Episode 4 Hari yang Buruk

2.7K 613 86
                                        

Dulu, setiap hari adalah hari yang buruk menurutku. Baru saja aku senang bermain boneka, datang ibu yang marah karena aku terlalu berisik. Baru saja aku senang bermain masak-masakan, datang ibu yang marah dan membuang semua mainanku. Ibu sangat suka melihatku menangis, mungkin menurutnya lucu.

Namun, sekarang perlahan aku mulai lupa dengan hari yang buruk. Semua hari kuawali dengan indah dan penuh syukur. Bahkan, saking bahagianya hidupku kadang sampai tak percaya, ini aku benar masih hidup atau udah di surga. Tak percaya jika pada akhirnya aku mengalami hari penuh senyum juga.

Pagi ini, aku bangun di tempat yang indah, kasur hotel bintang empat yang sedikit berantakan karena Mbak Astri. Rasanya cemas melihat berantakan seperti itu. Tangan gatal pengen rapikan selimut, bantal, perintilan hotel dari warna yang terang sampai gelap.

“Sumpah Nalaaa, ngapain sih lu pakai ngerapiin kasur selicin itu! Nanti ada OB, Na! Ada OB!” Mbak Astri ribut sendiri mengomeliku.

Kali ini aku sekamar dengannya di penerbangan Jakarta – Banda Aceh – Batam dengan transit di Batam. Dia mengomeliku di pagi tanggal 28 Februari 2019. Ternyata sudah akhir bulan. Makin dekat dengan bulan dimana tepat setahun aku bergabung dengan Nusantara Airlines.

“Belum lagi nih, vas hotel kenapa loe tata ulang? Harus, ya, dimulai dari putih sampai abu?” Mbak Astri kembali mengomel.

“Enakan rapi gini, Mbak. Sedap dipandang,” bantahku pelan.

“Ckck, terus isi kopermu itu kok botol-botol desinfektan buat apa sih? Separah itu fobia kotormu, Na? Kamu ini obsesif banget sama kebersihan!” omelnya sambil membolak-balik isi koperku. “Mana oleh-oleh nih, kamu nggak bawain orang tua?”

Wajahku kecut tatkala mendengar kata itu. “Nggak ada yang dibawain, Mbak,” ceplosku.

“Lha, bapak ibumu?” Suara Mbak Astri tergantung. “Oops, maaf kalau gue salah bicara, ya, Na ….”

It's okay, Mbak,” sambutku cuek sambil merapikan isi tas yang sempat dipegangnya tadi.

Dia terdiam lantas berkomentar lagi. Sekamar sama Mbak Astri memang harus banyak sabarnya sih. Dia super ceriwis.

“Serius, Na. Masalah kebersihanmu itu udah keterlaluan. Sesekali kamu harus berteman sama kuman dan bakteri. Kerja kita ketemu orang banyak, ‘kan?” lanjutnya.

Aku menatapnya lembut dua detik. “Aku penderita OCD, Mbak.”

Pernyataan itu sanggup membungkam mulut ceriwis Mbak Astri. Dia melongo hingga aku selesai merapikan koper dan bersiap terbang ke Jakarta lagi. Sepertinya dia baru sadar jika aku seorang penderita gangguan mental. Entah apa reaksinya, ini perdana kulakukan.

“Nala, loe mah cinta kebersihan ya cinta aja. Nggak usah disebut OCD juga. Berasa denger Dedy Corbuzier gue nih. OCD di sini jenis diet, ‘kan?” Pandangannya datar.

Aku menggeleng dan tersenyum. “Kelainan mental. Serius, Mbak.”

“Hah?” Dia melongo lagi.

“Berangkat yuk, Mbak!” alihku cuek tak menanggapi wajahnya cengonya lagi.

Mungkin dia terlalu tak percaya bahwa di balik kelakuan anehku ini tersimpan masalah mental yang serius. Dia kira aku cuma sekedar cinta kebersihan, bukan karena aku pernah menderita PTSD.

Bagaimana kalau dia tahu masa laluku? Mungkin lebih nggak percaya lagi kalau aku adalah anak yang dibuang oleh ibunya. Atau aku anak yang dicap durhaka atau aku adalah anak kandung rasa anak tiri.

“Nala, loe sehat, ‘kan?” Mbak Astri menyenggol lenganku cemas.

Aku hanya tersenyum tak menanggapinya. Lebih baik menggeret koper, segera turun dan menemui awak kabin yang lain. Skip sarapan karena aku lebih suka roti pesawat. Jelas bersih dan membuatku nyaman. Gimana kalau makanan hotel kotor dan ada racunnya? Aku nggak mau sakit.
---

Aku sibuk menata isi pocket seat. Umumnya memang diurutkan dari yang selebaran besar hingga kecil. Majalah Pictures di belakang sendiri, katalog in-flight shop, disusul buku doa, dan airsickness bag. Namun, jika mereka di tanganku, kususun dengan sangat rapi dan lurus hingga sedap di pandang mata. Semua sama untuk 175 seats kelas ekonomi penerbangan NA777 Nusantara Airlines.

Selanjutnya, peletakan bantal abu kecil itu. Semua juga harus sama, tak ada yang miring satu derajatpun. Jujur, ini sangat melelahkan. Menjadi penderita OCD ringan maupun berat itu menguras pikiran dan mempengaruhi kehidupan. Namun, perlahan aku akan sembuh. Ya, aku akan bangkit.

Roman (sa) ArunikaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang