Disclaimer: Temans, editan di work ini bukan editan sesuai PUEBI. Contoh, dialog harusnya menjorok masuk, di sini tidak. Itu karena keterbatasan fitur, macam tombol tab. Jadi, saya edit serapinya aja ya. Yang penting mudah dibaca
Selamat baca ~
Ps. Cerita ini agak berat, agak tragis, mohon siapkan hati, ya! 🙂🙂
=======================================
“Ibu, Nala ingin makan sup juga.” Kupandang ibu penuh harap.
Ibu menatapku dingin. “Kamu nggak lihat Ibu nyuapin Mbak Vanya? Sana ambil sendiri di dapur.”
Maka aku berjalan pelan menuju dapur. Kudapati panci sup sayur itu ada di atas kompor yang tinggi. Bagaimana cara menjangkaunya? Oh, mungkin memakai kursi. Akhirnya kudorong kursi dengan sekuat tenaga, sampai, aku naik dengan hati-hati. Kulihat sendok sup dan mulai kuambil pelan karena sedikit berat.
Namun …
Brang!
“Awww!” pekikku kesakitan.
Sepanci sup itu tumpah karena gerakan tanganku. Menumpahi tangan dan setengah badanku, kuah sup agak panas. Aku kaget, sakit, dan basah, tapi …
“Ya ampun!” Suara keras membuat pandanganku kecut. “Kamu apakan masakanku, hah!”
“Goblok!” Ibu menjewer telingaku.
Aku hanya tersedu. Sakit badan dan telingaku. Namun, saat ada suara bapak, muka Ibu langsung berubah. Ibu membantuku berdiri dan mulai membersihkan tumpahan di lantai dapur tanpa banyak bicara.
“Kenapa, Bu? Shana kenapa, Nak?” tanya Bapak bergantian.
Aku hanya menangis sambil menatap mata ibu yang melotot, seraya berbisik, “diam kamu!”
“Ini Pak, Nala numpahin sup, padahal ini buat sarapan kita,” sesal Ibu dengan suara rendah, membelakangi Bapak dan menatapku tajam.
“Oh, Shana nggak apa-apa, ‘kan, Bu?”
“Dia cuma basah,” ucap Ibu pendek.
Bapak berlalu karena terburu berangkat kerja.
Ibu menjewer telingaku keras sambil melotot. “Goblok! Diam kamu jangan ngadu sama Bapak!”
Aku menggigit bibir seraya menahan tangis ketakutan. Ibu sangat menakutkan. Bapak, tolong Shana …!
Dirt! Dirt! Dirt!
Tiga getaran dari samping kepala membuat mataku terbuka. Alarm ponsel mengembalikan kesadaranku ke dunia. Napasku yang tersengal mulai teratur. Pikiran yang acak mulai tertata. Baru saja kualami mimpi buruk dari kejadian nyata saat usiaku baru enam tahun. Saat di mana kusadari ibu suka menyiksa dan menyakitiku di belakang bapak.
Aku bangun, duduk dan menata pikiran. Sejenak menggeleng. Sudahlah, tak ada gunanya merenungi kenyataan buruk. Itu adalah masa lalu yang kelam. Tak berguna jika diingat sekarang. Lebih baik aku menata tempat tidur dan memulai hari.
Sekarang 14 Februari 2019, katanya sih hari kasih sayang. Menurutku, nggak ada yang namanya kasih sayang. Yang ada hanyalah iba dan kasihan. Aku bisa hidup sampai sekarang karena banyak yang mengasihaniku. Bebas dari kekangan depresi saja sudah Alhamdulillah.
Kutarik seprei hingga lurus, selimut juga dilipat dengan rapi presisi tidak acak kadul. Selimut dan kain lainnya kutata dari warna yang terang sampai ke gelap. Bantal ditepuk-tepuk supaya rapi dan tidak menggembung di satu sisi. AC dimatikan dan remotnya kutata rapi di meja. Tak lupa ranjang kusemprot desinfektan supaya selalu steril. Itulah kebiasaanku sebagai penderita OCD.
Beralih pada tubuh, aku langsung masuk ke kamar mandi bekas kosku dan Jihan ini. Benar, aku masih setia memakai kamar ini kendati Jihan sudah pindah. Dia sudah menikah dengan atasannya di mal dan hidup bahagia. Ya, dia sangat berhak bahagia. Sahabatku yang baik.
Kubersihkan tubuh dengan perlahan menggunakan sabun yang lembut. Teliti dari ujung kepala sampai kaki, tak ada yang terlewat. Menggunakan satu merek yang sama dari sampo hingga sabun. Sama dengan perawatan badan, semua satu merek yang sama. Kuingin semua sempurna, tak ada yang beda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Roman (sa) Arunika
TerrorShanala Arunika adalah gadis dengan hidup yang mengerikan. Di balik senyum ramahnya tersimpan pikiran yang kusut dan rumit. Dia tak akrab dengan ibu kandungnya. Sang ibu membencinya, lebih sayang pada kakaknya. Dia dapat trauma fisik dan mental seme...
