Happy reading
Vote
Akhirnya acara yang melelehkan itu selesai dan kini osis sedang mengadakan evaluasi kegiatan, seperti biasanya rapat selalu lama dengan arahan dan wejangan pembina, namun kali ini tampak berbeda karna pembina merasa puas dengan dengan kinerja osis karna ikut andil dalam kegiatan
"Bapak sangat puas dengan kinerja kalian kali ini, meski masih ada beberapa osis yang duduk duduk saja tanpa membantu, tapi tidak masalah bapak tetap bangga dan sebagai hadiah besok libur, pembina sepakat akan mentraktir kalian diluar sekolah"
Ucapan pembina membuat anggota osis bersorak senang
"Yee makan gratis" semua tertawa begitu juga pembina killer yang ditakuti osis
"Baiklah karna bapak tau kita semua lelah, sekarang kalian boleh pulang, pulang dengan hati hati dan sekali lagi terima kasih sudah mensukseskan acara ini"
"Ya pak" semua keluar dengan teratur
"Lean? Lo ngapain disini?" Amel keluar ruangan dan melihat Lean duduk di bangku depan ruangan osis sembari memainkan bolpoin memecahkan kebosanan karna menunggu Amel
"Nungguin lo lah, apa lagi"
"Tapi? Ngapain?"
"Ah nanya mulu lo, ayo gue anterin pulang" Lean menarik tangan kiri Amel tapi tangan kanannya juga ada yang menahan, Amel menoleh
"Alan?"
"Dia pulang bareng gua" suara dingin Alan yang serak terdengar sangat seram membuat Amel merinding
"Why?" Alan dan Lean beradu tatapan sinis
"Dia datang bareng gue, pulang juga bareng gue, ya kan mel?"
"Eh..?"
Keduanya menatap Amel menunggu jawaban
"Gue pulang bar-"
"Eh Alan, lo mau anterin gua gak? Motor gue mogok" belum sempat Amel menyelesaikan kalimatnya, Liora sudah memotong dan meminta Alan untuk mengantarnya pulang
Amel tau diri, ia melepaskan pegangan Alan
"Gue balik bareng Lean aja gak pa-pa kok, lo anterin Liora, kasian motornya mogok"
Liora tersenyum tangannya bergelayut manja di lengan Alan dan menatap Amel remeh
"Ayok Lan"
Alan hanya diam dan pergi mengantar Liora. Amel menghela nafas menatap punggung Alan dan Liora yang kian menjauh dan lenyap
"Heh?" Lean melambai lambaikan tangannya
"Hah apaan?" Tanya Amel gelalapan
"Kenapa bengong?"
"Kaga, ayo cepet" Amel berjalan lebih dulu kemudian disusul Lean dan mensejajarkan langkahnya
Gue pengen kita terus kayak gini mel, berjalan beriringan, gue gak mau egois, karna egois membuat gue kehilangan sesuatu yang gue sayang dan gue gak mau kehilangan lo benak Lean, Lean menatap Amel dengan senyuman yang tanpa henti
"Mau langsung pulang atau ada tempat yang mau lo kunjungi?" Tanya Lean di atas motor, tapi tak kunjung mendapat jawaban, Lean melirik dari spion ternyata Amel tertidur, itu sangat bahaya mereka sedang menggunakan sepeda motor. Tanpa basa basi Lean menarik tangan Amel agar mengeratkan pelukannya, kepalanya bersandar di bahu Lean
Amel sangat lelah sampai sampai ia tertidur di atas motor, pikir Lean
Lean membawa motor dengan kecepatan pelan
Lean berhenti di komplek perumahan Amel, tidak enak membangunkan Amel, ia hanya diam saja memandangi wajah teduh Amel ketika tertidur, sungguh hati Lean berdebar hanya karna melihat wajah lugu Amel ketika tertidur ditambah bonus tangan Amel memegang pinggangnya, desiran ini tidak pernah ia rasakan sebelumnya
Eughhhh lenguh Amel ketika sadar motor sudah tidak berjalan lagi
"Kita udah sampe?" Tanya Amel sembari mengusap matanya
"Iya, udah daritadi, lo sih ketiduran" balas Lean dengan suara Antagonis yang dibuay buat
"Yaa maaf, lo si kenapa gak bagunin gue?"
"Kok nyalahin gue, lo doang tuh yang kek kebo. Tidur Everytime and Everywhere"
Amel turun dari moge itu dengan kesal, siapa suruh tidak membangunkannya
"Hm. Gue masuk. Ngantuk" pamit Amel dan masuk ke rumahnya
"Iya, selamat tidur, princes" Lean mengedipkan sebelah matanya dan memakai helmnya kembali lalu melesat pergi
"Edan" Amel bergidik ngeri dan langsung masuk ke dalam rumah
***
"Lan, kita mampir ke kafe dulu yuk? Gue laper" ajak Liora
"Tapi-"
"Ayo lah, gue laper banget" belum sempat Alan memberikan jawaban, Liora sudah memotong ucapannya. Dengan terpaksa Alan menuruti keinginan Liora, meski kini ia sangat ingin bertemu Amel.
"Kamu mau pesen apa Lan?" Tanya Liora yang sedang membolak balik buku menu
"Gue mau minum aja, gak laper." Jawab Alan yang tengah asik dengan ponsel genggamnya, wajah Liora terlihat kesal. Alan sudah berubah, tidak lagi menyukainya seperti dulu bahkan sekarang Alan menggunakan gue elo pikir Liora
Kerenggangan mereka terjadi karna Amel, penyebab semua ini adalah Amel, jika saja Amel tidak ada semua akan baik baiknya. Asumsi Liora yang selalu menyudutkan Amel atas apa yang terjadi, meski sebenarnya keretakan hubungan keduanya terjadi karna dirinya sendiri
"Mbak, cappucino cincau dua, sama spaghetti satu" pelayan itu tersenyum dan mencatat pesanan dan berlalu pergi
"Alan" panggil Liora tapi tidak da respon
Alan masih asik berkutik dengan ponselnya yang sedang memainkan game COC, game booming pada masanya
"Alan!" Panggilan kedua Liora disertai pukulan kecil meja yang mereka duduki kini
Alan terperanjat ketika gadis di depannya memukul meja
"Hah kenapa?" Tanyanya bingung
"Main ponsel aja terus, aku gak dianggap" Liora memanyunkan bibirnya, Alan tertawa kecil
"Yaudah gue gak main hp, senang?" Alan meletakkan ponselnya di meja dan menatap Liora dengan senyuman yang mengembang meski jauh di lubuk hati dia sangat memikirkan Amel, entah apa dan di mana dia sekarang bersama bule itu
Liora tersenyum senang, sepertinya memenangkan hati Alan kembali tidak sulit baginya, dia cantik, lumayan pintar, kaya, siapa lelaki yang tidak akan tertarik padanya? Kebanyakan laki laki jaman sekarang hanya melirik penampilan attitude belakangan tidak salah orang berlomba-lomba mempercantik diri hingga lupa cara bersikap, kamu di hargai jika kamu cantik atau tampan. Pria wanita sama saja.
"Permisi, ini pesanan anda, selamat menikmati" pelayan berseragam biru menghampiri meja Alan dan Liora memberikan pesanan dan kembali lagi ke asalnya
"Makasih"
"Kamu gak minta Lan?" Tanya Liora, Alan hanya menggeleng sebagai jawaban.
Alam menyeruput minumannya dan melirik lirik ke arah manamun, ia sangat bosan, sungguh. Andai saja dia memiliki ilmu untuk menghilangkan diri, ia pasti sudah tidak ada disini hari ini bersama Liora, dia lelah ingin beristirahat tapi ia juga tak bisa menolak permintaan Liora Alan merasa tidak enak jika melakukan hal itu
Liora memasukkan suapan demi suapan spaghetti ke dalam mulutnya dan sengaja membiarkan sisi bibirnya belepotan berharap akan dibersihkan oleh Alan, Liora melirik Alan, Alan adalah tipe cowok yang tidak peka jadi ia tak mengerti maksud tatapan Liora.
Alan menyeruput kembali cappucino cincau'nya, Liora merasa jengkel dan menghapus saos yang ada pinggir bibirnya kesal
Dasar cowok tidak peka! Pekiknya dalam hati
VOTE
KAMU SEDANG MEMBACA
TEMAN TAPI MESRA? [13+]
Teen Fiction13+⚠️ FOLLOW SEBELUM MEMBACA⚠️ "terima kasih sudah mematahkan harapanku, kamu tau betul bukan? Bahwa aku sangat mudah berharap setidaknya sekarang aku tau untuk siapa hatimu setidaknya sekarang sudah tidak adalagi alasan untuk aku merindukanmu. Ta...
![TEMAN TAPI MESRA? [13+]](https://img.wattpad.com/cover/176626692-64-k86341.jpg)