh waktu untuk sendiri.
Ketika selesai membersihkan tubuh setelah bangun dari tidurnya, Jisoo dengan niat ingin meminum sesuatu yang menghangatkan dan menghilangkan stress. Kepalanya begitu pening sejak kemarin pulang dari acara megah perusahaan, jadi ia sangat membutuhkan waktu untuk beristirahat penuh.
Tentu, serta mempertimbangkan suatu hal.
Jisoo meminum kembali dengan hati-hati, lalu mendesah kala merasakan kehangatan disekujur tenggorokannya. Ini memang menyembuhkan, namun tidak seutuhnya.
Kemudian suara dering ponsel mengubah atensinya, ia ambil ponsel tersebut di atas nakas tak jauh darinya, setelah menaruh cangkir.
Gemetar, tatkala Jisoo melihat nama terpampang dilayar.
Suho.
Jisoo sangat merasa bersalah sekarang, sangat tidak berani untuk muncul.
Dengan ragu Jisoo menerima panggilan itu. Setelah terhubung, ia terdiam menunggu suara yang akan keluar.
"Jisoo?"
Oh, mendengar suara Suho yang begitu lembut diseberang sana membuat Jisoo makin merasa tidak benar. Benar apa yang dikatakan Eunwoo, ia adalah wanita terburuk.
"Ya?" Sahut Jisoo, tentunya dengan suara sedikit gelisah.
"Jadi, apa menyenangkan?"
"A-apa?"
"Acara kemarin."
"Ah.. Tentu saja."
"Apa saja yang kau lakukan disana?"
Jisoo mematung, terkutuklah ia dengan pertanyaan itu.
"Ya—Seperti yang seharusnya Oppa." Jawab Jisoo, lalu Suho bergumam dan keheningan menyeruak lumayan lama.
"Aku menunggumu untuk mengabariku sejak kau pergi, tapi aku tak juga menerima pesan darimu. Aku sengaja tidak menghubungimu karena takut mengganggumu." Tutur Suho dengan parau.
Tahu apa yang Jisoo rasakan? Kegugupan dan tegang yang amat tinggi. Tubuhnya benar-benar merinding. Jisoo yang sangat tidak tahu diri.
Suho memang tidak menghubunginya, tapi bukankah seharusnya Jisoo yang mengabari Tunangannya? Sedangkan alasan Suho tentang tidak ingin mengganggu waktunya selama diacara itu, Suho pasti merasa sangat kecewa dan menunggunya.
Jisoo tentu saja memejamkan matanya kuat-kuat, penuturan itu membuat ia merasa begitu jahat dan pembohong terburuk.
"Itu..." Jisoo tergagu berusaha mengatakan alasan. Pria diseberang sana terdiam, menunggu jawaban Jisoo dengan setia.
"A—aku sedikit kurang sehat, aku tidak membuka ponselku. Aku minta maaf, Oppa." Jawab Jisoo seadanya.
Tidak sepenuhnya berbohong, Jisoo memang merasa sedikit kurang sehat. Ia merasa pusing, dan terlebih lagi beberapa kecerobohan dirinya yang terjatuh hingga kakinya terkilir.
"Benarkah? Mengapa tidak bilang? Aku bisa menjemputmu kemarin, ini semua salahku. Seharusnya aku menghubungimu. Apa sekarang kau merasa lebih baik?"
"Ya, aku sudah merasa lebih baik. Ini bukan salahmu, Oppa. Aku tidak bermaksud untuk melupakanmu selama disana, aku terlalu sibuk. Aku benar-benar minta maaf, Oppa."
Jisoo memelas, wajahnya bak seseorang yang diterjang rasa gelisah yang begitu besar.
Dengar? Suho menyalahkan dirinya, sedangkan Jisoo sebenarnya melupakannya. Dan—Bukankah Jisoo sangat buruk? Terlalu patuh pada seorang Cha Eunwoo yang bersifat penguasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Waste Of Time
FanfictionHidupnya bukan untuk kedamaian, meski tujuh tahun berlalu bukan hal mudah baginya untuk menghapus ingatan gelap dari pria diktator seperti iblis.
