3. The Little Bunny

3.3K 205 18
                                        

Jisoo mencuri pandang tajam pada suaminya, lalu menghela napas.

"Tidak mungkin aku menolak, dia terlihat sangat ingin mengantar," sungut Jisoo seraya menatap jengah.

"Tetap saja, kau bisa katakan padanya jika sudah dijemput supir." Eunwoo menyanggah.

Hanya memejam yang Jisoo lakukan, sejak suaminya pulang dari kantor, suaminya itu terus menasehatinya. Hanya perkara ia pulang dengan rekan kerja pria di kantor, Cha Eunwoo tidak dapat menerima.

Well, usia pernikahan mereka sudah menginjak lima tahun, tapi tetap saja bahas seperti ini tidak akan pernah hilang.

Jisoo kini memang resmi naik jabatan di perusahaan Sky High Crop, dan kerap banyak pegawai baru di sana. Meski suaminya menyuruh untuk resign, dan kerja untuknya, namun ia dengan lugas menolak. Ia tidak ingin bekerja di lingkup yang sama, dan Sky High itu bukan sekadar perusahaan, tetapi juga rumah keduanya.

Dan kini... Eunwoo terus melempar ocehan karena salah satu rekan kerjanya mengantar pulang. Jisoo lelah, jadi ia terpaksa untuk mengiyakan, terlebih supir lambat menjemputnya.

"Memangnya kenapa jika dia mengantarku? Ini 'kan rekan kerja, wajar dia ingin simpati pada atasanya..." Jisoo menjelaskan perlahan.

"Kau tidak pernah mau mendengarkan!" Eunwoo kian berang.

Jangan tanya Jisoo yang sudah menautkan kedua alisnya. "Kau yang tidak mengerti!"

"Jisoo, aku——."

Atensi keduanya tertuju pada suara dering ponsel di atas nakas, dengan tangkas Cha Eunwoo mengambil ponsel milik istrinya itu yang sempat berdering sebelum pertengkaran ini terjadi, dan terkutuklah jika yang menghubungi Jisoo adalah pria yang sama.

"Damn, He's trying to call you again? For the second time?! The Fuck!" Umpatnya kesal, menekan tombol angkat.

"What do you want?" Tanya Eunwoo dingin.

"Selamat malam, Pak Cha. Maaf sebelumnya, apa saya bisa berbicara sebentar dengan nona Kim? Saya seorang guru dari tempat Cha Wooram bersekolah, saya ingin menyampaikan sesuatu."

Cha Eunwoo menatap Jisoo sertamerta menelan ludah, sial ia sangat malu. Istrinya kini melipat kedua tangannya, matanya tajam hingga ia memberikan ponsel itu perlahan.

Jisoo berdecak, sebelum akhirnya menjauh darinya.

Duduk di sisi ranjang lalu memijat pelipis. Beberapa menit kemudian istrinya kembali mendekat, menaruh ponsel di nakas.

"Kau sangat berlebihan," desis Jisoo kesal.

"Ya, aku mana tahu jika dia yang menelepon." Sanggah Eunwoo.

"Makanya jangan asal!"

"Asal? Lalu sebelumnya? Apa aku akan membiarkan pria lain menghubungimu selarut ini? Apalagi hari ini kau diantar dia!"

"Sudah! Aku pusing dan capek jelasinnya, kau tidak akan pernah mengerti!"

"Baiklah. Aku tidur di luar." Eunwoo bangkit dari duduk, menatap Jisoo yang kini telah terduduk manis di ranjang.

Sesaat Jisoo terkejut dengan ucapan suaminya itu.

"Semoga lelahmu hilang jika aku tidak di sini. Selamat beristirahat." Ucap Eunwoo mantap, pada istrinya yang memperlihatkan mata yang memerah. Ia memutuskan untuk keluar kamar, dan menuju sofa ruang tamu dan berbaring di sana.

"Sial!" Umpatnya samar, menatap langit-langit. Rumahnya yang besar telah gelap, ia sesaat memejamkan mata.

Kini Cha Eunwoo hanya terdiam, tidak dapat tidur. Sepertinya ia memang berlebihan dan membuat Jisoo jengah, lagipula ia hanya tak suka.

Waste Of TimeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang