Vote!
.
.
Sejujurnya, Jisoo pun tidak mengerti dengan dirinya. Tidak mengerti apa yang sebenarnya harus ia lakukan. Mungkin, dengan mengikuti alur dan bersikap tenang adalah jalan yang dirinya terapkan, walau sulit.
Jika lebih diperjelas, sikap Eunwoo padanya tidak sekeras beberapa waktu lalu. Pria itu jarang memarahinya, namun sering kali membuat Jisoo bergidik ketika pria itu melayangkan tatapan tajam padanya. Sungguh, sampai detik ini pun Jisoo tidak tahu arti dari semua itu.
Seperti kini, Cha Eunwoo bukanlah orang asing. Jisoo tentu saja tahu, hal apapun itu tak akan membuatnya lebih dari saat ini.
Namun yang mendominasi di pikirannya adalah bagaimana cara ia menghadapi Eunwoo yang sedang mengedongnya saat ini, bahkan pria itu telah menanyakan dimana kunci kamarnya. Sungguh, Jisoo tidak ingin merepotkannya hingga harus mengantarnya sejauh ini. Tetapi, Jisoo memberitahu dimana kuncinya.
Eunwoo membuka pintu, saat berhasil mengambil kunci di bawah vas bunga tanpa menurunkan Jisoo dari punggungnya. Sangat di untungkan bagi Jisoo karena tidak ada satu pun orang yang melihatnya, jika dirinya tertangkap oleh seseorang, itu sangat memalukan.
Mereka berhasil masuk ke dalam, ruangan begitu gelap gulita. Cahaya bulan hanya masuk lewat celah jendela, yang tirainya tidak tertutup secara sempurna.
Eunwoo menurunkan Jisoo di sisi kasur sebelah kiri, yang tidak jauh dari jendela. Jisoo terduduk, melepas tangannya yang melingkar di leher pria itu. Pria yang semula berdiri membelakangi kini telah membalikan tubuhnya, menatap Jisoo yang duduk di depannya. Jisoo hendak berterimakasih, namun Eunwoo lebih dulu membuka tuxedonya, menaruh di atas kasur berdampingan dengannya, pria itu juga mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu melempar pelan ke atas tuxedonya, kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Tentu saja Jisoo kebingungan.
Tak lama pria itu datang dengan kemeja tergulung ke atas, di tangannya pun terdapat sebuah wadah kecil. Eunwoo menghampiri Jisoo, ternyata wadah itu berisi sedikit air, satu handuk kecil berwarna putih, dan satu handuk kering. Tanpa basa-basi pria itu sudah berlutut di bawahnya.
Jisoo risau, bukan ia terlalu percaya diri. Namun, dirinya tidak mungkin membiarkan Eunwoo melakukan sesuatu dengan kakinya. Jisoo hendak berdiri namun pria itu menahan pahanya, membuat ia kembali terduduk.
"Kemana?" Eunwoo bertanya, dengan artian melarangnya untuk melarikan diri.
"Aku harus menyalakan lampu." Jisoo beralibi.
"Tidak perlu, aku suka seperti ini."
"Tapi, ini terlalu gelap.." Bisik Jisoo, yang di layangkan tatapan tajam.
Lalu Eunwoo menghela napasnya, kemudian menyalakan lampu tidur di atas laci tepat di sampingnya. Lampu itu menimbulkan cahaya kuning kontras, membantu sedikit penerangan.
"Puas?" Tanyanya, Jisoo pun mengangguk.
Kemudian Eunwoo mengangkat kaki Jisoo yang terkilir, memutar dengan pelan seolah sedang memeriksa. Terlihat begitu serius.
"Terima kasih." Ujar Jisoo.
"Untuk?"
"Menolongku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Waste Of Time
FanficHidupnya bukan untuk kedamaian, meski tujuh tahun berlalu bukan hal mudah baginya untuk menghapus ingatan gelap dari pria diktator seperti iblis.
